Lampion Terangi Langit Borobudur, Andrea Bocelli Hadirkan Konser Penuh Warna

JATENG AKURAT.CO, Cahaya lampion menerangi malam di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, menghadirkan pemandangan yang memukau di tengah konser maestro tenor dunia Andrea Bocelli, Sabtu (31/10/2026).
Di bawah langit malam yang bertabur cahaya, alunan musik megah berpadu dengan kemegahan warisan budaya Indonesia, menciptakan pengalaman yang tak sekadar menghibur, tetapi juga menyentuh perasaan.
Malam istimewa itu dibuka dengan berkumandangnya lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Suasana khidmat menyelimuti kawasan candi, menjadi pembuka bagi pertunjukan bertaraf internasional bertajuk Bank SMBC Indonesia Presents Andrea Bocelli Romanza 30th Anniversary World Tour.
Ribuan nada, cahaya, dan emosi kemudian berpadu dalam perayaan tiga dekade album Romanza.
Andrea Bocelli membawa penonton menyusuri perjalanan musikalnya melalui suara tenor yang khas, diiringi aransemen megah dengan latar Candi Borobudur yang berdiri anggun.
Bukan sekadar konser, malam tersebut menjadi pertemuan istimewa antara musik klasik dunia, budaya Indonesia, dan pesan kemanusiaan yang disampaikan melalui lagu-lagu penuh makna.
Lampion Hiasi Langit Borobudur
Gemerlap malam menjadi salah satu daya tarik yang memperkuat suasana konser.
Cahaya lampion yang dilepaskan pada penghujung pertunjukan menghadirkan simbol harapan, sementara pertunjukan drone sebelumnya menghiasi langit Borobudur dengan visual bertema perdamaian.
Perpaduan cahaya dan musik itu memberikan sentuhan emosional pada konser yang berlangsung sekitar dua jam tersebut.
Di tengah kemegahan panggung, perhatian penonton tidak hanya tertuju pada penampilan sang maestro, tetapi juga pada pesan yang ingin disampaikan melalui rangkaian pertunjukan.
Candi Borobudur seolah menjadi saksi pertemuan dua kekuatan seni yang berbeda zaman.
Kemegahan bangunan bersejarah itu berpadu dengan musik Andrea Bocelli yang telah melintasi generasi, menghadirkan suasana yang megah sekaligus penuh perenungan.
Sentuhan Indonesia juga terlihat dari penampilan Bocelli yang mengenakan jas dengan aksen motif batik. Kehadiran para musisi, penyanyi, dan penari Indonesia semakin memperkuat nuansa lokal dalam perhelatan musik internasional tersebut.
Perpaduan itu menunjukkan bahwa panggung dunia dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas budaya Indonesia tanpa kehilangan karakter musik yang dibawakan sang maestro.
The Prayer Menggema, Mengirimkan Doa untuk Perdamaian
Di balik kemegahan visual dan kualitas musikalnya, konser Andrea Bocelli menyimpan pesan yang lebih mendalam.
Momen emosional hadir ketika ia membawakan The Prayer, lagu yang dipersembahkan sebagai doa bagi perdamaian dunia.
Lagu tersebut membawa perhatian pada nasib anak-anak dan keluarga yang hidup dalam bayang-bayang konflik serta peperangan.
Pesan yang disampaikan terasa semakin kuat ketika pertunjukan visual di langit menghadirkan simbol-simbol perdamaian.
Di tengah gemerlap lampion dan cahaya drone, konser itu mengingatkan bahwa di berbagai belahan dunia masih ada anak-anak yang kehilangan rasa aman, keluarga yang terpisah, serta masyarakat yang harus menjalani kehidupan dalam ketidakpastian.
Musik memang tidak dapat secara langsung mengakhiri konflik.
Namun, melalui melodi dan pesan yang menyentuh, musik dapat mengajak manusia melihat kembali nilai-nilai kemanusiaan, menumbuhkan empati, dan merawat harapan akan dunia yang lebih baik.
Semangat tersebut turut diwujudkan melalui gerakan kepedulian yang diinisiasi Shoemaker Live.
Masyarakat diajak berpartisipasi membantu anak-anak yang masa kecilnya terdampak konflik dan peperangan.
Dukungan dapat disalurkan melalui www.shoemaker.live hingga 3 November 2026.
