Jateng

Heboh Penyadapan Pejabat, Waktunya Warga Biasa Peduli Privasi Komunikasi

Theo Adi Pratama | 4 November 2026, 16:24 WIB
Heboh Penyadapan Pejabat, Waktunya Warga Biasa Peduli Privasi Komunikasi
Foto Ilustrasi - Pentingnya peduli keamanan privasi komunikasi

JATENG.AKURAT.CO, Heboh penyadapan Presiden Prabowo dan sejumlah ketua umum partai membuka mata bahwa sistem canggih seperti LIMS bisa disalahgunakan, dan di saat yang sama warga biasa justru masih abai soal privasi komunikasi: dari PIN 123456 sampai password WiFi yang dibagikan ke seluruh kos.

Bayangkan sebuah sistem bernama Lawful Interception Management System (LIMS). Ia dirancang untuk membantu polisi menangkap koruptor dan bandar narkoba.

Bisa menyalin percakapan telepon, metadata, dan pola komunikasi. Tapi sepanjang 2025–2026, sistem itu justru dipakai untuk menyadap Presiden Prabowo Subianto, pejabat negara, ketua umum partai, hingga tokoh media .

Tiga perwira tinggi polisi ditetapkan sebagai tersangka. File bukti sempat dihapus. Dan publik pun bertanya: kalau Presiden saja bisa disadap, bagaimana dengan kita?

Di sisi lain, ada ironi yang jarang dibahas. Saat heboh penyadapan pejabat negara, banyak warga biasa masih memakai PIN 123456, membagikan password WiFi ke seluruh kos, dan mengklik tautan “Selamat, Anda menang undian!” tanpa berpikir dua kali.

Privasi komunikasi masih dianggap urusan orang penting. Padahal, di era digital, data pribadi adalah aset yang paling murah diperjualbelikan.

Baca Juga: Bukan Pegasus, Ini LIMS: Sistem Resmi Polisi yang Dipakai untuk Sadap Presiden

1. Penyadapan Bukan Cuma Soal Alat Canggih

Pakar keamanan siber dari CISSReC, Pratama Persadha, menyebut persoalan terbesar bukan pada kecanggihan perangkat LIMS, melainkan pada bagaimana kewenangan itu diberikan, dikendalikan, dan diawasi.

“Jika satu pejabat bisa memasukkan target, menyetujui permintaan, menjalankan penyadapan, sekaligus mengelola hasilnya, risiko penyalahgunaan kewenangan terbuka lebar,” ujarnya .

Hal yang sama berlaku untuk warga biasa. Kalau kamu memakai satu PIN untuk semua akun—dari mobile banking sampai akun e-commerce—maka siapa pun yang berhasil membobol satu akun akan menguasai seluruh hidup digitalmu.

Bukan karena alatnya canggih. Tapi karena kewenangan (dalam hal ini password) menumpuk di satu tempat yang lemah.

2. Metadata: Yang Sering Diabaikan, Padahal Paling Mudah Dipanen

LIMS tidak bisa membaca WhatsApp karena enkripsi end-to-end. Tapi ia bisa memanen metadata: siapa menelepon siapa, kapan, berapa lama, dan dari mana. Metadata saja sudah cukup untuk membangun pola dan tekanan.

Warga biasa juga menghasilkan metadata setiap hari. Aplikasi yang minta izin lokasi, kontak, dan mikrofon adalah bentuk sederhana dari panen metadata.

Sebagian besar dari kita mengklik “Izinkan” tanpa membaca. Padahal, izin itu bisa dipakai untuk melacak pergerakan dan kebiasaan.

3. Password yang Sama di Semua Akun: Bom Waktu

Riset keamanan siber terus menunjukkan bahwa penggunaan password yang sama di banyak akun adalah salah satu penyebab utama kebocoran data pribadi.

Sekali satu situs dibobol, kredensial itu bisa dipakai untuk masuk ke akun lain—dari email sampai mobile banking.

Solusinya sederhana: gunakan password manager atau minimal bedakan password untuk akun-akun penting.

Jangan pakai tanggal lahir atau nama hewan peliharaan. Dan aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) di semua akun yang menyediakannya.

4. WiFi Kos: Nyaman, Tapi Rawan

WiFi kos yang password-nya dibagikan ke semua penghuni adalah jaringan terbuka yang bisa dipakai siapa saja.

Di jaringan seperti ini, sniffing—penyadapan lalu lintas data—bisa dilakukan oleh penghuni lain yang punya pengetahuan teknis.

Untuk aktivitas sensitif seperti mobile banking, gunakan data seluler daripada WiFi publik.

Kalau terpaksa memakai WiFi kos, pastikan situs yang diakses memakai HTTPS (ada ikon gembok di bilah alamat).

5. Phishing: Serangan Paling Murah, Paling Efektif

Tidak perlu alat canggih untuk mencuri data. Cukup kirim pesan WhatsApp yang mengaku dari bank, minta klik tautan, lalu minta kode OTP. Banyak orang tertipu karena panik atau tergiur hadiah.

Aturan sederhananya: jangan pernah memberikan OTP, PIN, atau password kepada siapa pun, termasuk yang mengaku dari bank atau layanan resmi.

Bank tidak pernah meminta data sensitif lewat WhatsApp atau telepon.

Tabel: Kebiasaan Digital yang Perlu Diubah

Kebiasaan Lama

Risiko

Kebiasaan Baru

PIN 123456 atau tanggal lahir

Mudah ditebak

Gunakan password acak, kelola dengan password manager

Satu password untuk semua akun

Satu bocor, semua kena

Bedakan password tiap akun penting

Bagikan password WiFi ke semua orang

Jaringan rawan sniffing

Gunakan WiFi tamu terpisah atau data seluler untuk transaksi

Klik tautan sembarangan

Phishing

Cek domain, jangan klik tautan mencurigakan

Abaikan pembaruan aplikasi

Celah keamanan

Aktifkan pembaruan otomatis

Tidak aktifkan 2FA

Akun mudah dibajak

Aktifkan 2FA di semua akun yang menyediakan

Sumber: rangkuman praktik keamanan digital dasar, 2026.

6. Privasi Bukan Soal Menyembunyikan Sesuatu

Banyak orang berdalih: “Saya nggak punya rahasia, jadi nggak masalah data saya dipanen.” Ini keliru.

Privasi bukan soal menyembunyikan dosa. Privasi adalah soal kendali: siapa yang boleh tahu apa tentang kita, dan untuk tujuan apa.

Ketika data pribadi bocor, risikonya bukan cuma malu. Ada penipuan, pengambilalihan akun, hingga pemerasan. Dan itu bisa menimpa siapa saja—bukan cuma pejabat atau ketua umum partai.

Kasus penyadapan Presiden Prabowo dan sejumlah pejabat negara adalah pengingat bahwa sistem sebesar apa pun bisa disalahgunakan.

Tapi ia juga pengingat yang lebih sederhana: kalau orang-orang penting saja perlu waspada, apalagi kita yang tidak punya tim keamanan siber pribadi.

Waktunya warga biasa lebih peduli soal privasi komunikasi. Bukan karena kita punya rahasia negara.

Tapi karena data kita berharga, dan ada banyak pihak yang siap memanfaatkannya tanpa izin.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.