Night Owl Bukan Pemalas: Ini Watak Orang yang Suka Begadang di Hari Kamis

JATENG.AKURAT.CO, Orang yang begadang di hari Kamis malam sering dicap tidak disiplin atau sedang menunggu sesuatu yang gaib, padahal psikologi bilang mereka sedang melakukan negosiasi terakhir dengan waktu yang seharian dikuasai orang lain.
Rani (28) punya ritual yang tidak pernah ia tulis di kalender.
Setiap Kamis malam, setelah semua pekerjaan selesai dan rumah sudah sepi, ia duduk di depan laptop. Bukan untuk lembur. Bukan untuk rapat. Ia menonton serial lama, membaca artikel random, atau sekadar menulis jurnal setengah hati.
Jam dua pagi, ia baru mematikan lampu.
“Besok kan Jumat. Rasanya beda aja. Kamis itu kayak pintu darurat sebelum akhir pekan,” kata perempuan yang bekerja di perusahaan logistik di Semarang itu, Kamis (21/10/2026).
Ibunya dulu sering mengingatkan. “Malam Jumat itu malamnya para leluhur. Jangan begadang.” Rani cuma senyum. Ia tidak sedang menunggu leluhur. Ia sedang menunggu dirinya sendiri pulang.
Kamis malam bukan malam mistis, tapi malam negosiasi
Dalam tradisi Jawa, Kamis malam atau malam Jumat memang punya tempat khusus.
Ada yang mengaitkannya dengan waktu untuk tirakat, ada yang menghindari begadang karena percaya hal-hal gaib lebih aktif. Tapi bagi pekerja muda seperti Rani, maknanya sudah bergeser.
Kamis malam adalah malam ketika besok masih terasa bisa diatur. Jumat sering kali lebih longgar: rapat lebih sedikit, suasana kantor lebih santai, dan sebagian orang sudah mulai berpikir soal akhir pekan. Kamis malam menjadi ruang transisi. Bukan hari kerja penuh. Bukan hari libur penuh.
Rani merasakan itu. “Senin sampai Kamis siang itu bukan waktuku. Itu waktunya meeting, waktunya atasan, waktunya chat yang harus dibalas. Kamis malam baru aku bisa tarik napas,” ujarnya.
Psikologi menyebut fenomena ini revenge bedtime procrastination. RRI (14/6/2026) menjelaskan bahwa perilaku ini muncul karena perasaan kehilangan kendali atas waktu di siang hari, sehingga malam dijadikan ruang untuk “mengambil kembali” kebebasan. Bukan karena tidak mengantuk, tapi karena ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Kamis malam, bagi Rani, adalah bentuk negosiasi terakhir. Ia sudah memberikan hampir seluruh minggunya. Ia ingin mengambil sedikit lagi sebelum Jumat datang.
Night owl bukan pemalas, tapi ada dua jenis yang harus dibedakan
Rani bukan satu-satunya. Banyak orang dengan chronotype malam merasa lebih fokus dan kreatif saat matahari sudah hilang.
Jurnal Aceh (14/8/2026) menegaskan bahwa kebiasaan begadang tidak otomatis mencerminkan kemalasan.
Penyuka malam justru sering menikmati ketenangan, fleksibel, dan punya kecenderungan pemikir kreatif.
Tapi tidak semua night owl sama.
Studi McGill University yang dipublikasikan di Nature Communications dan diliput Scientific American (9/7/2026) menemukan setidaknya tiga subtipe night owl.
Subtipe pertama disebut high-performance night owl: lebih berani mengambil risiko, punya kesulitan regulasi emosi, tapi performa kognitifnya lebih tinggi.
Subtipe kedua disebut vulnerable night owl: lebih santai, kurang aktivitas fisik, dan lebih rentan mengalami depresi, penyakit jantung, serta diabetes.
Subtipe ketiga didominasi laki-laki dan cenderung mengonsumsi lebih banyak rokok serta alkohol.
