Dalam cerita, Dewi Amba dan kedua adiknya menjadi putri boyongan Resi Bisma setelah Resi Bisma membunuh Wahmuka dan Arimuka dalam sayembara tanding di negara Giyantipura.
Namun, konflik muncul ketika Dewi Amba menyadari bahwa sebelumnya ia telah dipertunangkan dengan Prabu Citramuka, raja negara Swantipura.
Ia memohon kepada Dewabrata agar dikembalikan kepada Prabu Citramuka, tetapi permohonannya ditolak.
Dalam keputusasaan, Dewi Amba terus mendesak Dewabrata, hingga akhirnya tanpa sengaja tertembak oleh panah Dewabrata.
Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Antaboga, Dewa Penguasa Dasar Bumi dalam Mitologi Jawa
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Dewi Amba mengeluarkan kutukan, menyatakan bahwa ia akan menuntut balas kematiannya melalui seorang prajurit wanita.
Kutukan Dewi Amba terbukti menjadi kenyataan dalam perang Bharatayuda.
Arwahnya menjelma dalam tubuh Dewi Srikandi, seorang prajurit wanita yang menjadi salah satu pahlawan perang tersebut.
Dalam pertempuran sengit, Dewi Srikandi yang dikuasai oleh arwah Dewi Amba berhasil membunuh Resi Bisma, yang merupakan sosok penting dalam cerita epik Mahabharata.
Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Anggisrana, Legenda Kepala Barisan Raksasa pada Masa Prabu Kalakarna
Kisah tragis Dewi Amba mengingatkan kita akan kekuatan cinta, keputusasaan, dan takdir yang tak terduga.
Kutukannya yang menjadi kenyataan merupakan pengingat akan kekuatan kata-kata dan konsekuensi dari tindakan kita.
Legenda Dewi Amba tetap hidup dalam cerita-cerita tradisional, mengajarkan pelajaran moral yang berharga tentang pengampunan, belas kasihan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi nasib yang tak terduga.***