UMK Jateng Terendah se-Jawa, Investor Pabrik Malah Betah: Ada Apa?

JATENG.AKURAT.CO, UMK Jateng 2026 masih yang terendah se-Pulau Jawa, dan itu bukan kebetulan: Apindo bilang pabrik padat karya hijrah ke sini karena upah rendah plus produktivitas, sementara pemerintah menyebutnya “kompetitif, bukan murah”—dua istilah yang artinya sama, tergantung dari sisi meja mana kamu duduk.
Bayangkan seorang manajer pabrik di Bekasi membuka spreadsheet. Di kolom kiri, UMK Bekasi 2026 sudah tembus Rp5,99 juta.
Di kolom kanan, UMK Banjarnegara cuma Rp2,32 juta. Selisihnya lebih dari dua kali lipat. Ia menutup laptop, menelepon kantor pusat, dan dalam hitungan bulan, mesin-mesin produksi mulai dikirim ke Jawa Tengah.
Itulah wajah “friendly” yang jarang dibahas di berita investasi.
Bukan karena Jateng punya pelabuhan terbaik atau infrastruktur paling maju—justru Apindo mengakui infrastruktur Jateng belum semaju Bekasi atau Karawang.
Yang bikin investor betah bukan jalan tolnya, tapi angka di slip gaji.
Baca Juga: Take Home Pay Pekerja Pabrik Salatiga 2027: UMK Rp2,96 Juta, Gaji Bersih Cuma Rp2,85 Juta
Angka yang Tidak Pernah Berbohong
UMP Jawa Tengah 2026 ditetapkan Rp2.327.386. Bandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa:
Provinsi | UMP 2026 |
|---|---|
Jawa Barat | Rp2.317.601 |
Jawa Tengah | Rp2.327.386 |
Jawa Timur | Rp2.446.880 |
Banten | Rp3.100.881 |
Jateng memang bukan yang terendah—Jabar sedikit lebih rendah.
Tapi Jabar punya Bekasi dan Karawang dengan UMK yang jauh lebih tinggi.
Jateng punya 17 kabupaten/kota dengan UMK di bawah Rp2,5 juta.
Bagi investor yang mencari lokasi padat karya, daftar itu terbaca seperti menu: pilih daerah, sesuaikan dengan anggaran upah.
Kata Pengusaha: “Upah Rendah, Tapi Produktivitasnya Oke”
Wakil Ketua Umum Apindo, Sanny Iskandar, tidak mencoba menyembunyikan fakta.
Relokasi pabrik dari Bekasi ke Batang, kata dia, “banyak dipengaruhi selain tadi masalah tinggi rendahnya upah dan khususnya yang berhubungan dengan produktivitas manusianya”.
Presiden KSPN, Ristadi, lebih blak-blakan. “Pasti pengusaha ini akan mencari upah atau labor cost-nya yang lebih kompetitif, lebih rendah. Dari dulu memang begitu,” katanya.
Ia menyebut kawasan Jateng dipilih karena upah minimumnya “relatif rendah pada kisaran Rp2 juta, kecuali di kawasan pusat seperti Semarang Raya”.
Tapi jangan bayangkan Jateng hanya menang murah. Apindo Jateng menyebut ada tiga hal yang bikin pabrik betah: tenaga kerja terampil dan semi-terampil yang melimpah, stabilitas sosial dan politik, serta kemudahan perizinan.
Upah rendah adalah pintu masuk. Yang bikin mereka betah adalah kombinasi itu.
Kata Pemerintah: “Kompetitif, Bukan Murah”
Plt Kepala DPMPTSP Jateng, Johan Hadiyanto, keberatan kalau UMK Jateng disebut “murah”. “Diksi yang tepat UMK kita kompetitif ya; kompetitif, bukan murah,” ujarnya. Ia mencontohkan Kendal, yang UMK-nya Rp2.992.994 tapi investornya “luar biasa”.
