Jateng

Hari Ini Dalam Sejarah 13 Januari: Mengenang Peristiwa Kanigoro 1965, Penyerbuan Terhadap Peserta Pelatihan PII

Theo Adi Pratama | 13 Januari 2024, 12:09 WIB
Hari Ini Dalam Sejarah 13 Januari: Mengenang Peristiwa Kanigoro 1965, Penyerbuan Terhadap Peserta Pelatihan PII

AKURAT.CO Sejarah, Pada tanggal 13 Januari, kita memperingati salah satu peristiwa sejarah yang mencoreng lembaran kehidupan bangsa Indonesia, yakni Peristiwa Kanigoro 1965.

Peristiwa ini merupakan aksi pengepungan dan penangkapan peserta pelatihan Pelajar Islam Indonesia (PII) di Pondok Pesantren Al Jauhar, Desa Kanigoro, Kecamatan Kediri, Jawa Timur.

Baca Juga: Langgar Merdeka di Kampoeng Batik Laweyan: Jejak Sejarah dan Keberlanjutan Kearifan Lokal

Latar Belakang Peristiwa Kanigoro

Dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 4 Mei 1947, organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) didirikan di Yogyakarta.

Tujuan utama PII adalah melakukan pengkaderan untuk menciptakan kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan sesuai dengan syariat Islam bagi seluruh bangsa Indonesia.

Salah satu upaya mencapai tujuan tersebut adalah melalui pelatihan yang diadakan untuk anggota PII.

Pada 9 Januari 1965, PII menyelenggarakan pelatihan di Pondok Pesantren Al Jauhar, Kanigoro, Kediri, Jawa Timur.

Meskipun telah mendapatkan izin, seorang komandan Komando Distrik Militer (Kodim) Kediri melarang kegiatan ceramah yang menghadirkan aktivis Partai Masyumi, M Samelan, mungkin karena wilayah Kanigoro dianggap sebagai basis PKI pada waktu itu.

Meski mendapat larangan, pengurus PII Jawa Timur, Anis Abiyoso, tetap melanjutkan acara tersebut.

Baca Juga: Misteri Arwah Prajurit VOC di Gunung Ijen: Kisah Tersesat di Antara Sejarah dan Alam Gaib

Kronologi Peristiwa Kanigoro

Menurut buku "Gerakan Pemuda Ansor" (2018), empat hari setelah pelatihan dimulai, pada tanggal 13 Januari 1965, sekitar pukul 04.30 WIB, sekitar 2.000 simpatisan Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat (PR) bersenjata menyerbu masjid pesantren.

Saat itu, peserta pelatihan PII sedang melaksanakan shalat Subuh berjemaah.

Dalam serbuan tersebut, peserta pelatihan PII mengalami kekacauan saat para simpatisan BTI dan PR menyerang, menginjak-injak, dan merusak isi masjid.

Para peserta dan pengasuh pesantren, KH Jauhari, kemudian diarak sejauh 7 kilometer menuju kantor Polisi Sektor (Polsek) Kras sekitar pukul 07.00 pagi.

Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Berita penyerbuan itu menyebar cepat, dan Gus Maksum Jauhari, putra KH Jauhari, dengan cepat memimpin Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kediri untuk merespons.

Sembilan hari setelah peristiwa tersebut, delapan truk rombongan Banser menuju Kanigoro.

Namun, polisi segera menangkap dua pemuda komunis yang diduga sebagai dalang aksi penyerbuan, yaitu Suryadi dan Harmono.

Baca Juga: Perjalanan Gedung Djoeang Solo: Menelusuri Jejak Sejarah di Tengah Kota

Tidak terima dengan kejadian ini, sekitar tanggal 1 Februari 1965, anggota PII mengadakan rapat dan memutuskan untuk menyerbu kantor PKI yang menjadi induk dari PR dan BTI.

Akibat keputusan ini, Anis Abiyoso menjadi buronan polisi setempat selama beberapa hari sebelum akhirnya menyerahkan diri pada 12 Februari 1965 di Malang, Jawa Timur.

Peristiwa Kanigoro 1965 menjadi catatan kelam dalam sejarah pergerakan pelajar di Indonesia, menggambarkan gejolak politik dan perbedaan pandangan yang berkembang pada masa itu.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.