Jateng

“Posisi Terbaik adalah yang Bisa Kamu Tiduri”: Kata Dokter soal Telentang, Miring, dan Tengkurap

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 00:30 WIB
“Posisi Terbaik adalah yang Bisa Kamu Tiduri”: Kata Dokter soal Telentang, Miring, dan Tengkurap
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Posisi tidur telentang, miring, dan tengkurap bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga cermin kecil tentang cara seseorang menghadapi dunia, lengkap dengan risiko kesehatan yang jarang disadari.

Dimas (31) selalu tidur telentang. Bukan karena ia pernah membaca artikel soal spinal alignment.

Bukan karena ia sengaja melatih diri. Sejak kecil, punggungnya menempel kasur, tangannya lurus di samping, dan ia tidak pernah berpindah posisi sampai pagi.

Ibunya dulu bilang, “Anakku ini tidurnya kayak patung.”

Teman-temannya punya komentar lain. “Kamu tidur telentang? Pantas aja kamu orangnya kaku.” Dimas cuma senyum.

Ia tidak merasa kaku. Ia hanya merasa bahwa telentang adalah satu-satunya cara agar kepalanya tidak penuh.

Sari (28), sepupunya, tidur miring. Bukan miring kanan atau kiri yang tetap. Ia berguling sepanjang malam. Kadang meringkuk seperti janin. Kadang lurus seperti balok.

“Aku nggak bisa tidur kalau harus tetap di satu posisi. Rasanya kayak ada yang belum selesai,” katanya.

Dua orang. Dua posisi. Dua cerita yang, menurut psikologi, bukan kebetulan.

Telentang: tenang di luar, keras kepala di dalam

Tidur telentang sering dianggap posisi paling “dewasa”. Tubuh terbuka. Tangan di samping. Tidak ada yang disembunyikan.

RRI (27/2/2026) menulis bahwa orang yang tidur telentang dengan tangan di samping atau di atas perut cenderung tenang dan percaya diri.

“Posisi ini mencerminkan sikap terbuka dan nyaman dengan diri sendiri,” tulis RRI. Mereka umumnya punya standar hidup tinggi, perfeksionis, dan menyukai keteraturan.

CNN Indonesia (14/4/2026) menambahkan bahwa tidur telentang dengan tubuh lurus sering dikaitkan dengan pribadi yang pendiam dan punya standar tertentu terhadap diri sendiri maupun lingkungan.

Tapi ada sisi lain. Daily Mail (3/3/2026) mengutip psikolog Melissa Legere yang menyebut back sleepers “lebih percaya diri dan stabil secara emosional”.

Times Now News (23/5/2026) menyebut mereka “rutin-oriented dan kurang reaktif secara emosional saat stres”.

Kelebihannya jelas. Dari sisi kesehatan, tidur telentang sering disebut “gold standard” untuk netralitas tulang belakang.

Confluent Health (2/3/2026) menyebut posisi ini mendistribusikan berat tubuh paling merata dan meminimalkan deviasi tulang belakang.

Ubie (9/10/2026) menyarankan bantal di bawah lutut untuk menjaga lengkung punggung bawah tetap alami.

Masalahnya, telentang juga punya daftar kekurangan yang tidak pendek. Ia meningkatkan risiko ngorok dan sleep apnea karena lidah bisa jatuh ke belakang dan menyempitkan jalan napas.

BlackDoctor (17/6/2026) mencatat bahwa telentang juga bisa memperburuk refluks asam lambung dan meningkatkan tekanan pada beberapa jenis nyeri punggung.

Dan yang paling sering dialami anak kos: ketindihan. iNews (9/8/2026) mengutip dr. Cecep yang menyebut tidur telentang sebagai salah satu pemicu sleep paralysis.

“Coba tidur miring, jangan telentang. Ini yang paling banyak dilaporin ngebantu buat nyegah,” katanya.

Dimas pernah mengalaminya. “Dulu sering ketindihan. Tapi aku nggak pernah mikir itu karena posisi tidur. Aku pikir cuma kecapekan,” akunya.

Miring: tukang akur yang menyimpan tegang di bahu

Tidur miring adalah posisi paling umum. Sebagian besar orang menghabiskan lebih dari separuh malamnya dengan posisi ini.

Dari sisi kepribadian, RRI (24/9/2026) mengutip ilmuwan tidur Chris Idzikowski yang menyebut orang yang tidur menyamping lurus cenderung mudah bergaul, terbuka, dan ramah.

