Jateng

Prediksi UMK Boyolali 2027: Naik Rp190–241 Ribu, Gap ke KHL Hampir Rp800 Ribu

Theo Adi Pratama | 30 Oktober 2026, 08:43 WIB
Prediksi UMK Boyolali 2027: Naik Rp190–241 Ribu, Gap ke KHL Hampir Rp800 Ribu
Foto Ilustrasi - Prediksi UMK Boyolali 2027

JATENG.AKURAT.CO, UMK Boyolali 2027 diprediksi cuma naik ke kisaran Rp2,73–2,78 juta, sementara KHL versi buruh sudah menyentuh Rp3,57 juta untuk pekerja lajang; investasi tekstil Rp2,7 triliun dan pabrik garmen baru dengan 7.000 calon pekerja belum tentu menutup gap hampir Rp1 juta itu, dan “Negeri Susu” tetap harus berhitung di antara PHK dan harapan upah layak.

Boyolali punya dua julukan yang sulit didamaikan. Di satu sisi, ia adalah “Negeri Susu” — tanahnya menghijau, sapi perahnya menghasilkan susu segar, dan udaranya sejuk khas lereng Merbabu.

Di sisi lain, ia adalah kabupaten industri padat karya. Ada 13.398 perizinan usaha di sektor industri, dan pabrik-pabrik garmen serta manufaktur besar berdiri di sana.

Investasi di Boyolali bahkan sempat menembus Rp2,7 triliun, dan dua pabrik baru direncanakan beroperasi pada 2026, salah satunya disebut akan menyerap sekitar 7.000 tenaga kerja.

Tapi angka UMK-nya bercerita lain.

Baca Juga: Prediksi UMK Magelang 2027 Cuma Naik ke Rp2,8 Juta? Padahal Borobudur Hasilkan Rp134 Miliar

UMK 2026: Rp2,53 Juta, Peringkat 9 di Jawa Tengah

Tahun 2026, UMK Kabupaten Boyolali ditetapkan Rp2.537.949 — hasil jalan tengah Bupati dengan koefisien alfa 0,7, setelah buruh meminta Rp2.575.863 dan pengusaha menawarkan Rp2.515.708.

Angka itu menempatkan Boyolali di peringkat 9 dari 10 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang dipantau, jauh di bawah Semarang (Rp3.454.000) dan Demak (Rp2.940.000).

Bandingkan dengan KHL versi KSPN Boyolali. Survei mereka pada Oktober 2026 menempatkan KHL pekerja lajang di Rp3.577.741 — naik dari Rp3.321.012 pada tahun sebelumnya.

“Kalau dibanding KHL tahun sebelumnya Rp3.321.012,” kata Ketua KSPN Boyolali, Wahono. Selisihnya dengan UMK 2026 hampir Rp1 juta.

Baca Juga: Prediksi UMK Cilacap 2027: Naik Rp208–263 Ribu, Cukup Buat Apa di Kota Industri?

Simulasi 2027: Naik, Tapi Tetap di Bawah Bayang-Bayang KHL

KSPI mengusulkan kenaikan 7,5 sampai 9,5 persen untuk UMK 2027, mengacu pada formula PP 49/2025 dengan indeks alfa 0,5–0,9. Kalau usulan itu dipakai, UMK Boyolali 2027 berada di kisaran:

Skenario

UMK 2026

Simulasi 2027

Selisih

Gap ke KHL (Rp3,57 jt)

Naik 7,5%

Rp2.537.949

Rp2.728.295

+Rp190.346

±Rp849.446

Naik 9,5%

Rp2.537.949

Rp2.779.053

+Rp241.104

±Rp798.688

Sumber: simulasi berdasarkan UMK Boyolali 2026 dan usulan KSPI.

Detik bahkan mencatat angka Rp2.779.053 untuk skenario 9,5 persen.

Artinya, bahkan dalam skenario paling optimistis, UMK Boyolali 2027 masih di bawah Rp2,8 juta, sementara KHL sudah di atas Rp3,5 juta.

