Alarm Pertama Bunyi, Tangan Langsung Mencari Tombol Mati: Ada Watak yang Tersembunyi di Situ

JATENG.AKURAT.CO, Cara seseorang mematikan alarm pagi bukan sekadar ritual receh sebelum mandi, tapi cermin kecil tentang disiplin, kecemasan, dan negosiasi terakhir antara keinginan tidur dan tuntutan hidup.
Raka (29) punya kebiasaan yang bikin teman sekamarnya dulu sempat kesal.
Alarm berbunyi pukul 05.30. Tangan Raka bergerak sebelum matanya benar-benar terbuka. Satu tekan. Alarm mati. Ia duduk. Kaki menyentuh lantai. Selesai. Tidak ada snooze. Tidak ada “lima menit lagi”. Tidak ada negosiasi.
“Kalau aku tunda sekali, besok aku tunda dua kali. Jadi aku nggak pernah mulai,” kata pria yang bekerja di perusahaan logistik di Semarang itu, Selasa (20/10/2026).
Sinta (27), teman satu kantornya, punya cerita berbeda. Alarm pertamanya berbunyi pukul 05.00. Ia mematikannya. Tidur lagi. Alarm kedua pukul 05.15. Dimatikan. Tidur lagi. Alarm ketiga, keempat, kelima. Baru pada alarm keenam pukul 06.00 ia benar-benar bangun, itu pun sambil mengeluh.
“Aku tahu ini nggak sehat. Tapi rasanya kayak aku butuh enam kali bilang ke diri sendiri bahwa hari ini benar-benar dimulai,” katanya.
Dua orang. Dua cara mematikan alarm. Dan menurut psikologi, keduanya bukan kebetulan.
Alarm pertama, tangan langsung bergerak: disiplin yang tidak perlu diumumkan
Orang seperti Raka sering dianggap “terlalu rapi” atau “kurang santai”. Padahal, dalam kajian psikologi, kebiasaan langsung bangun saat alarm pertama berbunyi adalah bentuk self-regulation yang paling sederhana: kemampuan menolak kenyamanan jangka pendek demi tujuan jangka panjang.
Jawa Pos (26/5/2026) menulis bahwa orang yang bangun tanpa menekan tombol tunda “cenderung mampu memprioritaskan tujuan dibanding kenyamanan sesaat”.
Mereka tidak membiarkan impuls mengambil alih keputusan. Disiplin itu sering terbawa ke area lain: menjaga jadwal, mengatur keuangan, berolahraga, dan menyelesaikan tanggung jawab tepat waktu.
RRI (24/6/2026) menyebut hal serupa. “Orang yang disiplin akan berkomitmen dengan alarm yang mereka setel setiap harinya. Mereka akan langsung bangun dari tempat tidur, untuk segera memulai aktivitas lainnya,” tulis RRI.
Raka tidak merasa dirinya disiplin. Ia hanya merasa bahwa menunda alarm adalah kebohongan kecil yang mahal.
“Kalau aku bilang ‘lima menit lagi’, sebenarnya aku sedang bilang ‘aku nggak siap menghadapi hari ini’. Dan itu nggak enak,” ujarnya.
Snooze enam kali: perfeksionis yang sedang bernegosiasi dengan hari
Sinta bukan pemalas. Ia justru sering lembur. Ia perfeksionis. Dan menurut psikologi, perfeksionisme justru sering jadi penyebab utama kebiasaan menunda alarm.
Beautynesia (10/2/2026) mengutip psikolog klinis Dr. Alice Connors-Kellgren yang menyebut orang yang sering menunda alarm cenderung kesulitan manajemen waktu.
Mereka memasang alarm lebih awal dari yang dibutuhkan, lalu menundanya beberapa kali sebelum benar-benar bangun.
Dr. Cynthia Shaw menambahkan bahwa perfeksionis ingin bangun di waktu paling ideal, tapi takut gagal, sehingga terus menunda momen bangun yang sesungguhnya.
