Thrift Shop Semarang Naik Kelas! Modal Rp500 Ribu Bisa Jadi Bisnis Cuan, Ini Caranya

JATENG.AKURAT.CO, Buat kamu yang tiap akhir pekan sering nongkrong di depan Stadion Diponegoro atau sekadar lewat Sam Poo Kong, pasti sudah nggak asing sama pemandangan tumpukan jaket denim dan kemeja flanel yang dijajar rapi di atas terpal.
Thrift shop di Semarang memang sudah naik kelas, dari sekadar lapak kaget pinggir jalan jadi bisnis yang digandrungi anak muda.
Dan ternyata, tren ini bukan cuma fenomena lokal. Data ThredUp's 14th Annual Resale Report yang dirilis April 2026 menunjukkan pasar pakaian bekas global sudah tembus 393 miliar dolar AS, dan Gen Z serta milenial bertanggung jawab atas 71 persen pertumbuhan pasar hingga 2030.
Survei McKinsey bahkan mencatat 59 persen orang di seluruh dunia berencana beli pakaian bekas tahun ini.
Artinya, apa yang kamu lihat di lapak-lapak thrift Semarang itu bukan sekadar tren sesaat. Ini gelombang global yang kebetulan mampir ke kota kita.
Baca Juga: Siswa SMA Jateng Merapat! Beasiswa Kuliah Oktober 2026 Ini Bisa Bikin Kamu Lupa Rasanya Nunggak UKT
Dari Hobi Jadi Cuan: Cerita Pelaku Thrift Semarang
Salah satu nama yang sudah cukup dikenal di komunitas thrift Semarang adalah Yohanes, pemilik toko Awawscnd di Kelurahan Kembangarum, Semarang Barat.
Pria 31 tahun ini mulai menekuni usaha thrifting sejak 2014. Awalnya sederhana: ia sering berburu pakaian bekas di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Pon dan Pasar Legen di Klaten, bahkan sampai ke Pasar Surabaya.
Dari kebiasaan itu, Yohanes mulai menjual kembali barang-barang temuannya. Kini, omzetnya mencapai Rp4–5 juta per bulan, baik dari penjualan daring maupun lapak fisik.
"Lumayan lah, dari usaha ini saya bisa ikut event luar kota dan bantu teman-teman juga," ujarnya, seperti dikutip dari beritajateng.tv.
Cerita lain datang dari Ryan Barkaz, pemilik Kanggoroe Vintage Store di Jalan Kanguru Selatan VII, Gayamsari.
Bagi Ryan, barang bekas bukan sekadar objek yang sudah tidak terpakai. "Di dalamnya terkandung cerita tentang teknologi, selera, desain, dan kebiasaan masyarakat pada masa itu," katanya.
Minatnya pada barang lawas sudah muncul sejak SMP, saat ia senang mengumpulkan kaset pita Koes Plus.
Sementara itu, Tanti (45), pemilik lapak VictoryxOmo Store, hampir selalu ikut event Lokaria Market setiap kali digelar. Ia menyebut antusiasme orang Semarang terhadap thrifting "luar biasa".
Lapaknya mengusung konsep produk premium, sehingga setiap barang punya karakter unik dan tidak ada yang kembar. "Yang bikin kita spesial, kita barangnya premium semua," ujarnya, dikutip dari Ayosemarang.com.
Baca Juga: Pekerja Muda Jateng Wajib Baca! Pinjol Ilegal Makin Canggih, Begini Cara Ngeles dari Jebakannya
Kenapa Thrift Makin Digandrungi?
Ada beberapa alasan yang bikin thrift shop Semarang makin ramai. Pertama, harga pakaian baru yang terus naik. Keisya, mahasiswa Unnes, bilang dengan Rp30.000 ia bisa dapat celana bagus.
"Kalau beli baru, harganya bisa sampai Rp150.000. Kadang kalau lagi beruntung bisa dapat jackpot merek bagus," ujarnya, dikutip dari Suara Merdeka.
Kedua, kualitas. Banyak pakaian bekas impor justru punya bahan yang lebih tebal dan jahitan lebih rapi dibanding fast fashion baru.
Survei konsumen secara konsisten menempatkan nilai uang, kualitas, dan keunikan produk jauh di atas kesadaran lingkungan sebagai alasan utama berbelanja pakaian bekas.
Ketiga, faktor komunitas. Event seperti Lokaria Market dan Semarang Thrift Day bukan cuma tempat jual beli, tapi juga ajang kumpul anak muda.