Gubernur Ahmad Luthfi memakai diksi yang sama. “Kompetitif bukan murah,” katanya. Ia menambahkan bahwa yang membuat upah Jateng “menarik” bukan cuma angkanya, tapi juga daycare untuk buruh, koperasi yang menyentuh kebutuhan buruh, dan transportasi yang dipermudah.
Dua pejabat, satu kata. Tapi di lapangan, “kompetitif” tetap berarti angka yang lebih rendah dari provinsi tetangga.
Dan selama selisihnya masih dua kali lipat dari Bekasi, investor akan terus membaca “kompetitif” sebagai “hemat”.
Bukti di Lapangan: Pabrik Raksasa, UMK Rendah
Sailun Group asal China membangun pabrik ban di Demak dengan investasi Rp3,9–4,2 triliun. UMK Demak 2026: Rp3.122.805.
Xinhai Knitting Indonesia menanam Rp651,8 miliar di Brebes untuk pabrik tekstil yang menyerap 8.000 pekerja. UMK Brebes 2026: Rp2.400.350.
Realisasi investasi Jateng 2025 mencapai Rp110 triliun. Semester I 2026 sudah Rp59,94 triliun, dengan serapan tenaga kerja 213 ribu orang.
Angka-angka itu bukan kebetulan. Mereka adalah hasil dari formula yang sudah lama dipakai: upah rendah, izin mudah, dan stabilitas yang terjaga.
2027: Masih “Friendly”?
Simulasi UMK Jateng 2027 dengan kenaikan 7,5 persen menempatkan Kota Semarang di Rp3,97 juta dan Banjarnegara di Rp2,50 juta.
Bahkan skenario 9,5 persen pun, Semarang hanya menyentuh Rp4,05 juta.
Angka itu masih jauh di bawah UMK Bekasi 2026 yang sudah Rp5,99 juta.
Artinya, tahun depan, Jateng akan tetap menjadi provinsi dengan upah minimum “kompetitif” di Pulau Jawa.
Investor yang mencari lokasi padat karya masih akan menaruh Jateng di daftar teratas.
Buruh yang berharap UMK 2027 menembus KHL masih akan menunggu.
Dan pemerintah masih akan menyebutnya “kompetitif, bukan murah”—karena memang itu diksi yang paling aman.
Jateng tidak perlu malu disebut “friendly” bagi investor. Tapi selama “friendly” berarti upah yang tetap di bawah Rp3 juta untuk separuh kabupaten/kotanya, pekerja di Brebes, Banjarnegara, dan Sragen akan tetap bertanya: friendly untuk siapa?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi UMK Cilacap 2027: Naik Rp208–263 Ribu, Cukup Buat Apa di Kota Industri?
- 233 Negara Ramai-Ramai Minta Rakyatnya Timbun Makanan, Ada Apa Sebenarnya?
- 3APSI Matangkan Strategi Tingkatkan Kompetensi dan Martabat Profesi Satpam
- 4Laga Amal Jurnalis FC Bersama Ansor dan Alfamart, Tebar Kepedulian untuk Panti Asuhan Rumah Anak Surga
- 5Taekwondo Semarang Koleksi Tiga Emas Porprov XVII Jateng, Ariqfallah Tambah Pundi Medali
- 6Prediksi UMK Boyolali 2027: Naik Rp190–241 Ribu, Gap ke KHL Hampir Rp800 Ribu
- 7Matahari Magelang Jam 10 Pagi Bukan Main-Main: 7 Cara Bertahan Lari Sampai Finis
- 898 Tahun Sumpah Pemuda, Dekan FH Untag Semarang Soroti Korupsi dan Ketimpangan Keadilan
- 9PPP Kota Semarang Mulai Panaskan Mesin Politik, Bidik Kebangkitan pada Pemilu 2029
- 10Kampanye Be Ready dari Inggris: 72 Jam Stok Darurat, dari Air Minum sampai Salinan Paspor






