Jateng

Night Owl Bukan Pemalas: Ini Watak Orang yang Suka Begadang di Hari Kamis

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 00:15 WIB
Night Owl Bukan Pemalas: Ini Watak Orang yang Suka Begadang di Hari Kamis
Foto Ilustrasi - Begadang

JATENG.AKURAT.CO, Orang yang begadang di hari Kamis malam sering dicap tidak disiplin atau sedang menunggu sesuatu yang gaib, padahal psikologi bilang mereka sedang melakukan negosiasi terakhir dengan waktu yang seharian dikuasai orang lain.

Rani (28) punya ritual yang tidak pernah ia tulis di kalender.

Setiap Kamis malam, setelah semua pekerjaan selesai dan rumah sudah sepi, ia duduk di depan laptop. Bukan untuk lembur. Bukan untuk rapat. Ia menonton serial lama, membaca artikel random, atau sekadar menulis jurnal setengah hati.

Jam dua pagi, ia baru mematikan lampu.

“Besok kan Jumat. Rasanya beda aja. Kamis itu kayak pintu darurat sebelum akhir pekan,” kata perempuan yang bekerja di perusahaan logistik di Semarang itu, Kamis (21/10/2026).

Ibunya dulu sering mengingatkan. “Malam Jumat itu malamnya para leluhur. Jangan begadang.” Rani cuma senyum. Ia tidak sedang menunggu leluhur. Ia sedang menunggu dirinya sendiri pulang.

Kamis malam bukan malam mistis, tapi malam negosiasi

Dalam tradisi Jawa, Kamis malam atau malam Jumat memang punya tempat khusus.

Ada yang mengaitkannya dengan waktu untuk tirakat, ada yang menghindari begadang karena percaya hal-hal gaib lebih aktif. Tapi bagi pekerja muda seperti Rani, maknanya sudah bergeser.

Kamis malam adalah malam ketika besok masih terasa bisa diatur. Jumat sering kali lebih longgar: rapat lebih sedikit, suasana kantor lebih santai, dan sebagian orang sudah mulai berpikir soal akhir pekan. Kamis malam menjadi ruang transisi. Bukan hari kerja penuh. Bukan hari libur penuh.

Rani merasakan itu. “Senin sampai Kamis siang itu bukan waktuku. Itu waktunya meeting, waktunya atasan, waktunya chat yang harus dibalas. Kamis malam baru aku bisa tarik napas,” ujarnya.

Psikologi menyebut fenomena ini revenge bedtime procrastination. RRI (14/6/2026) menjelaskan bahwa perilaku ini muncul karena perasaan kehilangan kendali atas waktu di siang hari, sehingga malam dijadikan ruang untuk “mengambil kembali” kebebasan. Bukan karena tidak mengantuk, tapi karena ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Kamis malam, bagi Rani, adalah bentuk negosiasi terakhir. Ia sudah memberikan hampir seluruh minggunya. Ia ingin mengambil sedikit lagi sebelum Jumat datang.

Night owl bukan pemalas, tapi ada dua jenis yang harus dibedakan

Rani bukan satu-satunya. Banyak orang dengan chronotype malam merasa lebih fokus dan kreatif saat matahari sudah hilang.

Jurnal Aceh (14/8/2026) menegaskan bahwa kebiasaan begadang tidak otomatis mencerminkan kemalasan.

Penyuka malam justru sering menikmati ketenangan, fleksibel, dan punya kecenderungan pemikir kreatif.

Tapi tidak semua night owl sama.

Studi McGill University yang dipublikasikan di Nature Communications dan diliput Scientific American (9/7/2026) menemukan setidaknya tiga subtipe night owl.

Subtipe pertama disebut high-performance night owl: lebih berani mengambil risiko, punya kesulitan regulasi emosi, tapi performa kognitifnya lebih tinggi.

Subtipe kedua disebut vulnerable night owl: lebih santai, kurang aktivitas fisik, dan lebih rentan mengalami depresi, penyakit jantung, serta diabetes.

Subtipe ketiga didominasi laki-laki dan cenderung mengonsumsi lebih banyak rokok serta alkohol.

Rani mungkin masuk kategori pertama. Ia produktif, tapi emosinya naik turun. Ia bisa menyelesaikan laporan tengah malam, tapi besok paginya mudah tersinggung hanya karena email yang salah kirim.

“Kalau aku kurang tidur, aku bukan cuma ngantuk. Aku jadi orang yang nggak sabaran. Beda banget sama aku yang jam sebelas siang,” akunya.

Harga yang dibayar night owl: cemas dan sepi

Ada satu hal yang jarang dibahas dalam cerita-cerita romantis tentang begadang. Night owl cenderung lebih rentan terhadap kecemasan dan kesepian.

HealthDay (4/6/2026) melaporkan penelitian terhadap 442 orang yang menemukan bahwa orang dengan jadwal tidur larut melaporkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Kesepian di malam hari sebagian menjelaskan hubungan itu.

Rani tidak merasa kesepian. Tapi ia mengakui ada momen-momen aneh sekitar jam satu pagi, ketika grup WhatsApp sudah sunyi, timeline media sosial mulai kosong, dan ia sadar bahwa besok ia harus bangun pagi.

“Kadang aku mikir, kenapa aku masih bangun? Tapi kalau aku tidur, besok langsung Jumat. Rasanya kayak kehilangan sesuatu,” ujarnya.

Kompas.com (19/8/2026) mengingatkan bahwa ada perbedaan antara merasa lebih fokus pada malam hari dan memaksa diri tetap terjaga.

Yang pertama bisa jadi bagian dari chronotype. Yang kedua berpotensi membuat seseorang kekurangan tidur dan sulit berkonsultasi keesokan harinya.

Rani belum bisa membedakan keduanya. Ia hanya tahu bahwa Kamis malam terasa berbeda. Dan ia belum siap melepasnya.

Yang diambil kembali bukan waktu, tapi rasa memiliki

Pada akhirnya, Kamis malam bagi Rani bukan soal film yang ia tonton atau artikel yang ia baca. Bukan soal mistis atau leluhur. Bukan soal produktivitas atau kreativitas.

Yang ia ambil kembali adalah rasa bahwa ada satu malam dalam seminggu yang benar-benar miliknya.

Bukan milik pekerjaan. Bukan milik keluarga. Bukan milik ekspektasi orang lain.

“Aku tahu ini nggak sehat. Tapi kalau aku nggak begadang Kamis malam, rasanya minggu ini nggak pernah benar-benar jadi milikku,” katanya.

Kalimat itu mungkin terdengar seperti pembenaran. Tapi di dalamnya ada sesuatu yang jujur: kadang orang begadang bukan karena menolak tidur, tapi karena menolak menyerahkan seluruh hidupnya pada jadwal yang dibuat orang lain.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.