Ada juga faktor kronotipe. RRI (16/12/2025) menulis bahwa penekan tombol snooze lebih sering adalah night owl — orang yang jam biologisnya lebih aktif di malam hari.
“Bagi night owl yang terpaksa bangun pagi karena tuntutan sosial atau pekerjaan, waktu tidur tambahan beberapa menit menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan tidur yang dirasa kurang,” tulis RRI.
Sinta mengakui itu. “Aku paling produktif jam sebelas malam. Pagi itu musuh. Jadi snooze adalah cara aku bilang: aku belum siap, tapi aku akan siap,” katanya.
Yang menarik, snooze juga dikaitkan dengan kreativitas. Beberapa penelitian menghubungkan kebiasaan ini dengan tingkat kreativitas yang lebih tinggi karena orangnya lebih fleksibel dan tidak terlalu terikat pada aturan kaku.
Tapi harga yang dibayar juga nyata: sleep inertia, rasa lesu dan pening setelah bangun yang membuat fokus menurun sepanjang pagi.
Banyak alarm: cemas, tapi juga terlalu optimis soal waktu
Ada tipe ketiga: orang yang memasang lima sampai tujuh alarm dengan jarak lima menit. Bukan karena ia suka suara alarm. Tapi karena ia tidak percaya pada dirinya sendiri.
RRI (20/4/2026) menyebut kebiasaan memasang banyak alarm sering dikaitkan dengan sifat perfeksionis dan rasa tanggung jawab yang tinggi.
“Mereka tidak ingin melewatkan aktivitas penting, sehingga membuat ‘cadangan’ alarm agar tetap bangun tepat waktu,” tulis RRI.
Tapi ada sisi lain: kecemasan. Jawa Pos (1/2/2026) menulis bahwa kebiasaan memasang banyak alarm “sering berakar untuk menutupi kecemasan mulai dari takut kesiangan, takut gagal produktif, atau takut kehilangan kendali di hari tersebut”.
Jawa Pos (3/2/2026) menambahkan satu ciri yang jarang disadari: time optimism bias. Orang yang memasang banyak alarm cenderung meremehkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bersiap.
Mereka berpikir bisa mandi, berpakaian, dan sarapan dalam lima belas menit, padahal kenyataannya dua kali lipat.
Alarm berlapis itu, dalam banyak kasus, bukan alat disiplin. Ia jaring pengaman untuk perhitungan waktu yang terlalu optimis.
Bangun sebelum alarm: tubuh yang sudah tahu tanpa perlu dipaksa
Ada satu tipe lagi yang jarang dibahas: orang yang terbangun beberapa menit sebelum alarm berbunyi.
RRI (26/9/2026) menjelaskan fenomena ini sebagai self-awakening — kemampuan terbangun pada waktu yang telah ditentukan tanpa bantuan rangsangan luar.
Tinjauan penelitian di PLOS ONE (2023) menemukan bahwa dari 715 peserta, 125 orang melaporkan memiliki kemampuan ini.
Mekanismenya bukan sihir. Ritme sirkadian, kebiasaan waktu tidur dan bangun yang konsisten, serta perubahan fisiologis menjelang waktu bangun berperan besar.
Penelitian dalam BMC Neuroscience (2012) bahkan menemukan peningkatan aliran darah di korteks prefrontal kanan sekitar 30 menit sebelum waktu bangun yang direncanakan.
Orang seperti ini sering dianggap punya “jam internal” yang kuat. Psikologi menyebut mereka cenderung memiliki tingkat disiplin dan konsistensi yang tinggi dalam kebiasaan sehari-hari.
Mereka tidak butuh alarm karena tubuh sudah dilatih untuk tahu kapan harus bangun.
Jam weker: batas antara tidur dan dunia yang berisik
Satu lagi yang masih bertahan di tengah era ponsel: orang yang memakai jam weker.
