Jateng

Tetangga Baru Beli Mobil Mewah, Tapi Rumahnya Dicat Warna Warni: Benarkah Itu Ciri Pesugihan Tuyul?

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 22:00 WIB
Tetangga Baru Beli Mobil Mewah, Tapi Rumahnya Dicat Warna Warni: Benarkah Itu Ciri Pesugihan Tuyul?
Foto Ilustrasi - Ciri-ciri Pesugihan Tuyul

JATENG.AKURAT.CO, Di tengah ekonomi yang makin sesak, mitos pesugihan tuyul kembali naik ke permukaan, lengkap dengan daftar ciri rumah dan cara menangkalnya yang diwariskan dari mulut ke mulut, meski tak satu pun pernah terbukti secara ilmiah.

Sari (34) mulai curiga sejak bulan lalu.

Di kampungnya, sebuah rumah lama yang sudah bertahun-tahun kosong tiba-tiba direnovasi. Catnya diganti warna kuning terang, pagarnya hijau stabilo, dan jendelanya biru muda. Pemilik barunya jarang keluar. Tapi mobilnya selalu baru.

“Aku bukan orang yang gampang nuduh. Tapi tetangga-tetangga sudah bisik-bisik. Katanya, rumah itu ‘ada isinya’,” katanya.

Ia tidak tahu apa itu “ada isinya”. Ia hanya mendengar potongan kalimat: tuyul, pesugihan, sesajen. Kalimat yang dulu hanya muncul di sinetron, sekarang terasa lebih dekat.

Mitos yang tak pernah benar-benar mati

Pesugihan tuyul bukan cerita baru. Ia sudah ada sejak lama, diwariskan dari generasi ke generasi, dari cerita rakyat ke grup WhatsApp.

Tuyul digambarkan sebagai makhluk kecil berkepala botak, mirip anak-anak, yang dipercaya bisa mencuri uang untuk memperkaya pemiliknya.

“Tuyul menjadi salah satu sosok paling populer dalam cerita pesugihan di Indonesia,” tulis Medan Insight.

Yang membuat mitos ini bertahan bukan karena buktinya. Tapi karena ia menjelaskan sesuatu yang sulit dijelaskan: mengapa ada orang yang tiba-tiba kaya tanpa pekerjaan yang jelas.

Mengapa ada rumah yang megah tapi penghuninya jarang terlihat. Mengapa ada rezeki yang datangnya tidak masuk akal.

Dalam masyarakat yang kesenjangannya melebar, mitos menjadi bahasa untuk mengatakan: kekayaan itu tidak halal.

Ciri-ciri rumah yang dituding “rumah tuyul”

Di berbagai forum dan artikel mistis, ciri-ciri ini terus diulang. Tak ada yang tahu sumber pertamanya. Tapi semuanya terdengar familier.

1. Cat rumah warna-warni atau mencolok.
Tuyul, dalam cerita, digambarkan seperti anak kecil yang suka warna terang. Rumah yang dicat kuning, hijau, biru, atau kombinasi warna mencolok dianggap membuat tuyul betah tinggal.

2. Ada ruangan rahasia yang tidak boleh dimasuki siapa pun.
Ruangan ini konon dipakai untuk ritual atau tempat menyimpan sesajen. Hanya pemilik rumah yang boleh masuk. Anggota keluarga lain dilarang, bahkan sekadar mengintip.

3. Bau amis atau bau tidak sedap yang tidak jelas sumbernya.
Di sekitar rumah sering tercium bau amis, seperti bau darah atau bangkai, padahal tidak ada bangkai. Dalam kepercayaan tertentu, bau ini dikaitkan dengan kehadiran makhluk halus.

4. Ada anggota keluarga yang pucat dan kurus.
Biasanya perempuan. Dalam cerita yang beredar, tuyul konon disusui oleh perempuan di rumah itu. Proses ini dipercaya menguras energi, membuat tubuh pemiliknya kurus dan pucat.

