Jateng

Perjalanan Gedung Djoeang Solo: Menelusuri Jejak Sejarah di Tengah Kota

Theo Adi Pratama | 12 Januari 2024, 16:00 WIB
Perjalanan Gedung Djoeang Solo: Menelusuri Jejak Sejarah di Tengah Kota

AKURAT.CO Sejarah, Gedung Djoeang, salah satu bangunan bersejarah di Kota Solo, memiliki kisah panjang sejak awal keberadaannya pada tahun 1876.

Berlokasi di Kedung Lumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, gedung ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia sejak masa kolonial hingga kemerdekaan.

Baca Juga: Mengungkap Keindahan Sejarah dan Perjalanan: Jejak Candi Ngempon di Kabupaten Semarang

Asal Usul dan Peran Awal Gedung Djoeang

Gedung Djoeang awalnya dikenal sebagai Cantienstraat, sebuah tempat pelayanan berupa kantin untuk Tentara Belanda, yang beroperasi hingga tahun 1942.

Setelah itu, gedung ini berubah fungsi menjadi asrama militer karena Benteng Vastenburg tidak lagi mampu menampung seluruh Tentara Belanda.

Pada periode tersebut, gedung juga digunakan sebagai klinik oleh Tentara Belanda.

Zaman Penjajahan Jepang dan Peran Gedung Djoeang

Selama masa pendudukan Jepang, Gedung Djoeang direbut oleh Pasukan Nippon, yang dikenal sebagai Senkokan.

Pada saat itu, gedung ini dijadikan markas dan barak militer oleh Pasukan Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, Gedung Djoeang dikelola oleh Pemerintah Indonesia dengan fungsi yang beragam, termasuk sebagai panti asuhan, markas TNI, dan kantor pengurus DHC '45.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Candi Pringtali di Perbukitan Manoreh: Kekayaan Mistis di Lereng Jalur Samigaluh, Nanggulan

Monumen Laskar Putri Surakarta

Di dalam gedung ini, terdapat Monumen Laskar Putri Surakarta, sebuah penanda sejarah peran kaum wanita dalam perjuangan serangan 4 hari pada tahun 1949.

Wanita-wanita ini turut serta dalam latihan kemiliteran, memasak di dapur umum bagi para pejuang, dan membantu tenaga kesehatan di pos PMI.

Transformasi Menjadi Destinasi Wisata

Setelah melewati sejarah panjang alih fungsi, pada tanggal 20 September 2019, Gedung Djoeang diresmikan sebagai destinasi wisata di Kota Solo.

Gedung Djoeang yang sekarang dapat dikunjungi oleh masyarakat umum memiliki jam operasional kunjungan pukul 17.00 – 00.00 WIB.

Spot Menarik dan Biaya Masuk

Gedung Djoeang menawarkan berbagai spot menarik yang cocok untuk berfoto.

Dengan hiasan seperti patung-patung, pencahayaan temaram, bangku-bangku, dan lantai yang diselingi rumput sintetis, gedung ini memberikan pengalaman yang unik bagi pengunjung.

Ongkos parkir sebesar Rp3.000, dan untuk memasuki area dalam gedung, diperlukan pembayaran sebesar Rp15.000.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Pertempuran Tarakan 1942, Epiknya Peperangan untuk Perebutan Ladang Minyak

Wisata yang Ekonomis dengan Nilai Sejarah Tinggi

Gedung Djoeang menawarkan pengalaman wisata yang ekonomis namun sarat dengan nilai sejarah tinggi.

Lokasinya yang strategis di tengah Kota Solo membuatnya menjadi alternatif wisata yang menarik.

Pengunjung diharapkan untuk tetap tertib dan menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Gedung Djoeang, dengan segala sejarahnya, menjadi destinasi yang menarik untuk menelusuri jejak masa lalu Indonesia.

Sebuah perpaduan antara keindahan arsitektur bersejarah dan cerita perjuangan bangsa yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.