Kabut Tebal Turun di Dieng, Sayup-Sayup Gamelan Berbunyi: Warga Cuma Senyum, Turis Langsung Merinding

JATENG.AKURAT.CO, Suara gamelan yang terdengar samar dari arah kompleks Candi Arjuna setiap kali kabut tebal menyelimuti Dieng bukan sekadar cerita horor wisata, melainkan mitos lama yang sampai sekarang masih dirawat warga, meski belum pernah ada yang bisa membuktikannya secara ilmiah.
Rina (27) tidak pernah menyangka sore itu akan jadi cerita yang ia ulang berkali-kali.
Ia sedang berjalan sendirian di jalur setapak menuju kompleks Candi Arjuna. Kabut turun cepat, seperti selimut putih yang ditarik dari langit. Pandangan terbatas. Suara langkahnya sendiri terdengar aneh, memantul di antara batu-batu andesit yang sudah berdiri sejak abad ke-7.
Lalu, dari kejauhan, terdengar sesuatu.
Bukan suara angin. Bukan suara burung. Sesuatu yang ritmis. Seperti tabuhan gamelan. Lirih. Samar. Tapi cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya berdiri.
“Aku berhenti. Kupikir ada acara adat. Tapi setelah kulihat sekeliling, nggak ada siapa-siapa. Nggak ada panggung. Nggak ada soundsystem. Cuma kabut,” kata Rina, Selasa (20/10/2026).
Ia mempercepat langkah. Sampai di penginapan, ia bertanya pada pemiliknya. Jawabannya sederhana, dan justru membuat Rina makin merinding.
“Itu sudah biasa, Mbak. Kalau kabutnya tebal, kadang terdengar suara gamelan. Warga sini sudah nggak kaget.”
Bukan cerita baru, tapi selalu baru bagi yang mendengar
Di Dieng, suara gamelan dalam kabut bukan hal yang bisa dibilang langka. Cerita ini sudah ada sejak lama, diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.
Bidik Ekspres (18/5/2026) mencatat bahwa di kawasan Ondo Budha, jalur batu kuno yang dipercaya sebagai jalan suci para pendeta, tidak sedikit pendaki atau peziarah yang mengaku mendengar suara gamelan samar, bau dupa, hingga melihat sosok berjubah muncul saat kabut turun tebal.
“Meski sulit dibuktikan secara ilmiah, kisah-kisah itu justru memperkuat aura misterius kawasan Dieng,” tulis laporan itu.
Yang menarik, cerita ini tidak hanya beredar di kalangan wisatawan. Warga lokal juga mengalaminya. Tapi reaksi mereka berbeda. Wisatawan merinding. Warga cuma senyum.
“Kadang saya dengar sendiri. Tapi saya nggak pernah cerita ke tamu, nanti mereka nggak mau keluar kamar,” kata Joko, seorang pemandu wisata lokal yang sudah dua puluh tahun tinggal di Dieng.
Gunung Bismo dan Pasar Gaib: cerita yang sama, lokasi berbeda
Dieng bukan cuma Candi Arjuna. Di lereng Gunung Bismo, cerita serupa juga hidup.
Lahat Pos (6/8/2026) melaporkan bahwa para pendaki sering mendengar gema alunan gamelan Jawa di tengah hutan, terutama saat malam dan kabut tebal.
Suara itu digambarkan sebagai nada gending yang mendayu-dayu, terdengar samar dari pos bayangan, padahal lokasi itu jauh dari permukiman.
“Fenomena aneh ini sering dikaitkan dengan keberadaan ‘Pasar Gaib’ yang dipercaya berada di salah satu sudut lereng gunung,” tulis laporan itu.
Pasar Gaib. Pasar hantu. Pasar yang katanya hanya muncul saat kabut turun.
Di sana, konon ada aktivitas seperti pasar manusia: suara orang berbincang, tawa, dan gamelan yang mengiringi. Tapi begitu didekati, semuanya hilang.
Cerita ini tidak unik untuk Dieng. Gunung Arjuno di Jawa Timur punya mitos serupa.
Tapi di Dieng, cerita ini terasa lebih hidup karena kabutnya memang sering turun tiba-tiba, dan candi-candinya memang berdiri di tengah lanskap yang terasa seperti dunia lain.
Penjelasan yang tidak mistis: angin, batu, dan resonansi
Tidak semua orang percaya pada penjelasan gaib. Sebagian ahli menawarkan penjelasan yang lebih duniawi.
Dieng berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Angin bertiup kencang, terutama saat kabut turun.
Angin yang melewati celah-celah batu candi, rongga-rongga andesit, dan lembah sempit bisa menciptakan resonansi.