Baca Juga: Prediksi UMK Banyumas 2027 Cuma Naik ke Rp2,7 Juta? Mahasiswa Purwokerto Butuh Rp3,3 Juta

Pabrik Tekstil: Berkah yang Tidak Selalu Menetes ke Slip Gaji

Boyolali memang menjadi rumah bagi industri tekstil dan alas kaki. Tapi “industri besar” tidak otomatis berarti “upah besar”.

Pada September 2026, PT Cartini Lingerie Indonesia di Kecamatan Teras melakukan PHK terhadap 261 karyawan — sekitar 18,6 persen dari total 1.400 pekerja — karena pesanan dari buyer luar negeri merosot dari lima menjadi satu.

Pesangon yang diterima bervariasi, dari Rp3 juta sampai Rp30 juta, tergantung masa kerja.

Di sisi lain, lowongan kerja di pabrik tekstil Boyolali menawarkan gaji yang tidak jauh dari UMK. PT JESI JASON SURJA WIBOWO, misalnya, membuka posisi operator produksi dengan gaji Rp2.000.000–Rp2.600.000 per bulan.

PT Sri Indah Labetama menawarkan Rp2.000.000–Rp2.500.000 untuk posisi serupa. Angka-angka ini di bawah atau persis di UMK 2026 — belum termasuk lembur.

Wahono dari KSPN Boyolali menyoroti hal ini. “Beberapa karyawan kadang gajinya dapat lebih dari UMK, tapi mereka posisinya dari lembur. Misal karyawan tidak ada lembur, mereka minim sekali,” katanya.

Baca Juga: Prediksi UMK Kudus 2027 Cuma Naik ke Rp3,08 Juta? Padahal PDRB-nya Tertinggi di Jateng

“Negeri Susu” yang Tidak Lagi Manis

Julukan “Negeri Susu” juga tidak serta-merta menjamin kesejahteraan. Boyolali adalah salah satu daerah penghasil susu terbesar di Jawa Tengah.

Tapi industri pengolahan susu skala besar sering kali lebih memilih impor susu bubuk daripada menyerap susu segar lokal dalam jumlah besar.

Peternak sapi perah di Boyolali, seperti di Pasuruan, menghadapi kenyataan pahit ketika hasil perah mereka tidak terserap optimal oleh industri.

Artinya, ada dua mesin ekonomi di Boyolali — tekstil dan susu — yang sama-sama besar, tapi tidak sama-sama mengangkat upah di tingkat bawah. Pabrik garmen menyerap ribuan pekerja dengan gaji mendekati UMK.

Peternak sapi perah berjuang dengan harga susu yang tidak selalu berpihak. Dan pekerja lajang di keduanya tetap harus mencari penghasilan sampingan untuk menutup gap.

“Saya lajang tapi ternyata kebutuhan hidup lebih tinggi dari gaji saya,” kata Luqman Hakim, seorang pekerja di Boyolali. Ia akhirnya membuka usaha rental outdoor dan mengambil pekerjaan sampingan sebagai editor video.

Jadi, Akankah “Berkah Pabrik Tekstil” Menopang Upah Tinggi?

Tahun 2027? Belum.

Investasi tekstil di Boyolali memang besar. Pabrik-pabrik baru akan berdiri. Tapi selama UMK 2027 masih di kisaran Rp2,73–2,78 juta, dan KHL sudah di Rp3,57 juta, “berkah” itu akan terasa seperti beban yang dibungkus harapan.

Pekerja di pabrik garmen tetap akan mengandalkan lembur untuk sekadar mendekati KHL. Pekerja di sektor susu tetap akan berjuang dengan harga yang tidak menentu.

Dan anak-anak muda Boyolali akan tetap melihat ke Semarang atau Salatiga, tempat upah sedikit lebih tinggi untuk pekerjaan yang sama.

Wahono pernah mengatakan hal yang getir: “Makanya beberapa pekerja di Boyolali larinya ke Kabupaten Semarang dan Salatiga. Kebutuhan hidup sama, indekos sama juga harganya. Kesenjangan yang tidak adil ini” .

Boyolali tidak perlu malu disebut “Negeri Susu”. Tapi selama UMK-nya masih di bawah KHL, dan pabrik-pabrik tekstilnya membayar mendekati batas minimum, julukan itu akan tetap jadi slogan pariwisata — bukan janji kesejahteraan di slip gaji.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.