Jateng

Eksplorasi Sejarah dan Kebudayaan: Klenteng Tek Hay Kiong Tegal di Jawa Tengah

Theo Adi Pratama | 2 Februari 2024, 12:00 WIB
Eksplorasi Sejarah dan Kebudayaan: Klenteng Tek Hay Kiong Tegal di Jawa Tengah

AKURAT.CO Sejarah, Klenteng Tek Hay Kiong Tegal, yang terletak di Jalan Gurame No.2 Tegal, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu perjalanan waktu sejak abad ke-19.

Dalam keyakinan masyarakat setempat, klenteng ini diyakini telah berdiri lebih dari 300 tahun, menyimpan kekayaan sejarah dan budaya.

Baca Juga: Sejarah Klenteng Kim Tek Le (Jin De Yuan): Keindahan dan Kebijaksanaan yang Abadi di Tengah Jakarta

Asal Mula dan Restorasi

Klenteng ini didirikan pada zaman Dinasti Qing dan mengalami pemugaran pada tahun 1837 oleh Kapiten Tan Koen Hway bersama warga setempat.

Dalam sejarahnya, kelenteng ini memiliki nama asli Klenteng Cin Jin Bio atau Zhen Ren Miao, sebelum kemudian diubah menjadi Klenteng Tek Hay Kiong Tegal.

Dewa Utama: Kwee Lak Kwa atau Tek Hay Cin Jin

Dewa utama yang dipuja di Klenteng Tek Hay Kiong adalah Kwee Lak Kwa, yang memegang gelar "Tek Hay Cin Jin".

Dalam ajaran Taoisme, Tek Hay Cin Jin dianggap sebagai manusia sejati yang datang dari laut dan membawa kebijaksanaan seluas lautan.

Oleh karena itu, Klenteng Tek Hay Kiong diartikan sebagai tempat ibadah lautan kebijaksanaan, yang menjadi kediaman Kongco Tek Hay Cin Jin.

Baca Juga: Mengenal Klenteng Tien Kok Sie, Tanda Eksistensi Etnis Tionghoa di Kota Solo

Kongco Tek Hay Cin Jin: Pahlawan dan Pemberi Ilmu

Menurut cerita, Kongco Tek Hay Cin Jin adalah seorang yang pemberani, rajin, dan ramah.

Datang dari Tiongkok pada tahun 1733, ia tidak hanya berdagang di sekitar kota-kota pesisir Pantai Utara Jawa, termasuk Kota Tegal, tetapi juga membagikan ilmu-ilmu, seperti pengetahuan, bercocok tanam, berdagang, dan bahkan seni arsitektur seperti pembangunan kelenteng.

Peran dalam Perlawanan terhadap VOC

Kongco Tek Hay Cin Jin diketahui sebagai tokoh di balik perlawanan terhadap VOC pada tahun 1741-1742, yang dikenal sebagai "Perang Cina".

Dalam perlawanan ini, Tek Hay Cin Jin memainkan peran kunci, memimpin pasukan melawan penjajah Belanda hingga mengusir mereka mundur hingga ke Tegal.

Baca Juga: Klenteng Tay Kak Sie, Salah Satu Klenteng Terbesar di Kota Semarang dengan Ornamen yang Indah

Meninggal dalam Perjalanan Dagang di Laut

Ironisnya, Tek Hay Cin Jin tidak meninggal dalam perlawanan melawan Belanda, melainkan saat melakukan perjalanan dagang di laut.

Kapalnya diserang oleh bajak laut, dan Tek Hay Cin Jin tewas bersama para anak buahnya.

Meskipun begitu, jasanya tetap dihormati, dan Klenteng Tek Hay Kiong didirikan sebagai penghormatan atas semua kebaikan dan jasa-jasanya.

Klenteng Sebagai Pusat Budaya dan Religius

Klenteng Tek Hay Kiong Tegal menjadi pusat "Tek Hay Cin Jin" dari beberapa kelenteng di Indonesia, termasuk Jakarta, Semarang, Bandung, Kuningan, Brebes, dan Indramayu.

Setiap tahunnya, kelenteng ini mengadakan kirab pada perayaan Cap Go Meh dan Sejit Kongco Ceng Gwan Cin Kun.

Kirab Budaya dan Warisan Kebudayaan

Kirab budaya yang diadakan Klenteng Tek Hay Kiong menjadi magnet bagi pengunjung dari berbagai daerah.

Selain sebagai upaya pelestarian budaya leluhur, kirab ini juga menjadi daya tarik wisata di Kota Tegal.

Diikuti oleh warga Tionghoa maupun warga lokal, kirab budaya ini menjadi wujud nyata dari keberagaman dan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.

Baca Juga: Sejarah Tarian Barongsai: Tradisi Penuh Makna dalam Perayaan Tahun Baru Imlek

Tempat Ibadah dan Destinasi Wisata

Klenteng Tek Hay Kiong tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Tri Dharma di Kota Tegal, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik.

Kecantikan arsitektur dan keindahan lingkungan klenteng menjadikannya tempat yang menarik untuk dinikmati oleh semua pengunjung, tak hanya mereka yang datang untuk bersembahyang, tetapi juga mereka yang ingin menikmati keindahan kisah dan budaya yang disimpan oleh klenteng ini.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.