CNN Indonesia (9/9/2026) menambahkan bahwa posisi ini sering dikaitkan dengan pribadi yang kooperatif dan tidak suka konflik.

Tapi ada harga yang dibayar. Daily Mail (3/3/2026) menyebut side sleepers bisa membawa ketegangan di tubuh, terutama di bahu dan pinggul. “Ini mengisyaratkan stres yang mereka kelola saat bangun,” kata Legere.

Sari merasakan itu. Ia mudah bergaul. Ia jarang bertengkar. Tapi bahunya sering pegal saat bangun. “Aku pikir karena tas kerja. Ternyata mungkin karena posisi tidur,” katanya.

Dari sisi kesehatan, miring punya banyak keunggulan. UH Hospitals (24/4/2026) menyebut side sleeping mengurangi ngorok dan sleep apnea ringan.

Confluent Health (2/3/2026) menyebut posisi ini sangat efektif untuk kesehatan pernapasan dan pencernaan.

Miring kiri sering direkomendasikan untuk penderita GERD. RRI (11/3/2026) menulis bahwa tidur miring ke kiri membantu proses pencernaan karena lambung berada di bawah kerongkongan.

Asam lambung juga lebih cepat dibersihkan, sekitar 35 detik, dibandingkan miring kanan yang bisa mencapai 90 detik.

Tapi miring juga bukan tanpa cela. Ia memberi tekanan pada bahu. Ia bisa memperparah nyeri bahu tertentu. Dan tanpa bantal yang tepat, pinggul bisa ikut berputar dan menarik punggung bawah.

Tengkurap: berani di luar, cemas di dalam

Tidur tengkurap adalah posisi yang paling sering dihindari ahli kesehatan. Tapi bukan berarti tidak ada yang memilihnya.

RRI (27/2/2026) menyebut orang yang tidur tengkurap sebagai pribadi yang berani, ekspresif, dan tidak suka diatur. “Posisi ini mencerminkan keinginan untuk mengendalikan situasi,” tulis RRI.

Tapi ada kontradiksi. Daily Mail (3/3/2026) menyebut stomach sleeping justru dikaitkan dengan defensif dan sensitif terhadap kritik. “Peneliti menunjukkan kecenderungan stomach sleepers merasa kewalahan dan kehilangan kendali dalam hidup mereka,” tulis Daily Mail.

Times Now News (23/5/2026) menambahkan bahwa orang yang tidur tengkurap dengan tangan terbuka sering terlihat sosial di siang hari, tapi menyimpan kecemasan atau ketegangan emosional di dalam.

Dari sisi kesehatan, tengkurap hampir selalu masuk daftar paling buruk. Confluent Health (2/3/2026) menyebut posisi ini “umumnya tidak dianjurkan oleh penyedia layanan kesehatan” karena leher harus berputar 90 derajat selama berjam-jam.

Klik Medika (22/8/2026) menulis bahwa tengkurap bisa membuat leher kaku, bahu tegang, dan punggung pegal.

Ubie (9/10/2026) menyebut tengkurap biasanya memperburuk nyeri punggung karena tulang belakang kehilangan lengkung alaminya. Kompas (10/4/2026) bahkan mengangkat sisi adab: dalam Islam, tidur tengkurap disebut makruh, meski tidak sampai haram.

Tapi bagi sebagian orang, tengkurap adalah satu-satunya cara untuk merasa aman. Bukan karena mereka tidak tahu risikonya. Tapi karena tubuh punya logikanya sendiri.

Jadi, posisi mana yang paling benar?

Tidak ada jawaban tunggal.

UH Hospitals (24/4/2026) mengutip Dr. Kingman Strohl yang mengatakan, “Posisi terbaik adalah posisi yang benar-benar bisa kamu tiduri”.

Ia juga mengingatkan bahwa posisi tidur bisa berubah seiring usia. “Kalau kamu tidur miring kanan saat berusia 18, belum tentu saat berusia 70.”

Yang bisa dilakukan adalah mengenali tubuh sendiri. Kalau sering ngorok, coba miring.

Kalau sering ketindihan, hindari telentang. Kalau punggung pegal setiap pagi, cek posisi tengkurap dan bantal yang dipakai.

Dan kalau ada yang bilang posisi tidurmu aneh, tidak perlu berdebat. Cukup bilang: “Ini bukan kebiasaan. Ini cara tubuhku bertahan.”

Dimas masih tidur telentang. Sari masih berguling sepanjang malam. Tidak ada yang salah dari keduanya. Yang salah adalah menganggap ada satu posisi yang cocok untuk semua orang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.