Jateng

Inggris Punya 1.000 Hari Sebelum Perang? Menhan Streeting: Mulai Sekarang Simpan Radio Engkol

Theo Adi Pratama | 30 Oktober 2026, 19:32 WIB
Inggris Punya 1.000 Hari Sebelum Perang? Menhan Streeting: Mulai Sekarang Simpan Radio Engkol
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting

JATENG.AKURAT.CO, Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting secara resmi memberi peringatan keras: negara hanya punya waktu sedikit lebih dari 1.000 hari—sekitar tiga tahun—untuk bersiap menghadapi perang, dan kampanye “Be Ready” yang ia luncurkan langsung diserbu warga yang berebut radio engkol hingga sold out.

Kalau biasanya menteri pertahanan bicara soal anggaran alutsista atau latihan militer, Streeting memilih jalur yang lebih membumi.

Dalam tulisannya di The Telegraph, Sabtu (24/10/2026), ia menyatakan bahwa musuh-musuh Inggris mungkin sudah berada dalam posisi melancarkan serangan pada 2030.

“Ini memberi kita waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu untuk bertempur dan meraih kemenangan,” tulisnya .

Kalimat itu bukan retorika kosong. Streeting menyebut perubahan besar bukan pada niat lawan, melainkan pada kapasitas mereka.

“Keinginan pihak lawan untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Yang telah berubah adalah kapasitas mereka,” lanjutnya.

Ia juga menyoroti ancaman yang lebih luas: serangan siber, kejahatan terorganisasi, hingga perubahan iklim yang mengancam infrastruktur vital.

Baca Juga: Kampanye Be Ready dari Inggris: 72 Jam Stok Darurat, dari Air Minum sampai Salinan Paspor

“Prioritas Utama Saya: Negara Siap Perang”

Streeting tidak mencoba terdengar diplomatis. Di BBC, ia mengatakan Inggris menghadapi tingkat ancaman yang lebih besar “dibandingkan dengan apa yang pernah terjadi sepanjang hidup saya”.

Ia bahkan menyebut istilah “perang hibrida” dan “ancaman zona abu-abu” sudah tidak cukup menggambarkan risiko yang ada .

“Untuk mencegah skenario terburuk, kita harus bersiap menghadapinya. Prioritas utama saya adalah memastikan negara ini siap untuk bertempur dan memenangkan perang,” tegasnya .

“Be Ready”: 9 Liter Air, 3 Hari Makanan, dan Radio Engkol

Peringatan itu diluncurkan bersamaan dengan kampanye “Be Ready”. Isinya bukan perintah menggali bunker, melainkan panduan rumah tangga untuk menyimpan persediaan darurat selama 72 jam.

Pemerintah Inggris merilis daftar konkret:

Kategori

Item yang Direkomendasikan

Air

9 liter per orang untuk tiga hari (3 liter/hari)

Makanan

Makanan kaleng, buah kering, kacang-kacangan—yang tidak perlu dimasak

Listrik & Cahaya

Senter, baterai cadangan, radio FM engkol, power bank penuh

Kesehatan

Kotak P3K, stok obat rutin

Dokumen

Salinan cetak identitas, nomor telepon penting, dosis obat

Lain-lain

Selimut, pakaian hangat, tisu basah, uang tunai pecahan kecil

Sumber: panduan Cabinet Office Inggris, Oktober 2026 .

Perhatikan satu item yang paling sering diabaikan: radio engkol. Bukan Spotify, bukan podcast. Radio.

Karena skenarionya adalah ketika listrik padam, internet mati, dan sinyal seluler penuh oleh orang yang panik.

Di titik itu, radio engkol adalah satu-satunya jendela informasi yang tidak butuh infrastruktur jaringan.

Baca Juga: 33 Negara Ramai-Ramai Minta Rakyatnya Timbun Makanan, Ada Apa Sebenarnya?