Hampir 50 persen pembeli menemukan barang thrift melalui media sosial dan konten kreator, bukan lewat pencarian biasa.
Baca Juga: Mahasiswa UNNES dan UNDIP Wajib Tahu! Laptop Rp4-5 Jutaan Ini Bikin Tugas Kuliah Nggak Bikin Emosi
Tapi, Ada Tantangan yang Mengintai
Bisnis thrift di Semarang nggak selalu mulus. Kebijakan pelarangan impor pakaian bekas yang digaungkan pemerintah sejak akhir 2025 mulai terasa dampaknya.
Eddy (22), pedagang di Lokaria Market, mengaku penjualannya menurun drastis. "Kebijakan pelarangan impor pakaian bekas bikin barang luar susah masuk. Jadi sekarang cuman sedikit, terus harganya juga mahal," ujarnya dikutip dari Kompas.com.
Yohanes juga mengkritik kebijakan ini. Menurutnya, pelarangan thrift dengan dalih melindungi UMKM lokal kurang relevan. "Semua usaha punya market sendiri. Kami pelaku thrift seperti dikambinghitamkan atas masalah negara yang tidak bisa membuka lapangan pekerjaan," tegasnya.
Lokasi Thrifting Favorit di Semarang
Buat kamu yang mau mulai berburu, ini beberapa spot yang wajib dikunjungi:
Stadion Diponegoro (Karangkidul): Buka Sabtu malam pukul 00.00 WIB hingga Minggu pagi pukul 09.00 WIB. Puluhan pedagang menawarkan pakaian dengan harga mulai Rp10.000 hingga Rp100.000.
Depan Sam Poo Kong: Pasar kaget thrifting yang ramai setiap malam Minggu.
Pasar Klithikan Penggaron: Pusat berburu baju murah. Kalau pandai menawar dan datang subuh, kemeja atau kaos bisa didapat mulai Rp10.000–Rp20.000 per potong.
Lokaria Market (Legacy Convention Hall): Event thrifting yang rutin digelar, biasanya menghadirkan puluhan pedagang dengan produk premium.
New Pasar Maling di Pasar Johar: Konsep baru yang menghidupkan kembali ikon legendaris Semarang, menjual barang antik, pakaian bekas layak pakai, hingga kuliner.
Tips Memulai Bisnis Thrift Modal Rp500 Ribu
Buat kamu yang tertarik nyemplung ke bisnis ini, sebenarnya nggak perlu modal besar. Menurut panduan dari IDN Times, dengan Rp500.000 kamu sudah bisa mulai:
Rp350.000 untuk belanja 20 potong baju (hunting satuan @Rp17.500)
Rp50.000 untuk laundry, detergen, dan pewangi
Rp50.000 untuk kemasan dan label estetik
Rp50.000 untuk transportasi dan kuota internet
Kalau 20 baju laku terjual dengan harga Rp45.000 per potong, total omzet mencapai Rp900.000. Setelah dikurangi modal, keuntungan bersih sekitar Rp400.000. Lumayan, kan?
Intinya, thrift shop di Semarang bukan cuma soal gaya atau hemat.
Ini sudah jadi ekosistem bisnis yang nyata, dengan pelaku usaha yang serius, komunitas yang solid, dan pasar yang terus tumbuh.
Kalau kamu masih ragu mulai, mungkin sekarang waktunya ngoprek dan cari bal pertama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Drama VAR! Persib vs Dewa United, Maung Dibikin Geram! Penalti di Akhir Laga Tak Diberikan
- 3Prediksi Skor Deltras FC vs Persela Lamongan: Duel Sengit Perebutan Puncak Klasemen Pegadaian Championship 2026/27
- 4Kapan Balapan F1 Berikutnya? GP Amerika Serikat 2026 di Austin, Ini Jadwal Lengkapnya
- 5MotoGP Mandalika 2026: Acosta dan Marquez Saling Memberi Posisi demi Hindari Penalti
- 6Ofero Ride Fest 2026 Hadir di Semarang, Kenalkan Motor Listrik Carria 1 dengan Jarak Tempuh 130 Kilometer
- 7Semarang Heritage Night Run 2026 Hadirkan Sensasi Lari Malam di Tengah Kekayaan Budaya Kota Lama
- 8Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 9Cegah Pembayaran Upah Tak Sesuai Kinerja, Pemkot Semarang Perkuat Sistem Evaluasi PJLP
- 10Google Maps Bukan Satu-satunya! Ini 7 Aplikasi Pantau Kemacetan Pagi di Jalur Semarang-Solo




