Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Anggisrana, Legenda Kepala Barisan Raksasa pada Masa Prabu Kalakarna

AKURAT.CO, Dalam mitologi dan legenda Indonesia, terdapat banyak tokoh yang menjadi bagian dari cerita-cerita epik yang menghiasi sejarah nenek moyang kita.
Salah satu di antaranya adalah Anggisrana, kepala barisan raksasa dari negara Awangga pada masa pemerintahan Prabu Kalakarna.
Anggisrana dikenal sebagai sosok yang memiliki keberanian dan keterampilan dalam keprajuritan, namun juga ditakuti karena sifat kejam dan serakahnya.
Anggisrana sendiri digambarkan sebagai seorang raksasa dengan gigi tonggos yang berpangkat tumenggung.
Dia memiliki sifat yang tangkas, trengginas, dan pandai bicara, namun juga seringkali bertindak sesuai dengan kata hatinya sendiri dan cenderung ingin meraih kemenangan untuk dirinya sendiri.
Keterampilannya dalam seni bela diri, khususnya dalam menggunakan senjata gada dan keris, membuatnya menjadi sosok yang ditakuti di medan perang.
Namun, keberadaannya juga membawa ketakutan bagi penduduk di sekitarnya.
Anggisrana dikenal suka merampas harta penduduk dan mengganggu ketenteraman hidup para brahmana.
Kehidupannya yang lebih banyak di perbatasan membuatnya memiliki jiwa yang liar dan tidak terkendali.
Akhir riwayat Anggisrana menjadi sorotan ketika ia tewas dalam sebuah peperangan melawan Arjuna, salah satu tokoh dalam cerita Mahabharata.
Peristiwa itu terjadi ketika keluarga Pandawa membantu Basukarna menyerbu negara Awangga dalam upaya merebut Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, raja Mandaraka yang diculik oleh Prabu Kalakarna.
Kematian Anggisrana menjadi akhir dari kebiadaban dan kekejaman yang dilakukannya selama hidupnya.
Meskipun dalam legenda, tokoh ini mungkin hanya sebuah cerita, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti keberanian, keadilan, dan konsekuensi dari perbuatan buruk, tetap menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua.
Anggisrana menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia yang kaya dan menginspirasi.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 4Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?