Warga Inggris Langsung “Ngoprek” Dapur dan Gudang

Reaksi publik tidak menunggu konfirmasi. Dalam hitungan jam setelah pengumuman, warga berburu barang-barang yang disebut dalam panduan.

Maplin mencatat penjualan senter naik 284 persen, radio naik 92 persen, dan power bank naik 106 persen dalam tiga hari.

Jaringan supermarket Iceland melaporkan penjualan makanan kaleng naik 40 persen selama akhir pekan. Beberapa model radio engkol dilaporkan habis di toko online dan offline.

Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, buru-buru menegaskan bahwa ini bukan soal panik.

“Ini bukan soal kepanikan, melainkan tentang mengambil langkah-langkah yang masuk akal untuk memastikan ketersediaan kebutuhan yang cukup di rumah,” katanya kepada BBC .

Kritik: “Tidak Semua Orang Punya Ruang untuk 9 Liter Air”

Tidak semua orang senang. Seorang bidan yang bekerja di Tower Hamlets—salah satu borough termiskin di London—menulis surat ke The Guardian: “Bagi keluarga yang tinggal di satu kamar di rumah bersama, menyimpan sembilan liter air per orang plus persediaan tiga hari mungkin tidak realistis. Ketika keluarga sudah berjuang dengan biaya makan, pemanas, dan kebutuhan sehari-hari, membeli persediaan darurat tambahan juga bisa mustahil secara finansial”.

Pemerintah Inggris menyebut sebagian langkah persiapan tidak membutuhkan biaya besar.

Salah satunya adalah mendaftar ke Priority Services Register, layanan yang membantu perusahaan gas, air, dan listrik mengenali pelanggan yang membutuhkan dukungan tambahan saat darurat.

Tapi bagi keluarga yang hidup dari gaji ke gaji, “tidak membutuhkan biaya besar” bukan berarti “gratis”.

Kenapa 72 Jam?

Angka 72 jam bukan angka keramat yang dipilih sembarangan. Itu adalah estimasi waktu yang dibutuhkan layanan darurat dan infrastruktur kritis untuk kembali berfungsi, atau setidaknya stabil enough untuk menyalurkan bantuan.

Uni Eropa sudah mengadopsi panduan serupa pada Maret 2025: setiap rumah tangga di 27 negara anggota diminta memiliki stok untuk minimal 72 jam .

Pemerintah Inggris juga menyebut panduan ini bukan respons terhadap peringatan intelijen spesifik. Tujuannya adalah membangun budaya pencegahan dan kemandirian, bukan menakuti warga.

Tapi ketika kampanye ini diluncurkan bersamaan dengan peringatan “1.000 hari menuju perang”, sulit bagi publik untuk tidak menghubungkan keduanya.

Jadi, Inggris Sedang Panik?

Tidak. Tapi Inggris sedang mengakui sesuatu. Selama puluhan tahun, negara-negara maju membangun asumsi bahwa listrik akan selalu menyala, air akan selalu mengalir, dan supermarket akan selalu terisi.

Pandemi COVID-19, badai ekstrem, serangan siber terhadap infrastruktur, dan perang di Eropa telah meruntuhkan asumsi itu satu per satu.

Kampanye Be Ready bukan tentang bersiap menghadapi perang dunia ketiga. Ini tentang bersiap menghadapi hari ketika sistem yang kita anggap abadi tiba-tiba berhenti bekerja.

Dan jika pemerintah Inggris—negara dengan ekonomi terbesar keenam di dunia—merasa perlu memberi tahu warganya untuk menyimpan radio engkol, mungkin ada baiknya kita juga memeriksa isi lemari dapur kita.

Bukan karena besok akan ada perang. Tapi karena “peristiwa tak terduga”—meminjam kalimat Perdana Menteri Inggris—semakin sering terjadi, dan kita tidak selalu punya waktu untuk bersiap setelah semuanya dimulai.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.