Kaktus Itu Bukan Tanaman Malas: Dari Hobi Iseng Jadi Bisnis yang Bikin Dompet Hijau

JATENG.AKURAT.CO, Ada satu kesalahpahaman besar yang bikin aku gemas setiap kali dengar orang ngomong soal kaktus. “Ah, kaktus kan tanaman malas. Nggak perlu disiram, nggak perlu diurus, taruh aja di pojokan.”
Kalau kamu masih berpikir begitu, kamu salah besar. Ternyata kaktus dan sukulen justru sedang naik kelas. Bukan lagi tanaman yang diabaikan, tapi tanaman yang diperebutkan.Dan yang bikin menarik, yang paling rajin berburu tanaman ini justru Gen Z.
Mahasiswa, pekerja muda, sampai pasangan yang sedang menyiapkan pernikahan. Mereka datang bukan cuma buat beli, tapi buat ngoprek, nyoba nanem, gagal, belajar lagi, sampai akhirnya bisa punya koleksi puluhan pot di meja kerja.
Lithops: Batu yang Hidup dan Bikin Nagih
Kalau kamu belum pernah lihat lithops, bayangkan sebutir batu kecil berwarna-warni yang tiba-tiba bisa berbunga. Itulah julukan yang melekat pada tanaman ini: batu hidup. Di Purwokerto, lithops sudah jadi primadona baru sejak dua bulan terakhir. Harganya sekitar Rp45 ribu per pot, dan permintaannya melonjak drastis.
Kukuh Pambudi, pemilik Misterkaktuz di Purwokerto, bilang lithops jadi komoditas paling ramai di gerainya. “Sukulen jenis ini lagi ramai. Jadi Lithops ini bentuknya seperti batu, tapi hidup. Warnanya pun menarik dan bisa berbunga,” katanya, dikutip dari Tribun Banyumas.
Yang bikin lithops istimewa bukan cuma bentuknya. Tanaman ini punya siklus hidup yang unik, dan teknik pembibitannya cukup menantang. Kukuh sendiri mengaku masih mendatangkan lithops dari luar karena belum sepenuhnya menguasai cara membibitkannya . Jadi kalau kamu berhasil menumbuhkan lithops dari biji, itu sudah level dewa.
Kukuh: Dari Hobi Jadi Pembudidaya yang Omzetnya Setara UMK
Cerita Kukuh sebenarnya sederhana. Pria 39 tahun ini awalnya cuma hobi menanam kaktus mini. Tapi setelah dicoba dikomersialkan, ternyata peminatnya banyak sekali. Kini, tempat budidayanya di Purwokerto punya puluhan jenis kaktus mini, dan hampir semuanya hasil pembibitan sendiri.
Harga yang ditawarkan beragam, tergantung jenis dan model. Kaktus tillandsia dibanderol Rp45 ribu–Rp60 ribu, gymno Rp5.000–Rp15 ribu, echinopsis variegated Rp15 ribu–Rp45 ribu, dan lithops Rp45 ribu . Yang paling mahal? Sansevieria Rp750 ribu dan gymno bulat Rp500 ribu .
Tapi yang bikin Kukuh makin semangat adalah pesanan souvenir. “Untuk pemesanan souvenir, kami ready dari harga Rp8.000, Rp10 ribu dan Rp15 ribu. Kita sesuaikan dengan selera konsumen,” ujarnya . Dalam sebulan, ia bisa menjual 50–100 tanaman kaktus, dan omzetnya bisa mencapai setara UMK . “Secara ekonomi prospeknya tinggi, peminatnya naik terus, terutama untuk pesanan souvenir,” tambahnya .
Souvenir Kaktus: Oleh-Oleh yang Bikin Anak Muda Kalap
Kalau dulu souvenir pernikahan isinya gantungan kunci atau bunga kain, sekarang kaktus mini dalam pot kecil yang dibungkus cantik justru jadi incaran. Di Kediri, Sendita Praswari melihat peluang ini dan mulai membuat souvenir kaktus. Produknya bukan cuma dipasarkan di Kediri Raya, tapi sudah menembus Kalimantan dan Sumatra.
“Seperti kaktus yang saya buat souvenir, kaktus saya menjadi incaran anak muda untuk buah tangan,” ujar Sendita, Selasa (13/1/2026) . Strategi pemasarannya pun mengikuti pola konsumsi generasi muda: TikTok, Facebook, dan Instagram . Setiap produk dilengkapi panduan perawatan, dan kemasannya dibuat ringkas serta aman agar tanaman tetap utuh saat dibawa ke luar kota .
Ini yang sering dilupakan orang. Souvenir kaktus bukan cuma soal tanaman murah. Ini soal pengalaman. Pembeli mendapatkan sesuatu yang hidup, yang bisa dirawat, dan yang mengingatkan mereka pada momen spesial. Dan anak muda suka itu.
Nadia dan Sasa: Yang Beli Bukan Cuma Buat Dekorasi, Tapi Buat Ketenangan
Di Batam, Nadia Permata bilang kaktus jadi simbol dekorasi modern yang sederhana namun menarik. “Kaktus menjadi simbol dekorasi modern yang sederhana namun menarik,” ujarnya kepada RRI .
