Jateng

Prediksi UMK Magelang 2027 Cuma Naik ke Rp2,8 Juta? Padahal Borobudur Hasilkan Rp134 Miliar

Theo Adi Pratama | 30 Oktober 2026, 08:26 WIB
Prediksi UMK Magelang 2027 Cuma Naik ke Rp2,8 Juta? Padahal Borobudur Hasilkan Rp134 Miliar
Foto Ilustrasi - Prediksi UMK Magelang 2027

JATENG.AKURAT.CO, UMK Magelang 2027 diproyeksi cuma naik ke kisaran Rp2,8 juta, sementara geliat pariwisata Borobudur—dari Waisak Rp134 miliar sampai maraton yang menargetkan Rp100 miliar—belum tentu menetes ke slip gaji pekerja lokal yang rata-ratanya masih mentok di Rp2,4–3,4 juta.

Kabupaten Magelang punya alasan untuk sombong. Gerbangnya adalah Candi Borobudur, salah satu keajaiban dunia.

Tahun 2026, perayaan Waisak di kawasan itu disebut menggerakkan ekonomi hingga Rp134 miliar dalam sebulan, menyerap sekitar 1.000 warga lokal, dan membuat okupansi penginapan menyentuh 95 persen .

Borobudur Marathon 2026 bahkan menaikkan kuota menjadi 12.500 pelari dan menargetkan perputaran uang Rp100 miliar, naik dari Rp67 miliar pada 2025 .

Tapi di balik angka-angka itu, ada satu kenyataan yang jarang masuk berita pariwisata: UMK-nya masih di bawah Rp3 juta.

Baca Juga: Prediksi UMK Cilacap 2027: Naik Rp208–263 Ribu, Cukup Buat Apa di Kota Industri?

UMK 2026: Naik 13,52 Persen, Tapi Masih “Uang Bertahan Hidup”

Tahun 2026, UMK Kabupaten Magelang ditetapkan Rp2.607.790 . Angka ini memang naik signifikan—sekitar 13,52 persen dari tahun sebelumnya—dan menempatkannya sebagai yang tertinggi di eks-Karesidenan Kedu . Kota Magelang, yang secara administratif terpisah, hanya Rp2.429.285 .

Kenaikan dua digit itu terdengar menggembirakan. Tapi perhatikan basisnya. Sebelumnya, UMK Kabupaten Magelang masih di kisaran Rp2,3 juta.

Jadi, lonjakan 13,52 persen itu sebagian besar adalah koreksi dari ketertinggalan, bukan lompatan kesejahteraan. Dan bahkan setelah koreksi itu, angkanya masih di bawah Rp3 juta.

Baca Juga: Prediksi UMK Banyumas 2027 Cuma Naik ke Rp2,7 Juta? Mahasiswa Purwokerto Butuh Rp3,3 Juta

Simulasi 2027: Naik, Tapi Tidak Sampai ke “Layak”

Pembahasan UMK 2027 di Jawa Tengah masih berlangsung, dan buruh lewat KSPI mengusulkan kenaikan 7,5 sampai 9,5 persen . Kalau usulan itu dipakai, simulasi untuk Magelang terlihat seperti ini:

Wilayah

UMK 2026

Naik 7,5%

Naik 9,5%

Kab. Magelang

Rp2.607.790

Rp2.803.374

Rp2.855.530

Kota Magelang

Rp2.429.285

Rp2.611.481

Rp2.660.067

Sumber: simulasi berdasarkan UMK 2026 dan usulan KSPI

Angka-angka itu bukan keputusan resmi. Tapi arahnya jelas: Kabupaten Magelang akan mendekati Rp2,9 juta, Kota Magelang akan bertahan di bawah Rp2,7 juta.

Naik sekitar Rp200 ribu sampai Rp250 ribu dari UMK 2026. Cukup buat nambah dua-tiga kali makan di warung, tapi belum cukup buat mengubah cara hidup.

Baca Juga: Prediksi UMK Kudus 2027 Cuma Naik ke Rp3,08 Juta? Padahal PDRB-nya Tertinggi di Jateng

Pariwisata Borobudur: Rp100 Miliar di Atas, Rp2,4 Juta di Bawah

Ini bagian yang paling getir. Kawasan Borobudur menyumbang perputaran ekonomi yang luar biasa. Tapi gaji rata-rata pekerja di kawasan itu, berdasarkan data Glints, hanya Rp2,4 juta sampai Rp3,4 juta per bulan . Buruh bangunan di proyek-proyek sekitar Borobudur bahkan menerima sekitar Rp100.000 per hari .

Artinya, seorang pekerja di kawasan wisata yang perputaran uangnya ratusan miliar itu bisa jadi hanya menerima upah yang setara atau sedikit di atas UMK. Pariwisata memang menggerakkan ekonomi. Tapi ekonomi yang bergerak itu tidak otomatis mengangkat upah di tingkat paling bawah.

Hotel dan homestay mungkin penuh. UMKM mungkin kebanjiran pesanan. Tapi barista, housekeeping, pelayan, dan pekerja informal di sekitar Borobudur tetap bergantung pada UMK—atau bahkan kurang dari itu.

KHL: Angka yang Tidak Pernah Muncul di Simulasi

Salah satu masalah dalam simulasi UMK adalah KHL (Kebutuhan Hidup Layak) sering kali tidak menjadi acuan utama.

Di Kabupaten Magelang, UMK memang pernah disebut mencapai 100 persen KHL dalam beberapa tahun terakhir . Tapi itu klaim lama, dan tidak serta-merta berlaku untuk 2027.

Kalau UMK 2027 hanya naik ke Rp2,8 juta, sementara biaya hidup—terutama di kawasan wisata yang harga makanannya cenderung lebih mahal—terus naik, maka “100 persen KHL” itu bisa jadi hanya angka di atas kertas.

Pekerja di Borobudur tidak makan di restoran hotel. Mereka makan di warung. Tapi harga warung di kawasan wisata tidak pernah serendah harga warung di kampung.

Jadi, Efek Pariwisata Borobudur ke UMK 2027?

Jawabannya: belum signifikan.

Pariwisata Borobudur menggerakkan ekonomi, menyerap tenaga kerja, dan menaikkan pendapatan daerah. Tapi manfaat itu belum turun menjadi upah yang layak bagi pekerja di garis depan.

Selama UMK masih di bawah Rp3 juta dan gaji rata-rata di kawasan wisata masih Rp2,4–3,4 juta, narasi “efek Borobudur” akan tetap jadi slogan pariwisata, bukan kenyataan di slip gaji.

Yang bisa dikejar tahun depan bukan “upah tinggi” secara umum, melainkan upah sektoral pariwisata yang lebih tinggi dari UMK.

Atau, lebih mendasar: memastikan hotel, restoran, dan operator wisata di kawasan Borobudur membayar pekerja mereka di atas UMK, bukan persis di angka minimum.

Karena kalau pariwisata mau disebut mengsejahterakan, buktinya bukan di banner “Borobudur”, tapi di rekening pekerja yang menyambut jutaan wisatawan setiap tahun.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.