Jateng

Tips Karyawan Baru: Cara Menolak Lembur di Minggu Pertama Tanpa Bikin Atasan Baper

Theo Adi Pratama | 26 Oktober 2026, 10:01 WIB
Tips Karyawan Baru: Cara Menolak Lembur di Minggu Pertama Tanpa Bikin Atasan Baper
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Menolak lembur di minggu pertama kerja bukan soal malas atau kurang loyal, melainkan soal tahu bahwa lembur wajib ada persetujuan dan batas waktu—dan mengatakan “tidak” dengan cara yang tepat justru membuatmu terlihat profesional, bukan pembangkang.

Bayangkan Senin sore di minggu pertama kerja. Jam menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit. Kamu sudah merapikan meja, mematikan laptop, dan bersiap pulang. Atasan tiba-tiba muncul di depan kubikel. “Rani, ini ada revisi mendadak. Bisa dikerjakan malam ini?”

Rani, sebut saja begitu, fresh graduate yang baru tiga hari bergabung, langsung panik. Ia ingin bilang “saya ada urusan”, tapi yang keluar justru “iya, Pak, siap.” Malam itu ia pulang pukul sepuluh, mata merah, dan besoknya datang terlambat karena alarm tidak terdengar.

Kisah Rani bukan cerita langka. Banyak karyawan baru terjebak dalam lingkaran yang sama: takut dianggap tidak komitmen, lalu mengiyakan semua permintaan lembur, lalu kelelahan, lalu performa justru turun. Padahal, ada cara lain.

Baca Juga: 7 Kesalahan Konyol Karyawan Baru yang Bikin Langsung Dipecat di Masa Probation

Lembur itu tidak bisa dipaksa, dan hukumnya jelas

Sebelum masuk ke trik komunikasi, ada baiknya kamu tahu dulu dasar hukumnya. PP No. 35 Tahun 2021 mengatur bahwa kerja lembur hanya boleh dilakukan berdasarkan perintah tertulis atau digital dari atasan, dan harus mendapat persetujuan dari pekerja. Batas maksimalnya empat jam per hari dan delapan belas jam per minggu.

Mahkamah Konstitusi bahkan sudah menegaskan dalam Putusan Nomor 167/PUU-XXIV/2026 bahwa perusahaan tidak boleh melakukan pemutusan hubungan kerja secara sewenang-wenang terhadap pekerja yang menolak lembur. Artinya, kamu punya hak untuk menolak, dan penolakan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk memecatmu.

Yang perlu diingat: hak ini berlaku selama lembur yang diminta memang tidak sesuai aturan, misalnya tanpa perintah tertulis, tanpa persetujuan, atau melebihi batas waktu. Kalau lembur sudah sesuai prosedur dan kamu menolak tanpa alasan yang jelas, perusahaan punya mekanisme lain untuk menilai kinerjamu.

Baca Juga: Jangan Balas Email Atasan dengan “Ok” atau “Noted”: Ini Rumus Tiga Baris yang Bikin Kamu Terlihat Profesional

Kalimat yang justru bikin atasan baper

Banyak panduan di internet menyarankan kalimat seperti “Maaf Pak, ini sudah di luar jam kerja saya.” Kedengarannya tegas. Tapi di telinga atasan, kalimat itu bisa terdengar seperti tantangan.

Pusat Karir Trisakti menulis dengan gamblang: “Jangan membalas: ‘Maaf Pak, ini sudah di luar jam kerja saya.’ Kalimat tersebut bisa terdengar terlalu konfrontatif.”.

Alternatifnya bukan berarti kamu harus mengorbankan waktu pribadi. Alternatifnya adalah membingkai penolakan sebagai prioritas, bukan sebagai penolakan.

Contoh kalimat yang lebih aman: “Baik Pak, saya sudah catat poin revisinya. Saya akan prioritaskan untuk eksekusi ini besok pagi agar hasilnya maksimal.”.

Kalimat ini menyampaikan tiga hal sekaligus: kamu mendengar permintaan atasan, kamu punya rencana, dan kamu menempatkan pekerjaan itu di jam kerja yang seharusnya. Tidak ada kata “tidak bisa” yang eksplisit, tapi pesannya sampai.

Baca Juga: Tips Karyawan Baru: Cara Elegan Kenalan di Grup WhatsApp Kantor Tanpa Terkesan Sok Asyik

Rumus tiga langkah: akui, jelaskan, tawarkan

Untuk situasi yang lebih kompleks, gunakan formula yang lebih terstruktur. CakapCakap menyebut tiga langkah yang bisa dipakai: akui permintaan atasan, jelaskan kondisi beban kerjamu saat ini secara objektif, lalu tawarkan alternatif atau solusi.

Contohnya: “Saya paham revisi ini penting, Pak. Saat ini saya sedang menyelesaikan laporan X yang tenggatnya besok pagi. Kalau revisi ini harus dikerjakan malam ini, prioritas mana yang sebaiknya saya geser?”

Kalimat itu tidak menolak mentah-mentah. Ia justru mengajak atasan berpikir tentang prioritas. Dalam banyak kasus, atasan akan sadar bahwa permintaannya tidak seurgent yang ia kira, atau ia akan memberikan tenggat yang lebih realistis.

Kalau atasan tetap bersikeras, tawarkan kompromi. “Saya bisa mengerjakan bagian A malam ini, tapi bagian B sebaiknya dikerjakan besok pagi setelah saya selesai dengan laporan X.” Ini menunjukkan bahwa kamu tetap kooperatif tanpa harus mengorbankan seluruh malam.

Kenapa minggu pertama justru waktu yang tepat untuk menetapkan batasan

Ada anggapan bahwa karyawan baru harus “serba bisa” dan “jangan banyak tingkah” di awal masa kerja. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Loker Balinews menulis bahwa lembur yang terjadi berulang kali tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang bekerja dengan baik. Kebiasaan menunda pekerjaan, kurangnya perencanaan, dan beban kerja yang terlalu banyak justru bisa membuat pekerjaan sulit diselesaikan tepat waktu.

Karyawan baru yang langsung menunjukkan bahwa ia bisa dihubungi kapan saja, termasuk di luar jam kerja, akan menciptakan ekspektasi yang sulit ditarik kembali. Sebaliknya, karyawan yang sejak awal menunjukkan bahwa ia punya batasan waktu yang jelas akan lebih dihargai karena ia tahu cara mengelola prioritas.

Yang perlu dihindari adalah menolak dengan nada defensif atau mengumbar alasan pribadi yang terlalu detail. Cukup satu kalimat profesional, lalu tawarkan solusi. Atasan yang baik akan menghargai keterbukaanmu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.