Dalam kondisi tertentu, resonansi itu bisa terdengar seperti nada-nada rendah yang ritmis, mirip tabuhan gamelan.
Fenomena ini mirip dengan “nyanyian pasir” di gurun atau “suara hantu” di beberapa kawah gunung. Bukan karena ada makhluk halus, tapi karena fisika.
Ada juga faktor psikologis. Kabut tebal mengurangi jarak pandang. Suara-suara kecil terdengar lebih besar. Angin yang tadinya biasa saja bisa terasa seperti bisikan.
Ditambah cerita-cerita yang sudah ada sebelumnya, otak manusia cenderung mencari pola yang sudah dikenal.
Kalau kita sudah mendengar cerita tentang gamelan gaib, maka suara angin pun bisa terdengar seperti gamelan.
“Ekspektasi mempengaruhi persepsi,” kata seorang psikolog yang pernah meneliti fenomena ini, tapi tidak mau disebut namanya.
Mengapa mitos ini bertahan?
Mitos gamelan gaib di Dieng bertahan bukan karena buktinya kuat. Tapi karena ia melakukan sesuatu yang penting bagi masyarakat: ia menjelaskan hal yang tidak bisa dijelaskan.
Dieng adalah tempat yang aneh. Candi-candinya tua. Kabutnya pekat. Gempa bumi dan letusan gunung pernah menghancurkan peradaban di sana.
Tanahnya mengandung belerang. Anak-anak lahir dengan rambut gimbal yang dianggap titipan leluhur. Dalam lanskap seperti itu, cerita tentang gamelan gaib bukanlah hal yang mengada-ada.
Ia adalah cara untuk mengatakan: tempat ini punya sejarah yang lebih tua dari kita, dan kita tidak sendirian di sini.
Bagi warga, mitos ini juga berfungsi sebagai pengingat etika. Banyak pendaki yang mengaku tersesat setelah mendengar gamelan karena melanggar pantangan: bersiul, memakai baju kuning, atau berlaku sombong.
Apakah itu benar? Sulit dibuktikan. Tapi efeknya nyata: orang jadi lebih hati-hati.
Rina akhirnya bertanya pada warga
Setelah malam itu, Rina tidak bisa tidur. Ia penasaran. Keesokan paginya, ia menemui seorang sesepuh kampung. Ia bertanya tentang suara gamelan.
Orang tua itu tidak menjawab dengan cerita horor. Ia justru tersenyum.
“Nak, Dieng ini sudah tua. Banyak yang pernah tinggal di sini. Kadang mereka masih ingin didengar,” katanya.
Rina tidak tahu apakah itu jawaban yang memuaskan. Tapi ia pulang dengan perasaan aneh: takut, tapi juga kagum.
Ia tidak percaya pada tuyul atau santet. Tapi ia juga tidak bisa menjelaskan apa yang ia dengar malam itu.
“Mungkin itu angin. Mungkin itu resonansi batu. Mungkin itu cuma imajinasiku. Tapi sampai sekarang, kalau ingat suara itu, bulu kudukku masih berdiri,” katanya.
Dieng memang begitu. Ia tidak pernah memberi jawaban yang mudah. Ia hanya memberi kabut, batu tua, dan suara-suara yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Daftar Gunung Terbakar Dalam 24 Jam Terakhir Hingga Senin 19 Oktober 2026: Dari Bromo sampai Latimojong
- 2Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo 19 Oktober 2026: Piere Tendean Masih Ditutup! Ini Titik Macet dan Jalur Selamat Hari Ini
- 3Kebakaran Gunung Lawu Capai 140 Hektare, Bagana dan Relawan terus Berjibaku
- 4Lepas 845 Atlet ke Porprov Jateng 2026, Semarang Bidik 190 Emas demi Pertahankan Takhta Juara Umum
- 5Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Ungkap Transformasi Tata Kelola Pupuk yang Berpihak Pada Petani
- 67 Tipe Sandal Jepit ke Warung dan Kepribadiannya—Nomor 7 Bikin Ngakak
- 7Selasa Pagi Meeting Lagi? Ternyata Ini Alasan Kenapa Rasanya Lebih Lama dari Seharusnya
- 8Xiaomi Mijia Mesin Cuci 6 Kg Resmi Meluncur, Muat 26 Kaos dan Harganya Cuma Rp1,4 Jutaan
- 9Polda Jateng Sisir Tempat Hiburan Malam di Semarang, Operasi Narkoba Tak Temukan Pelanggaran
- 10Mahjong Rooftop Clash di Semarang, Louis Kienne Hotel Hadirkan Ruang Hangout dan Kolaborasi Komunitas




