Menemukan Pesona Masa Lalu Kuliner Nusantara: Melacak Sejarah serta Asal Usul Kue Apem yang Dipercaya Memiliki Makna Ampunan

JATENG.AKURAT.CO, Kue apem, salah satu kuliner nusantara yang masih menjadi favorit banyak orang, terutama di kalangan masyarakat Jawa, tidak hanya memikat lidah dengan rasanya yang lezat, tetapi juga menyimpan nilai-nilai budaya dan sejarah yang menarik.
Berasal dari Mekah, kue apem dipercaya dibawa ke Jawa oleh seorang ulama bernama Ki Ageng Gribig, yang menyebarkannya di daerah Jatinom, Klaten.
Cerita legenda menyebutkan bahwa Ki Ageng Gribig membagikan kue apem kepada penduduk setelah pulang dari ibadah haji, meskipun jumlahnya terbatas.
Sejak saat itu, kue ini menjadi populer dan disebut sebagai simbol permohonan ampun kepada Tuhan.
Nama "apem" sendiri diyakini berasal dari kata bahasa Arab, "afwan" atau "affuwun", yang berarti maaf atau ampunan.
Dalam bahasa Jawa, sulit mengucapkan kata tersebut, sehingga masyarakat Jawa menyebutnya "apem".
Bentuk bulat kue apem melambangkan tempat berdoa atau sarana penghubung dengan Tuhan.
Selain itu, apem juga melambangkan kesederhanaan, terlihat dari bahan-bahan pembuatannya yang mudah didapatkan dan proses pembuatannya yang sederhana.
Makna filosofis ini mengajarkan manusia tentang rasa syukur atas nikmat Tuhan.
Pengertian ini juga tercermin dalam tradisi pembagian kue apem kepada tetangga dan sanak saudara, mengingatkan akan pentingnya berbagi dalam kehidupan.
Tradisi-tradisi yang melibatkan kue apem juga memperkaya kehidupan masyarakat Jawa.
Misalnya, tradisi Saparan di Jatinom, yang diselenggarakan setiap bulan Safar, di mana ribuan kue apem disebarkan kepada masyarakat yang hadir, serta tradisi Ruwahan, yang dilakukan untuk mendoakan arwah leluhur dengan membagikan makanan kepada tetangga dan melakukan ziarah ke makam.
Kue apem mengajarkan kita untuk selalu memohon ampunan kepada Tuhan, menyadari kesalahan, dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
Selain itu, mengingatkan kita untuk selalu dekat dengan Tuhan, melakukan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
Baca Juga: Sinopsis Cell dan Tekken 2 Kazuyas Revenge dan Jadwal Siaran TV TransTV Senin 29 April 2024
Selain itu, kue apem juga mendorong kita untuk senang bersedekah, menumbuhkan rasa syukur, dan menyayangi sesama.
Dengan begitu, kue apem tidak hanya menjadi hidangan lezat, tetapi juga simbol dari kearifan lokal dan tradisi yang kaya, mengajarkan nilai-nilai yang penting bagi kehidupan bermasyarakat.
Dengan mempertahankan dan mempraktikkan tradisi-tradisi yang melibatkan kue apem, kita dapat merajut kembali hubungan yang erat dengan budaya dan sejarah nenek moyang kita.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 3LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 4UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 5Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 6Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 7Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 8CEK! Viral Pelari JRF 2026, Mengenal Flag-Off Time, Gun Time, dan Chip Time
- 9Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini
- 10Mengenal Sel Energi Prana untuk Keseimbangan Hidup Holistik








