Jateng

Jangan Sampai Drama Politik Jakarta Bikin Kita Lupa UMK 2027 Belum Ditetapkan

Theo Adi Pratama | 4 November 2026, 17:35 WIB
Jangan Sampai Drama Politik Jakarta Bikin Kita Lupa UMK 2027 Belum Ditetapkan
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Isu penyadapan Presiden Prabowo memang bikin heboh, tapi jangan sampai drama politik di Jakarta bikin kita lupa bahwa harga beras masih Rp18.000 per kilogram dan UMK Jateng 2027 belum juga ditetapkan.

Bayangkan Rani, pekerja muda di Semarang. Pagi ini ia membuka ponsel. Berita utama: tiga jenderal polisi jadi tersangka penyadapan Presiden.

Ia membaca sekilas, menghela napas, lalu membuka aplikasi belanja. Harga beras premium Rp18.000 per kilogram. Cabai naik. Kos bulan depan naik. Gajinya mengikuti UMK Rp3.701.709, dan ia masih menunggu simulasi UMK 2027 yang katanya naik 7,5–9,5 persen.

“Saya ikut prihatin soal penyadapan. Tapi yang paling saya pikirkan setiap hari ya harga makan dan kos,” katanya.

Kisah Rani bukan berarti ia tidak peduli pada demokrasi. Ia hanya sedang mencoba bertahan. Dan di titik itu, isu penyadapan Presiden—sepenting apa pun—tidak boleh menjadi efek domino yang mengalihkan perhatian dari urusan perut dan ekonomi sehari-hari.

Baca Juga: Bukan HP-nya yang Lemah: 4 Celah LIMS yang Bikin HP Presiden Bisa Disadap

1. Drama Politik Selalu Punya Daya Tarik, Tapi Tidak Selalu Relevan

Penyadapan Presiden adalah isu serius. Ada tiga tersangka. Ada sistem bernama LIMS yang disalahgunakan. Ada indikasi makar. Ada ancaman 10 tahun penjara. Semua itu layak diberitakan, diusut, dan dipertanggungjawabkan.

Tapi ada satu hal yang jarang dibahas: berapa banyak ruang publik yang tersedot untuk membahas isu ini? Berapa banyak grup WhatsApp yang berubah jadi forum diskusi politik? Berapa banyak linimasa yang penuh spekulasi, sementara berita tentang harga beras, tarif listrik, dan UMK tenggelam di bawahnya?

“Isu politik identitas dan konflik elite cenderung mendominasi ruang publik, sementara isu ekonomi sehari-hari sering dianggap ‘kurang seksi’ untuk dibahas,” kata seorang pengamat komunikasi politik di Semarang, yang minta namanya tidak ditulis.

Padahal, bagi pekerja dengan gaji UMK, harga beras naik Rp1.000 berdampak lebih langsung daripada pergantian pejabat.

2. Efek Domino: Ketika Isu Politik Menutup Isu Ekonomi

Ini bukan soal menolak membahas politik. Ini soal proporsi.

Ketika isu penyadapan meledak, perhatian publik tersedot ke Jakarta. Media ramai-ramai membahas kronologi, tersangka, dan motif.

Sementara itu, pembahasan UMK 2027 di Jawa Tengah masih mandek karena menunggu panduan turunan UU baru.

KHL Jateng sudah Rp3,51 juta, dan UMK di separuh kabupaten/kota masih di bawah Rp2,6 juta.

Isu

Dampak Langsung ke Pekerja UMK

Penyadapan Presiden

Tidak langsung, bersifat politik dan hukum

Harga beras Rp18.000/kg

Langsung, setiap hari, di dapur

UMK 2027 belum ditetapkan

Langsung, menentukan gaji tahun depan

Tarif listrik nonsubsidi

Langsung, setiap bulan di tagihan

Harga kos naik

Langsung, setiap bulan atau tahun

Sumber: rangkuman isu ekonomi dan politik, November 2026.

Perhatikan tabel di atas. Isu penyadapan penting untuk demokrasi. Tapi ia tidak mengubah harga beras.

