Jateng

Peninggalan Bangunan Sejarah: Monumen Segoroyoso, Jejak Perencanaan Strategis dalam Perang Kemerdekaan

Theo Adi Pratama | 18 Januari 2024, 13:00 WIB
Peninggalan Bangunan Sejarah: Monumen Segoroyoso, Jejak Perencanaan Strategis dalam Perang Kemerdekaan

AKURAT.CO Sejarah, Monumen Segoroyoso, didirikan pada tahun 1983, menjadi saksi bisu dari aktivitas Presiden Suharto dan para pejuang kemerdekaan Indonesia pada masa perang kemerdekaan.

Dengan tulisan Prasasti Segoroyoso tahun 1948-1949, monumen ini memperingati peristiwa penting ketika Komandan Wehrkreise III Letkol Suharto bersama-sama para pejuang berusaha merencanakan persiapan dan menyusun strategi Serangan Umum 1 Maret 1949.

Namun, pertemuan ini sayangnya berakhir dengan kegagalan karena rencana mereka terbongkar oleh mata-mata Belanda.

Baca Juga: Misteri Gunung Sinabung: Erupsi, Mitos, dan Sejarah yang Mengguncang Sumatra Utara

Detail Monumen Segoroyoso

Monumen Segoroyoso menghadap ke arah selatan dan terdiri dari sebuah bangunan rumah dan pendopo.

Bangunan rumah berdenah pergi panjang dengan ukuran 7,20 m x 5,30 m, sedangkan pendopo berdenah persegi panjang dengan ukuran 5,40 m x 6,20 m.

Kondisi pendopo saat ini hanya menyisakan batur setinggi 64 cm akibat runtuhnya akibat gempa pada tahun 2006.

Struktur batur ini ditutup oleh lantai tegel abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm.

Kondisi Pendopo dan Bangunan Rumah

Bangunan rumah yang masih berdiri tegak memperlihatkan sejarah yang tertanam dalam dindingnya.

Di Monumen Segoroyoso, bekas pertemuan strategis yang diadakan oleh Letkol Suharto dan para pejuang tampaknya masih hidup dalam setiap retakan bangunan tersebut.

Prasasti Segoroyoso tahun 1948-1949 menjadi pengingat kuat akan perjuangan dan keteguhan hati dalam merencanakan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Baca Juga: Sejarah dan Juga Perjalanan Pulo Kenanga di Kompleks Pesanggrahan Tamansari: Keindahan yang Tersembunyi

Undakan dan Struktur Pendopo

Di sisi utara pendopo, terdapat undakan yang menghubungkan pendopo dengan bangunan rumah.

Sisa-sisa bekas berdirinya sokoguru dan saka penanggap memberikan gambaran tentang keberadaan unsur keagamaan dan spiritual dalam pertemuan tersebut.

Bekas umpak sokoguru berjumlah empat buah, dengan ukuran 40 cm x 40 cm, sementara bekas umpak saka penanggap berjumlah 12 buah, masing-masing berukuran 35 cm x 35 cm.

Undakan yang Mempertegas Sejarah

Setiap sisi pendopo dilengkapi dengan undakan. Di sisi barat, selatan, dan timur, terdapat dua undakan dengan panjang 250 cm dan lebar 20 mm, serta tinggi 10 cm masing-masing.

Undakan ini bukan hanya elemen arsitektural, tetapi juga menjadi jejak konkrit dari peristiwa penting yang pernah terjadi di sini.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Masjid Sulthoni: Keanggunan Arsitektur di Kompleks Kepatihan

Monumen Segoroyoso, dengan segala elemennya yang tersisa, mengajak kita untuk merefleksikan peristiwa bersejarah yang terjadi di masa lalu.

Melalui peninggalan ini, kita diingatkan akan keberanian dan tekad para pejuang yang berjuang untuk meraih kemerdekaan Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.