Jateng

Kampanye Be Ready dari Inggris: 72 Jam Stok Darurat, dari Air Minum sampai Salinan Paspor

Theo Adi Pratama | 30 Oktober 2026, 19:24 WIB
Kampanye Be Ready dari Inggris: 72 Jam Stok Darurat, dari Air Minum sampai Salinan Paspor
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Inggris resmi meluncurkan kampanye “Be Ready” pada 22 Oktober 2026, meminta warganya menimbun air, makanan kaleng, dan radio engkol untuk bertahan 72 jam; dalam hitungan jam, radio engkol sold out, senter naik 284 persen, dan pemerintah buru-buru menegaskan ini bukan ramalan perang, tapi pengakuan bahwa sistem yang kita anggap stabil ternyata rapuh.

Bayangkan kamu membuka berita pagi ini. Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, berdiri di depan kamera, lalu mengatakan bahwa Britania harus siap menghadapi kemungkinan perang dalam “sedikit lebih dari 1.000 hari”.

Kalimat itu bukan keluar dari konteks. Ia keluar bersamaan dengan peluncuran kampanye Be Ready—program tiga tahun yang meminta setiap rumah tangga menyiapkan persediaan darurat selama 72 jam.

Yang diminta bukan baju zirah atau bunker bawah tanah. Isinya sederhana: air minum, makanan kaleng, senter, power bank, salinan paspor, dan radio FM engkol. Tapi justru kesederhanaannya yang membuat semua orang panik.

Baca Juga: 33 Negara Ramai-Ramai Minta Rakyatnya Timbun Makanan, Ada Apa Sebenarnya?

Isi “Daftar Belanja” Negara

Pemerintah Inggris menerbitkan panduan dua halaman yang bisa diunduh di beready.campaign.gov.uk.

Isinya bukan sekadar imbauan normatif, tapi daftar konkret yang bisa langsung kamu belanja di supermarket terdekat.

Kategori

Item yang Direkomendasikan

Air

Minimal 3 liter per orang per hari, atau 9 liter untuk tiga hari; lebih banyak untuk memasak dan mencuci

Makanan

Makanan kaleng (daging, ikan, sayur), buah kering, kacang-kacangan; yang tidak perlu dimasak atau didinginkan

Listrik & Cahaya

Senter dengan baterai cadangan, radio FM bertenaga baterai atau engkol, power bank terisi penuh

Kesehatan

Kotak P3K dan stok obat-obatan rutin

Uang Tunai

Pecahan kecil, karena kartu dan ATM bisa mati saat gangguan teknis

Dokumen

Salinan cetak identitas dan nomor telepon penting, termasuk dosis obat

Lain-lain

Tisu basah, selimut, pakaian hangat, susu formula bayi instan, diaper, dan makanan hewan peliharaan

Sumber: panduan Cabinet Office Inggris, 22 Oktober 2026.

Perhatikan satu item yang paling sering diabaikan: radio engkol. Bukan Spotify, bukan podcast, bukan streaming. Radio.

Karena skenarionya adalah ketika listrik padam, internet mati, dan sinyal seluler penuh oleh orang yang panik.

Di titik itu, radio engkol adalah satu-satunya jendela informasi yang tidak butuh infrastruktur jaringan.

“Bukan Soal Panik, Tapi Soal Siap”

Wes Streeting, yang membuka kampanye ini di sebuah pabrik barel tank di Telford, tidak mencoba menutupi nadanya.

Ia bilang Britania hidup di dunia yang “lebih berbahaya dan bergolak”. Tapi ia juga menegaskan bahwa kampanye ini bukan perintah untuk menggali bunker.

“Ini tentang mengatakan kepada rumah tangga di seluruh negeri agar siap dengan menyimpan beberapa kebutuhan sehari-hari di rumah, seandainya ada gangguan dari peristiwa semacam ini,” kata Streeting kepada BBC Newsnight.

Menteri Keamanan, Dan Jarvis, menambahkan: “Siapa pun yang mampu mengikuti saran ini, sebaiknya melakukannya”.

Kalimat itu sederhana, tapi nadanya jelas: ini bukan kewajiban. Ini ajakan. Tapi ajakan yang datang dari pemerintah yang baru saja mengatakan bahwa perang bisa terjadi dalam hitungan tahun, bukan dekade.

Yang Terjadi di Lapangan: Radio Engkol Sold Out

Reaksi publik tidak menunggu konfirmasi. Dalam hitungan jam setelah pengumuman, warga Inggris berburu barang-barang yang disebut dalam panduan.

Maplin, peritel elektronik, mencatat penjualan senter naik 284 persen, radio naik 92 persen, dan power bank naik 106 persen dalam tiga hari.

