Dari LIMS ke HP-mu: Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Disadap dari Komunikasi Digital

JATENG.AKURAT.CO, Kasus penyadapan Presiden Prabowo lewat LIMS membuktikan panggilan telepon dan SMS biasa masih rentan diintersepsi di level operator, sementara isi chat WhatsApp aman berkat enkripsi end-to-end—tapi metadata dan kebiasaan digital kita tetap jadi celah yang paling gampang dieksploitasi.
Bayangkan kamu menelepon teman untuk membahas sesuatu yang penting.
Bukan lewat WhatsApp, tapi panggilan telepon biasa. Kamu merasa aman karena tidak ada aplikasi aneh di HP, tidak ada tautan yang diklik, dan baterai tidak cepat habis.
Tapi di sisi lain jaringan, di sebuah dasbor bernama Lawful Interception Management System (LIMS) , percakapan itu bisa disalin tanpa kamu sadari.
Itulah yang membuat kasus penyadapan Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh sepanjang 2025–2026 terasa dekat. Bukan karena kita punya rahasia negara.
Tapi karena HP yang kita pakai setiap hari berdiri di atas infrastruktur yang sama—jaringan operator telekomunikasi yang bisa diakses sistem intersepsi resmi.
Baca Juga: Jangan Sampai Drama Politik Jakarta Bikin Kita Lupa UMK 2027 Belum Ditetapkan
LIMS Bukan Pegasus: Bekerja di Jaringan, Bukan di HP
Pegasus menginfeksi HP. Ia menanam spyware, menyedot data, dan mengirimkannya ke server. Untuk masuk, ia butuh celah teknis atau tautan jebakan.
LIMS tidak menyentuh HP-mu. Ia bekerja di sisi jaringan operator. Instruksi intersepsi diteruskan ke jaringan, lalu komunikasi target disalin ke pusat pemantauan. Dari sisi korban, tidak ada perubahan apa pun di perangkat.
“Tidak ada baterai yang cepat habis, tidak ada aplikasi aneh, tidak ada tanda apa pun,” kata pakar keamanan siber Alfons Tanujaya.
LIMS juga lebih murah dan lebih senyap. Pengadaan Pegasus untuk 10 target bisa menelan Rp7,5–9 miliar.
LIMS sudah tersedia di sistem operator, jadi siapa pun yang punya akses cukup memasukkan nomor sasaran.
Baca Juga: Bukan HP-nya yang Lemah: 4 Celah LIMS yang Bikin HP Presiden Bisa Disadap
WhatsApp Aman Isinya, Tapi Metadata Tetap Bocor
Ini bagian yang sering disalahpahami. LIMS tidak bisa membaca isi chat atau mendengarkan panggilan WhatsApp karena aplikasi itu memakai enkripsi end-to-end secara default.
Signal juga sama. Telegram beda: enkripsi end-to-end hanya berlaku untuk Secret Chat, sementara percakapan regulernya memakai enkripsi client-server.
Tapi jangan lega dulu. LIMS tetap bisa memanen metadata: siapa menelepon siapa, kapan, berapa lama, dari mana, dan pola komunikasi.
“Metadata tidak kalah berharga dari isi pesan dan dalam jangka panjang akan memberikan gambaran yang sangat akurat atas sasaran penyadapan,” ujar Alfons.
Pakar CISSReC, Pratama Persadha, menambahkan bahwa metadata yang terkumpul bisa mencakup waktu koneksi, alamat IP, durasi, pola penggunaan data, hingga perkiraan lokasi berdasarkan BTS.
Baca Juga: WhatsApp Presiden Aman, Tapi Metadata Tetap Dipanen: Fakta Unik di Balik Penyadapan Prabowo
Tabel: Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Disadap Lewat LIMS
Jenis Komunikasi | Bisa Disadap? | Catatan |
|---|---|---|
Panggilan telepon biasa | Ya | Berjalan di jaringan operator, tidak terenkripsi end-to-end |
SMS biasa | Ya | Sama seperti panggilan, isi dan metadata bisa diakses |
Chat WhatsApp | Tidak | Dilindungi enkripsi end-to-end |
Panggilan WhatsApp | Tidak | Sama, end-to-end |
Chat Signal | Tidak | End-to-end secara default |
Telegram reguler | Tidak | Enkripsi client-server, bukan end-to-end |
Telegram Secret Chat | Tidak | End-to-end |
Metadata komunikasi | Ya | Waktu, durasi, lawan bicara, perkiraan lokasi |
Sumber: keterangan Alfons Tanujaya dan Pratama Persadha, November 2026.
Baca Juga: Heboh Penyadapan Pejabat, Waktunya Warga Biasa Peduli Privasi Komunikasi
SS7: Kenapa Panggilan Biasa dan SMS Tetap Rawan
Panggilan telepon dan SMS biasa berjalan di protokol bernama SS7 (Signaling System 7).
Protokol ini dirancang puluhan tahun lalu, ketika jaringan telekomunikasi hanya dioperasikan oleh segelintir operator negara. Tidak ada autentikasi, tidak ada enkripsi yang memadai.
