Jateng

33 Negara Ramai-Ramai Minta Rakyatnya Timbun Makanan, Ada Apa Sebenarnya?

Theo Adi Pratama | 30 Oktober 2026, 19:14 WIB
33 Negara Ramai-Ramai Minta Rakyatnya Timbun Makanan, Ada Apa Sebenarnya?
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Bukan main-main bro: sedikitnya 33 negara di dunia, dari Inggris sampai Jepang, dari Swedia sampai Taiwan, ramai-ramai meminta warganya menimbun makanan, air, dan obat-obatan; tapi ini bukan ramalan kiamat, melainkan pengakuan kolektif bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.

Bayangkan kamu membuka berita pagi ini. Bukan satu, bukan dua, tapi puluhan pemerintah di belahan bumi yang berbeda mengeluarkan pesan yang intinya sama: siapkan stok darurat di rumah.

Ada yang bilang cukup tiga hari. Ada yang minta seminggu. Jerman bahkan minta sepuluh hari. Dan tiba-tiba, linimasa media sosial dipenuhi pertanyaan yang sama: “Sebentar lagi perang ya?”

Tarik napas dulu. Ini bukan adegan pembuka film bencana. Tapi juga bukan hoaks. Sepanjang Oktober 2026, gelombang imbauan kesiapsiagaan darurat memang nyata adanya, dan skalanya cukup luas untuk membuat siapa pun berhenti scroll sejenak.

Siapa Saja yang Sudah “Angkat Bicara”?

Newsweek mencatat setidaknya 33 negara memiliki imbauan resmi soal kesiapsiagaan darurat dan penyimpanan persediaan pangan bagi warganya, sebagaimana dikutip Kompas.

Daftarnya bukan kaleng-kaleng: Inggris, Irlandia, Prancis, Jerman, Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Estonia, Latvia, Lituania, Polandia, Ceko, Austria, Swiss, Kroasia, lalu Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Chile, Kolombia, Argentina, Brasil, Afrika Selatan, Jepang, Taiwan, Israel, India, Filipina, Singapura, Selandia Baru, dan Australia.

Yang menarik, durasi yang diminta berbeda-beda. Dan perbedaan itu bukan tanpa alasan.

Tabel: Siapa Minta Berapa Hari?

Negara/Wilayah

Durasi yang Direkomendasikan

Inggris, Prancis, Finlandia, Irlandia, Ceko, Lituania, Kanada, Meksiko, Belanda

72 jam (3 hari)

Jepang

3 hari, idealnya 1 minggu

Swedia, Norwegia, Swiss, Taiwan

Sekitar 1 minggu

Jerman

Hingga 10 hari

Sumber: RRI, Economic Times, CNA, dan Kompas, dihimpun dari imbauan resmi Oktober 2026.

Jerman menjadi yang paling “serius” dengan rekomendasi 10 hari. Badan perlindungan sipilnya, BBK, bahkan mengakui tidak semua rumah tangga bisa langsung menyiapkan stok sepanjang itu, sehingga menyarankan untuk mulai dari 3 hari dulu. Pendekatan bertahap. Realistis.

Isi “Daftar Belanja” Negara: Bukan Sekadar Beras dan Air

Kalau kamu membayangkan isinya cuma karung beras dan galon air, kamu salah. Pemerintah Inggris, lewat kampanye “Be Ready” yang diluncurkan 22 Oktober 2026, merilis daftar yang cukup spesifik: 9 liter air per orang (cukup untuk tiga hari), makanan tidak mudah basah seperti daging kaleng, sayuran kaleng, atau buah kering, lalu tisu basah, hand sanitizer, pakaian hangat, sleeping bag, selimut, senter dengan baterai cadangan, power bank terisi penuh, radio FM bertenaga baterai atau engkol, uang tunai, salinan dokumen identitas, catatan dosis obat, kotak P3K, susu formula bayi instan, diaper, sampai makanan dan air untuk hewan peliharaan.

Perhatikan satu hal: radio engkol. Bukan Spotify. Bukan podcast. Radio. Karena skenarionya adalah ketika listrik padam, internet mati, dan sinyal seluler hilang. Di titik itu, radio engkol adalah satu-satunya jendela informasi yang tidak butuh infrastruktur jaringan.

Jepang menambahkan satu item yang sangat spesifik: masker dan kacamata pelindung. Bukan karena pandemi, tapi karena mereka mengantisipasi skenario letusan Gunung Fuji sebagai efek samping dari gempa megathrust Nankai yang probabilitasnya baru dinaikkan menjadi 75–82 persen.

Jadi, Ini Sebenarnya Tentang Apa?

Inilah bagian yang paling sering disalahpahami. Imbauan-imbauan ini bukan respons terhadap satu ancaman tunggal yang sama.

Mereka adalah mosaik dari ketakutan-ketakutan yang berbeda-beda, yang kebetulan mengeras di waktu yang berdekatan.