Direktur Pelaksana Maplin, Ollie Marshall, mengatakan: “Dalam hitungan jam setelah pengumuman kampanye Be Ready, kami melihat masyarakat langsung mencari kebutuhan dasar seperti senter, radio putar, dan power bank”.

Jaringan supermarket Iceland melaporkan penjualan makanan kaleng naik 40 persen selama akhir pekan. Robert Dyas mencatat penjualan radio naik 160 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Beberapa model radio engkol dilaporkan habis di toko online dan offline.

Tapi The Guardian mencatat sesuatu yang lebih penting: tidak ada bukti kepanikan massal.

“Sementara tidak ada bukti bahwa saran ini memicu kepanikan massal, publik jelas merespons,” tulis Guardian.

Jack Brown, pemilik Sgt Prepper Shop, mengatakan ia menerima pesanan senilai satu bulan dalam 24 jam pertama, tapi ia menilai reaksinya proporsional. “Tiga hari adalah titik yang tepat,” katanya.

Kritik: Antara “Terlambat” dan “Tidak Semua Orang Punya Ruang”

Tidak semua orang senang. Industri makanan menilai waktu peluncuran kampanye buruk dan membingungkan.

Sehari sebelum Streeting mengumumkan panduan, pengawas keamanan siber Inggris baru saja mengungkap kerentanan kritis pada bahasa pemrograman PHP yang digunakan 70 persen situs web dunia.

“Meskipun peluncuran ini dan kerentanan data itu sama sekali tidak terkait, Anda bisa memahami mengapa ini menimbulkan kekhawatiran,” kata seorang sumber industri.

Kritik lain datang dari sisi yang lebih struktural. Seorang bidan yang bekerja di Tower Hamlets—salah satu borough termiskin di London—menulis surat ke The Guardian: “Bagi keluarga yang tinggal di satu kamar di rumah bersama, menyimpan sembilan liter air per orang plus persediaan tiga hari mungkin tidak realistis. Ketika keluarga sudah berjuang dengan biaya makan, pemanas, dan kebutuhan sehari-hari, membeli persediaan darurat tambahan juga bisa mustahil secara finansial”.

Pemerintah Inggris menyebut sebagian langkah persiapan tidak membutuhkan biaya besar.

Salah satunya adalah mendaftar ke Priority Services Register, layanan yang membantu perusahaan gas, air, dan listrik mengenali pelanggan yang membutuhkan dukungan tambahan saat darurat.

Tapi bagi keluarga yang hidup dari gaji ke gaji, “tidak membutuhkan biaya besar” bukan berarti “gratis”.

Kenapa 72 Jam?

Angka 72 jam bukan angka keramat yang dipilih sembarangan. Itu adalah estimasi waktu yang dibutuhkan layanan darurat dan infrastruktur kritis untuk kembali berfungsi, atau setidaknya stabil enough untuk menyalurkan bantuan.

Uni Eropa sudah mengadopsi panduan serupa pada Maret 2025: setiap rumah tangga di 27 negara anggota diminta memiliki stok untuk minimal 72 jam.

Pemerintah Inggris juga menyebut panduan ini bukan respons terhadap peringatan intelijen spesifik. Tujuannya adalah membangun budaya pencegahan dan kemandirian, bukan menakuti warga.

Tapi ketika kampanye ini diluncurkan bersamaan dengan peringatan “1.000 hari menuju perang”, sulit bagi publik untuk tidak menghubungkan keduanya.

Jadi, Inggris Sedang Panik?

Tidak. Tapi Inggris sedang mengakui sesuatu. Selama puluhan tahun, negara-negara maju membangun asumsi bahwa listrik akan selalu menyala, air akan selalu mengalir, dan supermarket akan selalu terisi.

Pandemi COVID-19, badai ekstrem, serangan siber terhadap infrastruktur, dan perang di Eropa telah meruntuhkan asumsi itu satu per satu.

Kampanye Be Ready bukan tentang bersiap menghadapi perang dunia ketiga. Ini tentang bersiap menghadapi hari ketika sistem yang kita anggap abadi tiba-tiba berhenti bekerja.

Dan jika pemerintah Inggris—negara dengan ekonomi terbesar keenam di dunia—merasa perlu memberi tahu warganya untuk menyimpan radio engkol, mungkin ada baiknya kita juga memeriksa isi lemari dapur kita.

Bukan karena besok akan ada perang. Tapi karena “peristiwa tak terduga”—meminjam kalimat Perdana Menteri Inggris—semakin sering terjadi, dan kita tidak selalu punya waktu untuk bersiap setelah semuanya dimulai.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.