Ia tidak menaikkan UMK. Ia tidak membayar kos. Dan selama perhatian publik tersedot ke sana, tekanan untuk menyelesaikan isu-isu ekonomi melemah.

Baca Juga: WhatsApp Presiden Aman, Tapi Metadata Tetap Dipanen: Fakta Unik di Balik Penyadapan Prabowo

3. “Politik Itu Penting, Tapi Perut Lebih Dulu”

Seorang pekerja di Semarang, yang minta namanya tidak ditulis, mengatakan bahwa ia mengikuti berita penyadapan hanya sekilas.

“Saya baca judulnya, sudah. Tapi saya nggak punya waktu buat ikut diskusi panjang. Saya harus kerja,” ujarnya.

Ia bukan apatis. Ia sedang memprioritaskan. “Kalau saya nggak kerja, nggak ada yang bayar kos. Kalau politik salah, itu urusan negara. Tapi kalau perut kosong, itu urusan saya,” katanya.

Kalimat itu bukan sinisme. Itu realisme. Bagi pekerja dengan gaji UMK, politik adalah lapisan kedua. Lapisan pertama adalah: apakah gaji cukup untuk makan, kos, transport, dan sesekali self-reward.

4. Jangan Sampai Isu Politik Menjadi Alat untuk Menunda Kebijakan Ekonomi

Ada bahaya yang jarang dibicarakan. Ketika isu politik mendominasi, kebijakan ekonomi yang tidak populer bisa lolos tanpa pengawasan. Tarif listrik naik? “Sedang fokus isu penyadapan.” UMK mandek? “Tunggu situasi kondusif.” Harga pangan naik? “Nanti kita bahas setelah politik stabil.”

Ini bukan konspirasi. Ini efek perhatian. Media, publik, dan parlemen punya bandwidth terbatas. Kalau semua energi tersedot ke satu isu, isu lain berjalan tanpa kawalan.

Pakar komunikasi menyebut fenomena ini sebagai agenda setting yang tergeser.

“Isu yang paling banyak dibicarakan publik cenderung menjadi prioritas kebijakan. Kalau publik sibuk membahas penyadapan, kebijakan ekonomi yang kurang populer bisa lolos tanpa resistensi,” ujarnya.

Baca Juga: Heboh Penyadapan Pejabat, Waktunya Warga Biasa Peduli Privasi Komunikasi

5. Yang Bisa Dilakukan Warga Biasa

1. Ikuti isu politik secukupnya, jangan sampai mengorbankan produktivitas.
Penyadapan Presiden layak diusut. Tapi kamu tidak perlu menghabiskan tiga jam sehari membaca spekulasi di media sosial.

2. Tetap pantau isu ekonomi yang langsung berdampak.
Harga beras, tarif listrik, UMK, dan KHL adalah isu yang menyentuh dompetmu setiap hari. Jangan biarkan isu itu tenggelam.

3. Jangan biarkan grup WhatsApp berubah jadi forum politik penuh hoaks.
Diskusi boleh. Tapi verifikasi sebelum menyebarkan. Jangan sampai energi habis untuk berdebat tanpa data.

4. Suarakan isu ekonomi dengan cara yang sama seriusnya.
Kalau kamu bisa marah soal penyadapan, kamu juga bisa marah soal UMK yang tidak naik-naik. Keduanya layak diperjuangkan.

Isu penyadapan Presiden bukan hal kecil. Ia menyangkut keamanan negara, demokrasi, dan kepercayaan publik.

Tapi ia tidak boleh menjadi efek domino yang membuat kita lupa bahwa hari ini masih ada pekerja yang berjuang dengan gaji UMK, harga beras yang naik, dan kos yang tidak pernah menunggu.

Politik penting. Tapi perut lebih dulu. Dan selama perhatian publik tersedot ke Jakarta, urusan dapur di Semarang, Pati, dan Banjarnegara tetap harus disuarakan.

Jangan sampai kita sibuk membahas siapa yang menyadap Presiden, sementara lupa bertanya: kapan UMK 2027 ditetapkan, dan apakah cukup untuk makan?

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.