Dengan demikian, konser ini tidak hanya menghadirkan kemewahan sebuah pertunjukan, tetapi juga membuka ruang bagi kepedulian terhadap sesama.
Tiga Dekade Romanza, Perjalanan Musik yang Tak Lekang Waktu
Bagi Andrea Bocelli, konser di Borobudur merupakan bagian dari perayaan 30 tahun album Romanza, karya yang menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan karier internasionalnya.
Album tersebut dirilis pada 1997 dan turut memperkenalkan lagu Con Te Partirò kepada pendengar di berbagai negara.
Sejak memenangkan kategori Pendatang Baru di Festival Musik Sanremo pada 1994, penyanyi asal Tuscany, Italia, itu terus membangun reputasi sebagai salah satu tenor paling dikenal di dunia.
Dengan penjualan lebih dari 90 juta album, Bocelli telah tampil di berbagai panggung bersejarah dan menyentuh hati pendengar melalui perpaduan musik klasik, pop, serta lagu-lagu yang sarat emosi.
Di Borobudur, perjalanan panjang tersebut kembali dirayakan melalui penampilan yang menggabungkan nostalgia, keindahan vokal, dan kemegahan tata panggung.
Salah satu momen yang paling dinantikan hadir ketika Bocelli melantunkan Con Te Partirò.
Lagu ikonik tersebut menjadi pengingat atas perjalanan panjang Romanza sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah karya musik dapat bertahan melampaui pergantian zaman.
Penonton kemudian diajak menuju penghujung malam melalui Nessun Dorma.
Lantunan lagu tersebut menutup rangkaian pertunjukan dengan suasana megah, sebelum cahaya lampion menambah keindahan malam di kawasan Candi Borobudur.
Borobudur Menjadi Panggung Musik dan Pesan Kemanusiaan
Konser Andrea Bocelli di Magelang memperlihatkan bahwa sebuah pertunjukan musik dapat memiliki makna lebih luas daripada hiburan semata.
Kemegahan Borobudur, penampilan para seniman Indonesia, serta pesan perdamaian yang dibawa melalui lagu-lagu pilihan menjadikan malam itu sebagai pertemuan seni dan kemanusiaan.
Indonesia Raya yang mengawali acara menghadirkan kebanggaan nasional, sementara The Prayer mengajak penonton menengok penderitaan masyarakat di wilayah konflik.
Adapun Con Te Partirò dan Nessun Dorma menjadi bagian dari penutup yang meninggalkan kesan mendalam.
Rangkaian tur Andrea Bocelli Romanza 30th Anniversary World Tour selanjutnya akan berlanjut di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada Selasa (3/11/2026).
Namun, gemerlap konser di Borobudur memiliki cerita tersendiri.
Di antara cahaya lampion, kemegahan candi, dan suara tenor yang menggema di udara malam, terselip pesan bahwa keindahan seni akan terasa lebih berarti ketika mampu menyatukan manusia.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi UMK Cilacap 2027: Naik Rp208–263 Ribu, Cukup Buat Apa di Kota Industri?
- 2Bening Intan Arya Lolos Semifinal Kick Boxing Porprov Jateng 2026, 10 Bulan Menanti Kembali Naik Ring Demi Emas Semarang
- 3PPP Jateng Sebut Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Berawal dari Evaluasi Internal
- 4Prediksi UMK Solo 2027 Cuma Naik ke Rp2,8 Juta? KHL-nya Rp3,6 Juta, Bro
- 5FOBI Kota Semarang Dominasi Porprov Jateng 2026, Borong 6 Emas dan Juara Umum
- 6Kukuhkan Pengurus DPD PKDI Jateng, Gus Yusuf; PKDI Bergerak Bersama Masyarakat Desa
- 733 Negara Ramai-Ramai Minta Rakyatnya Timbun Makanan, Ada Apa Sebenarnya?
- 8Laga Amal Jurnalis FC Bersama Ansor dan Alfamart, Tebar Kepedulian untuk Panti Asuhan Rumah Anak Surga
- 9Taekwondo Semarang Koleksi Tiga Emas Porprov XVII Jateng, Ariqfallah Tambah Pundi Medali
- 10Baru Setahun Menekuni Kick Boxing, Aurelia Eka Putri Langsung Raih Perunggu Porprov Jateng 2026




