Jateng

Nemu Ayu atau Sengkala? Ini Arti Bunyi Tokek 1 Sampai 15 Kali Menurut Primbon Jawa

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 23:30 WIB
Nemu Ayu atau Sengkala? Ini Arti Bunyi Tokek 1 Sampai 15 Kali Menurut Primbon Jawa
Foto Ilustrasi - Arti Suara Tokek

JATENG.AKURAT.CO, Suara tokek di malam hari selalu memicu dua reaksi sekaligus: sebagian orang buru-buru menghitung, sebagian lagi buru-buru mencari senter, padahal sains sudah bilang bahwa itu cuma cara tokek mencari pasangan.

Malam itu, Ayu (29) sudah hampir tidur. Lampu kamar dimatikan. Ponsel diletakkan di meja. Lalu dari balik plafon, suara itu datang.

Tok… kek… tok… kek…

Ayu refleks membuka mata. Ia menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh.

Tujuh kali. Berhenti.

Ia langsung bangun, mengambil ponsel, dan membuka grup keluarga. “Ada yang tahu arti tokek bunyi tujuh kali?” tanyanya.

Balasan datang cepat. Ibunya: “Alhamdulillah, itu Nemu Ayu. Rezeki.” Sepupunya: “Katanya sih pertanda dapat kebaikan.” Temannya yang skeptis: “Itu mah cuma tokek lagi cari pacar.”

Ayu tertawa. Tapi ia tetap menyimpan tangkapan layar percakapan itu.

Tujuh kali, dan nama-nama yang tidak pernah diajarkan di sekolah

Dalam primbon Jawa, bunyi tokek memang dihitung. Bukan sekadar dihitung, tapi diberi nama.

Ada istilah-istilah yang terdengar seperti nama orang: Sida Karya, Nemu Asih, Suwung Kepanggih, Nenggala Gering, Nemu Ayu.

Hitungan ganjil biasanya dianggap membawa kabar baik. Hitungan genap sebaliknya. Tapi aturan ini tidak selalu konsisten.

Bunyi satu kali disebut Sida Karya, artinya sukses dalam pekerjaan. Bunyi dua kali disebut Nemu Asih, artinya saling mengasihi. Dua-duanya terdengar baik, padahal satu ganjil dan satu genap.

Yang paling sering dibahas tentu saja angka tujuh. Dalam tradisi Jawa, tujuh dikaitkan dengan kata pitu yang bersanding dengan pitulungan, artinya pertolongan.

Bunyi tujuh kali disebut Nemu Ayu. Nemu berarti menemukan. Ayu berarti kebaikan. Jadi, secara harfiah, Nemu Ayu berarti menemukan kebaikan.

“Kalau tokek bunyi tujuh kali, saya biasanya cuma senyum. Bukan karena percaya seratus persen, tapi karena rasanya menyenangkan saja,” kata Ayu.

Empat dan enam: peringatan yang bikin waspada

Tidak semua hitungan membawa kabar baik.

Bunyi empat kali disebut Sengkala Uningsep. Kata sengkala berarti kesialan atau malapetaka.

Dalam primbon, hitungan ini dipercaya sebagai peringatan akan datangnya masalah keuangan, penurunan kesehatan, atau musibah tak terduga.

Bunyi enam kali lebih berat lagi. Namanya Sengkala Gedhe, kesialan besar.

Mitosnya, suara ini bisa menjadi pertanda perselisihan hebat dalam keluarga atau bahaya yang mengancam keselamatan penghuni rumah.

Ayu pernah mendengar tokek berbunyi enam kali. Waktu itu, ia sedang sendirian di rumah kontrakan.

“Aku sempat merinding. Tapi besoknya cuma banjir di jalan. Nggak ada keributan keluarga. Ya sudah, aku anggap peringatan buat hati-hati aja,” katanya.

Sains: bukan pesan gaib, tapi panggilan kawin

Di balik semua nama dan tafsir itu, ada penjelasan yang jauh lebih sederhana. Tokek jantan mengeluarkan bunyi keras seperti to-kay untuk menarik pasangan.

Suara itu bisa terdengar hingga beberapa meter jauhnya. Tokek juga bersuara saat mempertahankan wilayah atau diri sendiri.

Tokek aktif pada malam hari. Ia memakan serangga, kecoak, nyamuk, dan laba-laba.

Kehadirannya di rumah manusia bukan pertanda apa pun. Ia hanya mencari tempat berlindung dan mangsa.

“Suara tokek adalah panggilan kawin, bukan pesan supernatural,” tulis detikJabar, 10 September 2026.

Jadi, ketika tokek berbunyi tujuh kali di atap rumah Ayu, ia tidak sedang mengirim rezeki. Ia sedang mencoba mendapatkan pasangan.

Kalau pun ada rezeki yang datang setelahnya, itu kebetulan. Bukan sebab-akibat.

Di luar Indonesia, tokek juga dianggap pembawa keberuntungan

Yang menarik, Indonesia tidak sendirian. Di Kamboja, tokek Tokay dianggap sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran.

Konon, jika tokek berbunyi tepat tujuh kali, orang setempat percaya bahwa kamu akan segera menemukan uang, kesuksesan, kesehatan, atau cinta.

Di Taiwan, tokek dianggap sebagai hewan yang membawa keberuntungan. Kehadirannya di sebuah kuil bahkan sempat menjadi berita pada Juni 2026.

Umat menganggapnya sebagai pertanda baik, semacam penjaga yang memastikan keberuntungan bagi mereka yang membiarkannya tinggal.

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tokek sering dikaitkan dengan keberuntungan dan kesuburan.

Di beberapa daerah, arah datangnya suara tokek juga dipercaya membawa makna berbeda: dari dinding timur saat hendak bepergian dianggap baik, dari dinding lain dianggap buruk.

Jadi, mitos tokek bukan hanya milik orang Jawa. Ia hidup di banyak tempat, dengan nama dan aturan yang berbeda-beda.

Ayu akhirnya memilih tidur lagi

Setelah puas membaca grup WhatsApp, Ayu meletakkan ponselnya.

Ia tidak berharap rezeki besar datang besok pagi. Ia juga tidak takut musibah datang siang nanti.

“Aku cuma senang aja dengar tokek. Bapak dulu bilang, kalau tokek bunyi di rumah, artinya rumahnya masih dihuni makhluk hidup. Ya iyalah, wong tokeknya sendiri makhluk hidup,” katanya, lalu tertawa.

Ia menutup selimut. Dari luar, suara tokek sudah berhenti. Mungkin sudah mendapat pasangan.

Mungkin sudah bosan. Mungkin sedang pindah ke atap tetangga.

Ayu tidak peduli. Besok ia harus bangun pagi. Rezeki tidak datang dari hitungan tokek. Rezeki datang dari alarm yang berbunyi tepat waktu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.