Mengenal Seni Ukir Macan Kurung, Simbol Perlawanan Zaman Kolonial Belanda

JATENG.AKURAT.CO, Mengenal Seni Ukir Macan Kurung, Simbol Perlawanan Zaman Kolonial Belanda.
Selain terdapat pantai yang indah, Kota Jepara dikenal dengan julukan Kota Ukir yang telah mendunia sejak zaman R.A Kartini.
Seni Ukir Jepara memiliki banyak motif dan corak rupa. Tapi ada satu bentuk seni ukir Jepara yang memiliki ciri khas kuat dan cerita sejarah yang menarik.
Baca Juga: Tak Jauh dari Jepara, Ada 5 Rekomendasi Tempat Wisata Bernuansa Pegunungan nan Sejuk
Seni ukir itu adalah Macan Kurung. Salah satu bentuk ukiran yang menjadi simbol perlawanan rakyat Jepara pada masa Kolonial Belanda.
Macan Kurung adalah seni ukir khas Jepara yang berbentuk tiga dimensi dengan ikon seekor macan dengan kaki terikat rantai yang hidup di dalam sebuah kurungan.
Dilansir dari berbagai sumber, karya ukir Macan Kurung berkembang sejak masa RA Kartini dan mengalami kejayaan kurang lebih seabad setelahnya.
Keberadaannya muncul di tengah-tengah sistem pemerintahan kolonial Belanda dan adat istiadat budaya feodal yang kala itu mengekang rakyat Jepara.
Baca Juga: Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara Direnovasi Sesuai Standar FIFA, Target Rampung Oktober 2024
Diduga, kemunculan seni ukir Macan Kurung lahir sebagai simbol perlawanan para pengrajin ukir atas tekanan hidup yang dirasakan akibat sistem pemerintahan kolonial Belanda. Macan di dalam kurungan disimbolkan sebagai penjajah Belanda.
Karya Macan kurung memiliki keunikan tersendiri dalam teknik pembuatannya. Ukiran tersebut dibuat pada sebuah gelondongan kayu utuh tanpa dibelah dan tanpa sambungan.
Karena keunikan-keunikan itulah karya Macan kurung pernah menjadi primadona saat industri ukir Jepara belum terkenal.
Seni Ukir Macan Kurung juga diabadikan pada monumen yang terdapat di perbatasan kabupaten Jepara - Kudus dan perbatasan Jepara - Demak. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 3Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 6Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?