Jawa Pos (11/2/2026) menyebut kebiasaan ini bukan sekadar gaya. Menurut psikologi, orang yang tetap memakai jam weker “ingin membatasi diri dari notifikasi ponsel saat pagi hari”.
Ini menunjukkan bahwa mereka tegas dalam menjaga mental dan fokus pada diri sendiri. “Memeriksa ponsel dengan segera setelah bangun tidur dapat meningkatkan kecemasan sepanjang hari,” tulis Jawa Pos.
Orang yang memakai jam weker bukan sedang menolak teknologi. Mereka sedang menetapkan batas: antara tidur dan dunia yang berisik, ada jeda yang tidak boleh diganggu.
Yang tidak masuk dalam penelitian: tidur lagi setelah alarm dimatikan
Ada satu kebiasaan yang jarang dibahas dalam daftar-daftar psikologi populer: mematikan alarm, lalu tidur lagi tanpa menekan snooze.
Bukan karena ingin lima menit tambahan. Bukan karena malas. Tapi karena tubuh dan kepala sama-sama belum siap.
RRI (23/5/2026) menyebut kebiasaan mematikan alarm dan kembali tidur berulang kali bisa menjadi tanda coping mechanism negatif. “Secara psikologis, tindakan ini menunjukkan keengganan atau rasa takut untuk menghadapi kenyataan hidup dan rutinitas yang menanti di luar tempat tidur,” tulis RRI.
Kalimat itu terdengar berat. Tapi bagi sebagian orang, ia jujur. Ada pagi-pagi ketika bangun bukan soal disiplin, tapi soal keberanian.
Jadi, cara matikan alarmmu yang mana?
Tidak ada cara yang benar untuk semua orang. Raka yang langsung bangun bukan lebih baik dari Sinta yang butuh enam kali snooze.
Sinta bukan lebih kreatif dari Raka yang bangun sebelum alarm. Mereka hanya punya cara berbeda untuk bernegosiasi dengan pagi.
Yang bisa dibaca dari kebiasaan alarm bukanlah vonis tentang siapa seseorang. Ia hanya petunjuk kecil: apakah kamu orang yang butuh kontrol, butuh kelembutan, butuh jaring pengaman, atau butuh batas.
Dan kalau besok pagi alarmmu berbunyi lagi, coba perhatikan tanganmu. Ke mana ia bergerak lebih dulu: ke tombol mati, ke tombol tunda, atau ke selimut?
Jawaban itu mungkin tidak mengubah hidupmu. Tapi setidaknya kamu tahu, pagi ini, kamu sedang jadi orang yang mana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Daftar Gunung Terbakar Dalam 24 Jam Terakhir Hingga Senin 19 Oktober 2026: Dari Bromo sampai Latimojong
- 2Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo 19 Oktober 2026: Piere Tendean Masih Ditutup! Ini Titik Macet dan Jalur Selamat Hari Ini
- 3Kebakaran Gunung Lawu Capai 140 Hektare, Bagana dan Relawan terus Berjibaku
- 4Lepas 845 Atlet ke Porprov Jateng 2026, Semarang Bidik 190 Emas demi Pertahankan Takhta Juara Umum
- 5Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Ungkap Transformasi Tata Kelola Pupuk yang Berpihak Pada Petani
- 67 Tipe Sandal Jepit ke Warung dan Kepribadiannya—Nomor 7 Bikin Ngakak
- 7Selasa Pagi Meeting Lagi? Ternyata Ini Alasan Kenapa Rasanya Lebih Lama dari Seharusnya
- 8Mahjong Rooftop Clash di Semarang, Louis Kienne Hotel Hadirkan Ruang Hangout dan Kolaborasi Komunitas
- 9Xiaomi Mijia Mesin Cuci 6 Kg Resmi Meluncur, Muat 26 Kaos dan Harganya Cuma Rp1,4 Jutaan
- 10Polda Jateng Sisir Tempat Hiburan Malam di Semarang, Operasi Narkoba Tak Temukan Pelanggaran