Yoga Pranata, pemilik Cactus Corner, juga menyebut penjualan kaktus mini meningkat di kalangan anak muda, dan tren dekorasi minimalis diperkirakan akan membuat kaktus tetap populer dalam beberapa tahun mendatang .
Tapi ada alasan yang lebih dalam. Sasa, warga Purwokerto, punya sekitar 50 kaktus mini di rumahnya. Sejak SMA sebenarnya ia sudah suka, tapi baru benar-benar merawat pada 2022. “Happy kalau melihat kaktus. Jadi refreshing buat mata dan pikiran,” katanya .
Di tengah kesibukan kerja, merawat kaktus jadi semacam terapi kecil. Bukan karena tanamannya bisa bicara, tapi karena ada sesuatu yang tumbuh dan kamu bisa lihat hasilnya pelan-pelan.
Bisnis yang Nggak Butuh Lahan Besar, Tapi Butuh Kesabaran
Kalau kamu tertarik ikut terjun, kabar baiknya: bisnis sukulen dan kaktus nggak butuh lahan luas. Dea Resa Damara, pemilik Ciq Rumah Kaktus Tangerang, memulai usaha ini justru dari sisa souvenir pernikahannya sendiri. Awalnya ia pesan 300 kaktus untuk suvenir, tapi belum selesai resepsi, suvenirnya sudah habis. Dari situ ia tertarik mencoba usaha.
Hampir 50 persen kaktus pertamanya nggak layak jual, dan baru pada pengambilan bibit keempat ia menemukan cara memelihara yang benar . Sekarang, ia punya lebih dari 100 jenis kaktus, dan bisa meraup rata-rata Rp5 juta per bulan hanya dari penjualan terarium . Harga kaktus satuan biasa mulai Rp10 ribu hingga Rp150 ribu per pot, dan ia bisa menjual hingga 500 pot setiap bulan .
Di Flona Jakarta 2026, Karplanter bahkan menjual sukulen dan kaktus mulai Rp25 ribu per pot. “Kita murah-murah, affordable banget. Kita harganya start Rp25.000 per pot,” kata Kinanti Ayurahmawati Pranatami dari Karplanter Bintaro . Dalam empat hari, omzet mereka mencapai Rp2–3 juta per hari .
Pasar globalnya juga nggak main-main. Laporan pasar menyebut nilai pasar sukulen global mencapai USD 9,9 miliar pada 2026 dan diproyeksikan naik menjadi USD 11,7 miliar pada 2031 .
Tapi, Jangan Salah Perawatan: Ini yang Bikin Kaktus Mati
Nah, ini bagian penting yang sering bikin pemula frustrasi. Kaktus dan sukulen memang low maintenance, tapi bukan berarti nggak butuh perhatian. Kesalahan paling umum adalah terlalu sering menyiram. Kaktus menyimpan cadangan air di batangnya, jadi kamu cuma perlu menyiram ketika media tanam benar-benar kering, biasanya sekitar satu sampai dua minggu sekali .
Media tanam juga harus poros. Campuran pasir Malang, sekam bakar, dan sedikit tanah humus adalah pilihan yang aman. Pastikan pot punya lubang drainase agar air nggak mengendap dan bikin akar membusuk . Untuk pupuk, cukup beri pupuk khusus kaktus atau pupuk cair dosis rendah setiap satu sampai dua bulan sekali .
Satu lagi: debu yang menempel di batang kaktus bisa menghambat penyerapan sinar matahari. Bersihkan secara berkala pakai kuas halus kering . Dan kalau kamu lihat kutu putih atau mealybug, segera semprot dengan insektisida dosis rendah atau bersihkan pakai kapas beralkohol .
Jadi, Kenapa Kita Harus Peduli?
Di tengah tahun 2026 yang rasanya berat—banjir, asap, antre BBM, listrik padam—merawat kaktus mungkin terdengar seperti pelarian kecil. Tapi justru di situlah letaknya. Kaktus mengajarkan kita sesuatu yang sederhana: nggak semua hal harus cepat. Nggak semua hal harus besar. Kadang, sesuatu yang kecil, yang tumbuh pelan-pelan, yang nggak minta banyak, justru bisa bikin kita merasa lebih tenang.
Dan kalau kamu jeli, ini juga soal ekonomi. Anak muda sekarang nggak cuma beli tanaman, tapi juga belajar membibitkan, merawat, mengemas, dan menjual. Mereka ngoprek dari hobi yang awalnya iseng, lalu berubah jadi sumber penghasilan.
Jadi kalau malam ini kamu masih scroll dan lihat kaktus mini lucu di FYP, jangan cuma di-like. Coba beli satu, rawat dengan benar, dan lihat apa yang terjadi. Siapa tahu, itu awal dari sesuatu yang lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 3Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 4Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 5Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 6Update Suhu Panas Siang Ini 16 Oktober 2026: Semarang, Solo, Surabaya Kompak Tembus 37 Derajat, Jakarta Nggak Mau Kalah
- 7Kebakaran Hutan Gunung Lawu, Sekitar 200 Personel Dikerahkan Menyisir Empat Jalur
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Lies Iswar Aminuddin: Kegiatan PKK Berlandaskan 10 Program Pokok dan Pemberdayaan Masyarakat




