Jateng

Bukan Lapar, Cuma Butuh Dopamin: Ilmuwan Jelaskan Kebiasaan Buka Kulkas Jam 2 Pagi

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 01:00 WIB
Bukan Lapar, Cuma Butuh Dopamin: Ilmuwan Jelaskan Kebiasaan Buka Kulkas Jam 2 Pagi
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Ada satu spesies manusia urban yang malam-malam suka berdiri di depan kulkas, membuka pintunya, menatap isi dalamnya yang cuma sisa nasi, sepotong timun, dan wadah misterius tanpa label, lalu menutupnya lagi tanpa mengambil apa pun.

Lima menit kemudian, dia kembali. Membuka pintu yang sama. Menatap isi yang sama. Dan tetap pulang dengan tangan kosong.

Kebiasaan ini bukan soal lapar. Perutnya kenyang. Otaknya yang sedang kelaparan.

Bukan lapar makanan, tapi lapar stimulasi kecil, rasa penasaran, dan dopamin yang murah.

Psikologi punya nama untuk fenomena ini: hedonic hunger. Dorongan untuk mencari kesenangan dan reward, bukan energi fisik semata.

Kulkas berubah jadi pemicu psikologis. Bukan karena isinya berubah dalam tujuh menit terakhir, tapi karena otak sudah terlanjur mengasosiasikan pintu kulkas dengan jeda kecil dari rutinitas yang membosankan.

Studi yang dipublikasikan di Psychological Reports April 2026 menemukan bahwa kebosanan memang membuat orang lebih cenderung ngemil meski secara fisik tidak lapar.

Otak yang jenuh akan mencari stimulasi apa pun. Bahkan stimulasi itu datangnya dari lampu kulkas yang menyala dan suara klik pintu yang terbuka.

Di sisi lain, tubuh punya alasan biologis sendiri. Hormon ghrelin, pemicu rasa lapar, memang naik di sore hingga malam. Sementara hormon kenyang seperti GLP-1 dan GIP bekerja kurang efektif di malam hari.

Jadi, porsi makan yang sama bisa terasa kurang memuaskan saat malam. Bukan salah willpower. Ini soal jam tubuh yang memang sudah diatur sedemikian rupa.

Seorang ibu rumah tangga di Kompasiana menulis pengalamannya.

Setiap jam sembilan malam, dia “menyerbu” kulkas, mencari camilan manis. Bukan karena perut lapar.

Tapi karena itu satu-satunya momen dalam sehari yang benar-benar terasa miliknya sendiri. “Yang lapar itu kepala,” tulisnya.

Momen di depan kulkas itu sering jadi ritual penutup hari. Semacam self-signaling bahwa bagian hari yang melelahkan sudah selesai, dan sekarang boleh berhenti sejenak.

Ada juga yang menyebutnya “ronda malam” ke dapur, rutinitas kecil untuk mengecek sisa makanan dan memastikan dunia baik-baik saja sebelum tidur.

Tentu ada versi ekstremnya. Dokter di Taiwan menyebut kasus Sleep-Related Eating Disorder (SRED), di mana orang bangun tengah malam, membuka kulkas, bahkan memasak, tapi esoknya tidak ingat apa pun. Itu ranah medis.

Tapi bagi sebagian besar orang, kebiasaan buka kulkas tengah malam cuma soal otak yang butuh recharge singkat, bukan gangguan tidur.

Ada juga cerita viral tentang kulkas pintar yang mencatat pintunya dibuka empat kali antara jam 2 dan 3 pagi.

Pemiliknya mengira istrinya tidur pulas. Ternyata kulkas lebih jujur daripada manusia. Tapi itu cerita lain.

Yang jelas, berdiri di depan kulkas tengah malam tanpa alasan bukan tanda lemahnya tekad.

Itu tanda otak sedang mencari sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh layar ponsel: kejutan kecil, rasa kemungkinan, dan lampu yang menyala setiap kali pintu dibuka.

Kulkas tidak pernah berubah. Tapi harapan bahwa kali ini ada sesuatu yang berbeda, entah kue sisa atau keajaiban kecil, selalu cukup untuk membuat tangan meraih gagang pintu sekali lagi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.