Jateng

Es Cendol Semarang: Dari Kaki Lima sampai Kopi Kekinian, Semua Ada

Theo Adi Pratama | 14 Oktober 2026, 10:53 WIB
Es Cendol Semarang: Dari Kaki Lima sampai Kopi Kekinian, Semua Ada

JATENG.AKURAT.CO, Cuaca Semarang yang lagi-lagi bikin keringat mengucur deras ternyata memunculkan kreativitas kuliner yang bikin geleng-geleng kepala: dari cendol yang dicampur daging lele, sampai kopi cendol yang lebih nendang dari kopi susu kekinian.

Baca Juga: Dari Tugu Muda Sampai Nonongan: Peta Update Rute Macet Semarang-Solo Hari Ini, Rabu 14 Oktober 2026

Panas Semarang, Es Cendol Jadi Penyelamat

Siang di Semarang itu memang bukan main. Suhu yang belakangan kerap menyentuh angka 37 derajat Celsius bikin siapa pun ogah berlama-lama di luar ruangan.

Di momen seperti inilah, es cendol menjelma jadi pahlawan tanpa tanda jasa. Harganya pun bersahabat, mulai Rp8.000 sampai Rp22.000 saja per porsi.

Es cendol khas Semarang punya ciri khas yang bikin beda dari daerah lain. Gula arennya asli, santannya gurih, dan tekstur cendolnya lembut.

Bukan cendol instan yang kadang terlalu kenyal atau manisnya berlebihan.

Kalau kamu pengen yang klasik, banyak penjual kaki lima di pinggir jalan yang sudah puluhan tahun jualan. Tapi kalau mau sensasi berbeda, Semarang juga punya inovasi-inovasi unik yang mungkin belum kamu duga.

Baca Juga: Thrift Shop Semarang Naik Kelas! Modal Rp500 Ribu Bisa Jadi Bisnis Cuan, Ini Caranya

Dawet Lelica: Cendol yang Isinya Daging Lele

Jangan buru-buru bayangkan aroma amis saat mendengar nama "Dawet Lelica". Di kawasan Candi, Kota Semarang, ikan lele yang biasanya berakhir jadi pecel lele justru disulap menjadi cendol hijau yang disiram gula aren dan santan.

Ide ini muncul dari Endang Sriwati dan anggota Kelompok Budidaya Ikan Mina Candi 3 di Candisari. Tujuannya sederhana: bikin anak-anak yang anti makan ikan jadi mau menyantapnya.

"Kami berinovasi bagaimana caranya anak-anak yang tadinya enggak suka makan ikan jadi suka makan," kata Endang, seperti dikutip dari Tribunjateng.com.

Butuh perjuangan panjang sebelum akhirnya dawet lele ini jadi. Endang dan kelompoknya harus bereksperimen sedikitnya enam kali.

Tantangan terbesarnya jelas: menghilangkan aroma amis yang biasanya menempel pada ikan lele.

Mereka browsing berbagai referensi, mengoreksi racikan, dan mencoba lagi sampai akhirnya nemu formula yang pas.

Sensasi pertama kali menyantapnya cukup bikin kaget. Di balik tekstur cendol yang lembut, ada daging lele halus yang memberikan pengalaman kunyah berbeda. Rasanya manis legit, gak ada rasa amis sama sekali.

Baca Juga: Siswa SMA Jateng Merapat! Beasiswa Kuliah Oktober 2026 Ini Bisa Bikin Kamu Lupa Rasanya Nunggak UKT

Cendol Wolu: Legendaris dengan View Persawahan

Buat kamu yang cari suasana berbeda, Cendol Wolu bisa jadi pilihan. Tempat ini dikenal dengan cendol signature-nya yang lembut dan kuah santan yang gurih.

Yang bikin makin betah, lokasinya menawarkan view persawahan yang aesthetic.

Selain cendol, mereka juga punya menu berat kayak ayam geprek seharga Rp13.000 dan kerang ijo Rp15.000 yang udah termasuk nasi. Porsinya standar, tapi cukup bikin kenyang.

Harga cendolnya sendiri masih sangat ramah kantong. Cocok banget buat ngopi santai sambil ngobrol sama teman atau sekadar melarikan diri dari panasnya siang Semarang.

Baca Juga: Pekerja Muda Jateng Wajib Baca! Pinjol Ilegal Makin Canggih, Begini Cara Ngeles dari Jebakannya

Es Dawet Duren Pak Amad: Legenda yang Selalu Diburu

Kalau kamu tipe yang gak mau ketinggalan sama yang viral, Es Dawet Duren Pak Amad di Jalan Karangsaru, Jagalan, wajib masuk list.

Tempat ini sudah jadi legenda di Semarang. Kalau telat datang, siap-siap kehabisan.

Isiannya lengkap: cendol, tape ketan, alpukat, cincau, ketan putih, durian, dan nangka.

Semuanya disiram santan dan gula jawa, lalu diberi serutan es. Perpaduan manis, gurih, dan dinginnya bikin dahaga langsung sirna.

Warung ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, kecuali hari Jumat. Harga per porsinya sangat bersahabat, mulai Rp10.000 saja.

Kopi Cendol: Perpaduan Tak Terduga yang Bikin Nagih

Semarang juga punya tren minuman yang menggabungkan kopi dengan cendol. Di kafe Obsidian, kawasan Kota Lama, ada racikan Kopi Cendol yang unik.

Bedanya, santan diganti dengan krim kocok yang bikin rasanya lebih creamy.

Ini pilihan tepat buat kamu yang pengen sensasi cendol tapi tetap butuh asupan kafein. Rasanya balance antara pahitnya kopi dan legitnya cendol.

Kesimpulan

Semarang memang surganya es cendol. Dari yang klasik di pinggir jalan, inovasi dawet lele yang bikin penasaran, sampai kopi cendol yang lagi naik daun, semuanya ada. Harganya pun gak bikin dompet menjerit.

Jadi, kalau siang-siang kamu lagi kepanasan di Semarang, gak perlu bingung. Tinggal cari es cendol terdekat, dan biarkan segarnya yang bekerja.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.