Jateng

Klenteng Dewi Kwan Im: Jejak Sejarah dan Tradisi Spiritual di Palembang

Theo Adi Pratama | 3 Februari 2024, 06:00 WIB
Klenteng Dewi Kwan Im: Jejak Sejarah dan Tradisi Spiritual di Palembang

AKURAT.CO Sejarah, Klenteng Dewi Kwan Im, yang juga dikenal dengan sebutan Klenteng Candra Nadi Soei Goeat Kiong, merupakan salah satu warisan bersejarah di kota Palembang, Indonesia.

Terletak di kawasan 9/10 Ulu Palembang, klenteng ini telah berdiri tegak sejak tahun 1773 pada masa Kesultanan Palembang Darussalam dan era Kolonial Belanda.

Berada tak jauh dari Jembatan Ampera, klenteng ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan berbagai fakta menarik yang memperkaya keberagaman budaya di kota ini.

Baca Juga: Menapaki Sejarah dan Kebudayaan: Perjalanan Klenteng Hoo Tong Bio di Banyuwangi

1. Sejarah Klenteng Dewi Kwan Im

Klenteng ini menjadi saksi bisu perkembangan Palembang sejak lebih dari dua abad lalu.

Dibangun pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, klenteng ini memiliki nilai historis yang kaya, mencerminkan perpaduan budaya Tionghoa dan lokal.

Keberadaannya telah melewati berbagai zaman, dari pemerintahan Kesultanan Palembang hingga masa penjajahan Belanda, dan hingga saat ini, klenteng ini masih menjadi tempat ibadah bagi umat Tionghoa di Palembang.

2. Tradisi Menarik di Klenteng Dewi Kwan Im

Salah satu ciri khas Klenteng Dewi Kwan Im yang membedakannya dari klenteng lainnya adalah kebijakan terkait sesaji.

Di malam perayaan Imlek, sebuah tradisi unik dapat ditemui di klenteng ini.

Berbeda dengan kebanyakan klenteng, Klenteng Dewi Kwan Im tidak mengizinkan penyajian atau pengorbanan darah babi dan anjing.

Kebijakan ini dipengaruhi oleh kisah pernikahan antara warga Tionghoa dan umat Muslim, terutama yang berkaitan dengan sejarah Pulau Kemaro dan Kampung Kapitan.

Legenda Putri Palembang, Siti Fatimah, yang menikah dengan Pangeran China Tan Bon An, juga memberikan pengaruh signifikan terhadap kebijakan ini.

Baca Juga: Eksplorasi Sejarah dan Kebudayaan: Klenteng Tek Hay Kiong Tegal di Jawa Tengah

3. Struktur dan Keindahan Klenteng

Jika Anda berkunjung ke Klenteng Dewi Kwan Im, Anda akan segera disambut oleh aroma dupa yang khas.

Dupa dianggap sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Thien atau Tuhan.

Di dalam klenteng, terdapat 12 meja yang digunakan sebagai tempat berdoa.

Setiap meja mewakili tingkatan dewa, dengan meja pertama diperuntukkan bagi Tuhan Yang Maha Esa.

Etika yang ketat berlaku di klenteng ini, di mana setiap pengunjung diharapkan untuk menghormati tingkatan dewa yang ada.

4. Kepercayaan Spiritual dan Pengobatan di Klenteng

Warga keturunan Tionghoa yang berkunjung ke Klenteng Dewi Kwan Im memiliki kepercayaan tersendiri terkait pengobatan penyakit.

Dewi Kwan Im, yang dianggap sebagai penolong orang yang menderita, diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Cerita-cerita legendaris menceritakan pengalaman umat yang mendapatkan kesembuhan setelah berdoa dan mengikuti ritual tertentu di klenteng ini.

Misalnya, ada kisah tentang seorang yang menderita kanker rahang dan mendapatkan obat melalui cara unik yang melibatkan nomor obat yang diambil melalui pengocokan batang bambu kecil.

Baca Juga: Eksplorasi Sejarah dan Keindahan Klenteng Kwan Sing Bio di Tuban, Jawa Timur

Klenteng Dewi Kwan Im tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi dan sejarah yang kaya.

Dengan keunikan tradisi sesaji dan kepercayaan spiritual yang dimilikinya, klenteng ini terus menjadi salah satu destinasi spiritual dan budaya yang menarik di Palembang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.