Artinya, siapa pun yang punya akses ke infrastruktur jaringan—atau bisa menyusup ke dalamnya—bisa melacak lokasi dan mengintersepsi panggilan serta SMS. Ini bukan celah baru.
Sudah lebih dari satu dekade para peneliti memperingatkan bahwa SS7 rapuh, tapi perbaikannya berjalan lambat karena melibatkan banyak operator dan negara.
Karena itu, jangan pernah mengandalkan SMS untuk kode OTP akun penting. Kode OTP yang dikirim lewat SMS bisa diintersepsi di level jaringan.
Gunakan aplikasi autentikator atau passkey jika layananmu menyediakannya.
Baca Juga: Bukan Pegasus, Ini LIMS: Sistem Resmi Polisi yang Dipakai untuk Sadap Presiden
WhatsApp Punya Mode “Lockdown” yang Jarang Dipakai
WhatsApp sebenarnya punya fitur keamanan tingkat lanjut bernama Strict Account Settings.
Fitur ini sempat dirilis pada awal 2026 untuk melindungi pengguna berisiko tinggi dari spyware dan serangan siber canggih.
Saat diaktifkan, fitur ini otomatis:
Memblokir lampiran dan media dari nomor tak dikenal
Membisukan panggilan dari nomor asing
Menonaktifkan pratinjau tautan
Mengaktifkan verifikasi dua langkah
Menyembunyikan foto profil, last seen, dan keterangan akun dari orang asing
Memberi notifikasi jika kode enkripsi kontak berubah
Cara mengaktifkannya: Pengaturan → Privasi → Lanjutan → Strict Account Settings → Nyalakan. Fitur ini hanya bisa diaktifkan dari HP utama, bukan dari WhatsApp Web.
Enam Kebiasaan yang Bikin HP-mu Lebih Aman
1. Aktifkan verifikasi dua langkah, tapi jangan pakai SMS.
Gunakan aplikasi autentikator. Kode lewat SMS bisa diintersepsi di jaringan SS7.
2. Nyalakan Strict Account Settings di WhatsApp.
Ini bukan fitur untuk parno. Ini fitur untuk orang yang sadar bahwa HP-nya menyimpan banyak hal.
3. Kunci chat penting dengan Chat Lock.
Percakapan sensitif bisa dikunci dengan sidik jari atau PIN, sehingga tidak bisa dibuka orang lain yang memegang HP-mu.
4. Periksa Linked Devices secara berkala.
Kalau ada perangkat yang tidak kamu kenal terhubung ke WhatsApp, segera keluarkan. Akun yang diambil alih sering meninggalkan jejak di menu ini.
5. Aktifkan backup terenkripsi.
Cadangan chat di cloud bisa dilindungi dengan enkripsi end-to-end agar tidak bisa diakses pihak lain.
6. Jangan pernah membagikan kode verifikasi.
WhatsApp tidak pernah meminta kode enam digit lewat telepon, SMS, atau WhatsApp. Siapa pun yang memintanya adalah penipu.
Kasus penyadapan Presiden memang soal politik, hukum, dan tata kelola intelijen. Tapi ia juga soal kebiasaan kita sehari-hari.
Presiden punya tim keamanan siber. Kita cuma punya kebiasaan. Dan kebiasaan yang benar—2FA, Strict Account Settings, Chat Lock, dan tidak sembarangan membagikan kode—bisa menyelamatkan data kita lebih baik daripada sistem yang canggih tapi tidak dijaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Agenda Bulan Bahasa, Tadris Bahasa Indonesia UIN SATU, Gelar Lomba Presenter se-Jawa Timur
- 2PMII Jateng Soroti Penggeledahan Pesantren Putri di Sukoharjo, Polisi Dinilai Abaikan Aspek Humanis
- 3Link Streaming Siaran Ulang Persib vs Melbourne Victory, Comeback Dramatis Maung Bandung Menang 2-1 dan Lolos 16 Besar ACL Two
- 4Link Live Streaming PSMS vs Persija! Tonton Gratis Tinggal Klik, Cek Prediksi Skor di League Cup 2026/2027: Macan Kemayoran Tetap Mengincar Kemenangan
- 5Miris! Silatnas BEM Muhammadiyah dan Aisyiyah di UMS Ternoda Kericuhan hingga Baku Hantam
- 6Festival Tring! by Pegadaian Hadir di Solo Paragon, Suguhkan Hiburan hingga Edukasi Investasi Emas
- 7Dari Kolam Lele hingga Olahan Pangan, PLN dan UNNES Kembangkan Kampung Minapolitan Siroto
- 8Dari Got Terbuka ke Video Viral: Kronologi Lengkap Polemik Bakso Bintang 2 Banyumanik
- 9Iswar Aminuddin Suntikkan Semangat untuk PSIS Semarang Usai Gagal Raih Kemenangan
- 10Update Skor Java United vs Adhyaksa FC: Gustavo Franca Bawa Tuan Rumah Unggul 1-0 hingga Menit ke-15