5. Rumah megah tapi terasa suram.
Bangunannya mewah. Pagarnya tinggi. Tapi ada aura yang sulit dijelaskan. Lampu di teras jarang menyala. Penghuninya jarang menyapa tetangga.

Sari mengaku rumah di kampungnya cocok dengan beberapa poin. “Warnanya mencolok. Pagarnya tinggi. Tapi bau amis sih nggak. Mungkin karena aku belum pernah dekat,” katanya, setengah bercanda.

Cara menangkal: dari bawang sampai cermin

Masyarakat punya banyak cara untuk “menangkal” tuyul. Sebagian menggunakan benda dapur.

Sebagian mengandalkan doa. Sebagian lagi menggabungkan keduanya.

Mitratoday, 18 Oktober 2026, merangkum beberapa cara yang masih dipercaya:

  • Bawang merah dan bawang putih. Aromanya dianggap tidak disukai tuyul. Bawang diletakkan di sekitar laci, lemari, atau tempat penyimpanan uang.

  • Cermin. Tuyul digambarkan seperti anak kecil yang penasaran. Pantulan dirinya di cermin konon membuatnya takut atau teralihkan.

  • Benda tajam. Jarum, duri, atau silet kerap diletakkan di dekat tempat penyimpanan uang. Dalam cerita rakyat, tuyul takut terluka.

  • Kepiting kecil atau yuyu. Dalam kepercayaan Jawa, kepiting kecil diletakkan di sudut rumah untuk “menemani” tuyul agar lupa mencuri.

  • Doa dan ibadah. Cara yang paling tidak kontroversial. Memperbanyak doa, membaca Alquran, dan menjaga ibadah dipercaya menjadi benteng paling kuat.

“Semua cara itu adalah bagian dari kepercayaan dan cerita rakyat,” tulis Mitratoday. “Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa benda-benda tersebut mampu mengusir makhluk gaib.”

Sisi lain: tuyul dan pajak

Yang menarik, mitos ini bahkan sudah masuk ke diskusi pajak.

Pada 11 Oktober 2026, Center Indonesia of Taxation Analysis (CITA) mengangkat pertanyaan warganet di Twitter: jika seseorang menganggur tapi kaya karena pesugihan tuyul, apakah penghasilannya kena pajak?

Jawabannya: iya.

“Penghasilan dari pesugihan termasuk tuyul adalah objek pajak, karena bisa diukur dengan bisa dipakai konsumsi dan menambah kekayaan,” kata Pengamat Pajak Yustinus Prastowo, dikutip CITA.

Jadi, dalam logika administrasi negara, tuyul bukan hanya makhluk gaib. Ia adalah sumber penghasilan yang bisa dihitung. Negara tidak peduli uangnya halal atau tidak. Yang penting, bisa dipakai konsumsi dan menambah kekayaan.

Kalimat itu mungkin terdengar absurd. Tapi di situlah letak ironinya: tuyul yang katanya gaib, dalam sistem pajak, justru menjadi sangat nyata.

Sari akhirnya bertanya langsung

Setelah berminggu-minggu menahan penasaran, Sari memutuskan untuk mendatangi rumah itu.

Ia membawa kue. Bukan untuk menangkal tuyul. Untuk sekadar menyapa.

Pemilik rumah, seorang perempuan paruh baya, menerimanya dengan ramah.

Mereka ngobrol di teras. Tentang cuaca. Tentang harga cabai. Tentang anak-anak.

Sari tidak bertanya soal tuyul. Ia tidak berani. Tapi ia memperhatikan sesuatu: di dalam rumah, tidak ada ruangan rahasia.

Tidak ada bau amis. Yang ada hanya kucing tiga ekor dan tumpukan majalah bekas.

“Rumahnya memang dicat warna-warni. Tapi pemiliknya baik. Mungkin dia cuma suka warna cerah,” kata Sari kemudian.

Ia pulang dengan kue yang sudah habis. Dan dengan satu kesimpulan kecil: kadang, yang kita sebut “tuyul” hanyalah ketakutan kita sendiri yang belum sempat kita tanyakan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.