Inggris fokus pada gangguan infrastruktur—badai, kebakaran hutan, dan yang paling disorot oleh Menteri Pertahanannya, Wes Streeting, adalah serangan siber oleh aktor negara terhadap jaringan listrik, sistem pembayaran, dan rantai pasok. Streeting bahkan menyebutnya sebagai “terorisme yang disponsori negara”, bukan lagi sekadar “perang hibrida”. Perdana Menteri Inggris, ketika ditanya apa stok daruratnya, menjawab dengan sangat manusiawi: kacang-kacangan dan sup kalengan.

Jerman mengubah pedoman perlindungan sipilnya untuk pertama kali dalam 35 tahun dengan memasukkan skenario perang secara eksplisit. Kepala BBK menyebut pemicu langsungnya adalah konflik Rusia-Ukraina, ditambah ancaman siber, disinformasi, dan sabotase.

Swedia sudah mengirim booklet berjudul “Jika Krisis atau Perang Datang” ke lebih dari 5 juta rumah tangga sejak 2024, sebagai respons langsung terhadap invasi Rusia ke Ukraina.

Norwegia merumuskan ancamannya dengan paling gamblang: rumah tangga harus siap menghadapi “cuaca ekstrem, pandemi, kecelakaan, sabotase, dan dalam skenario terburuk, tindakan perang”.

Jepang dan Taiwan bergerak di sumbu yang berbeda: Jepang pada gempa dan vulkanik, Taiwan pada ketegangan Selat Taiwan.

Sementara Prancis dan negara-negara Eropa lainnya lebih banyak menyoroti serangan siber dan gangguan jaringan sebagai risiko sehari-hari yang paling mungkin terjadi lebih dulu.

Tidak ada satu “tanggal kiamat” yang beredar di ruang rapat pemerintah. Yang ada adalah banyak negara yang, secara independen, sampai pada kesimpulan yang sama: sistem yang kita anggap stabil ternyata lebih rapuh dari yang kita kira.

Kenapa “72 Jam” Jadi Angka Keramat?

Hampir semua negara yang mengeluarkan imbauan, bahkan yang merekomendasikan seminggu atau sepuluh hari, memakai 72 jam sebagai ambang minimum.

Angka ini bukan sembarang angka. Ini adalah estimasi waktu yang dibutuhkan layanan darurat dan infrastruktur kritis untuk kembali berfungsi, atau setidaknya stabil enough untuk menyalurkan bantuan.

Di Eropa, Komisi Eropa bahkan sudah mengadopsi Strategi Uni Kesiapsiagaan pada Maret 2025, yang secara eksplisit meminta seluruh rumah tangga di 27 negara anggota memiliki stok untuk minimal 72 jam.

Dengan kata lain, ini bukan panik spontan. Ini kebijakan yang sudah dirancang selama bertahun-tahun, dan baru sekarang sampai ke telinga publik luas karena momentumnya bertemu.

Tapi, Kok Rasanya Seperti “Tiga Hari Menuju Perang Dunia III”?

Karena media sosial memang dirancang untuk membuat segala sesuatu terasa lebih mendesak daripada kenyataannya. Di X dan TikTok, daftar negara-negara itu disusun ulang, dipotong, dan diberi bingkai naratif “33 negara bersiap perang”.

Padahal, seperti dicatat oleh laporan orangenews.hk, tidak semua imbauan itu baru. Sebagian sudah bertahun-tahun menjadi pedoman tetap, dan tidak ada satu pun yang merujuk pada satu peristiwa spesifik yang sama.

Bahkan Dan Bongino, mantan Wakil Direktur FBI yang ikut bersuara pada 26 Oktober, menegaskan bahwa ini “bukan panic, sama sekali bukan panic”. Ini soal kesiapan, bukan ramalan.

Ia menyarankan rumah tangga Amerika menyiapkan setidaknya tiga hari stok, dan ia sendiri menyebut daftarnya termasuk radio darurat, baterai cadangan, makanan, alat pengumpul air hujan, dan tablet pemurni air.

Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan di Indonesia?

Imbauan 33 negara itu tidak secara otomatis berlaku untuk kita. Indonesia punya konteksnya sendiri: gempa, letusan gunung berapi, banjir, dan angin puting beliung adalah ancaman yang jauh lebih nyata dan lebih sering terjadi daripada skenario “perang dunia”. BNPB dan BMKG sudah punya protokol sendiri, dan kita sudah terbiasa dengan tas siaga bencana.

Tapi ada satu pelajaran universal dari gelombang ini: jangan menunggu sistem yang menyelamatkanmu. Ketika listrik padam, air ledeng mati, dan jaringan seluler penuh oleh orang yang panik, yang menentukan bukan seberapa cepat bantuan datang. Tapi seberapa siap rumahmu bertahan sampai bantuan itu tiba.

Stok air minum untuk tiga hari. Makanan yang tidak perlu dimasak. Senter dan baterai. Power bank yang terisi. Salinan dokumen penting. Uang tunai pecahan kecil. Kotak P3K.

Dan mungkin, untuk berjaga-jaga, radio engkol. Bukan karena besok akan ada perang. Tapi karena “peristiwa tak terduga”—meminjam kalimat Perdana Menteri Inggris—semakin sering terjadi, dan kita tidak selalu punya waktu untuk bersiap setelah semuanya dimulai.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.