Rani mungkin masuk kategori pertama. Ia produktif, tapi emosinya naik turun. Ia bisa menyelesaikan laporan tengah malam, tapi besok paginya mudah tersinggung hanya karena email yang salah kirim.
“Kalau aku kurang tidur, aku bukan cuma ngantuk. Aku jadi orang yang nggak sabaran. Beda banget sama aku yang jam sebelas siang,” akunya.
Harga yang dibayar night owl: cemas dan sepi
Ada satu hal yang jarang dibahas dalam cerita-cerita romantis tentang begadang. Night owl cenderung lebih rentan terhadap kecemasan dan kesepian.
HealthDay (4/6/2026) melaporkan penelitian terhadap 442 orang yang menemukan bahwa orang dengan jadwal tidur larut melaporkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Kesepian di malam hari sebagian menjelaskan hubungan itu.
Rani tidak merasa kesepian. Tapi ia mengakui ada momen-momen aneh sekitar jam satu pagi, ketika grup WhatsApp sudah sunyi, timeline media sosial mulai kosong, dan ia sadar bahwa besok ia harus bangun pagi.
“Kadang aku mikir, kenapa aku masih bangun? Tapi kalau aku tidur, besok langsung Jumat. Rasanya kayak kehilangan sesuatu,” ujarnya.
Kompas.com (19/8/2026) mengingatkan bahwa ada perbedaan antara merasa lebih fokus pada malam hari dan memaksa diri tetap terjaga.
Yang pertama bisa jadi bagian dari chronotype. Yang kedua berpotensi membuat seseorang kekurangan tidur dan sulit berkonsultasi keesokan harinya.
Rani belum bisa membedakan keduanya. Ia hanya tahu bahwa Kamis malam terasa berbeda. Dan ia belum siap melepasnya.
Yang diambil kembali bukan waktu, tapi rasa memiliki
Pada akhirnya, Kamis malam bagi Rani bukan soal film yang ia tonton atau artikel yang ia baca. Bukan soal mistis atau leluhur. Bukan soal produktivitas atau kreativitas.
Yang ia ambil kembali adalah rasa bahwa ada satu malam dalam seminggu yang benar-benar miliknya.
Bukan milik pekerjaan. Bukan milik keluarga. Bukan milik ekspektasi orang lain.
“Aku tahu ini nggak sehat. Tapi kalau aku nggak begadang Kamis malam, rasanya minggu ini nggak pernah benar-benar jadi milikku,” katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar seperti pembenaran. Tapi di dalamnya ada sesuatu yang jujur: kadang orang begadang bukan karena menolak tidur, tapi karena menolak menyerahkan seluruh hidupnya pada jadwal yang dibuat orang lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Daftar Gunung Terbakar Dalam 24 Jam Terakhir Hingga Senin 19 Oktober 2026: Dari Bromo sampai Latimojong
- 2Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo 19 Oktober 2026: Piere Tendean Masih Ditutup! Ini Titik Macet dan Jalur Selamat Hari Ini
- 3Kebakaran Gunung Lawu Capai 140 Hektare, Bagana dan Relawan terus Berjibaku
- 4Lepas 845 Atlet ke Porprov Jateng 2026, Semarang Bidik 190 Emas demi Pertahankan Takhta Juara Umum
- 5Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Ungkap Transformasi Tata Kelola Pupuk yang Berpihak Pada Petani
- 67 Tipe Sandal Jepit ke Warung dan Kepribadiannya—Nomor 7 Bikin Ngakak
- 7Selasa Pagi Meeting Lagi? Ternyata Ini Alasan Kenapa Rasanya Lebih Lama dari Seharusnya
- 8Mahjong Rooftop Clash di Semarang, Louis Kienne Hotel Hadirkan Ruang Hangout dan Kolaborasi Komunitas
- 9Xiaomi Mijia Mesin Cuci 6 Kg Resmi Meluncur, Muat 26 Kaos dan Harganya Cuma Rp1,4 Jutaan
- 10Polda Jateng Sisir Tempat Hiburan Malam di Semarang, Operasi Narkoba Tak Temukan Pelanggaran




