Jateng

Sejarah dan Perjalanan Masjid Sulthoni: Keanggunan Arsitektur di Kompleks Kepatihan

Theo Adi Pratama | 16 Januari 2024, 15:00 WIB
Sejarah dan Perjalanan Masjid Sulthoni: Keanggunan Arsitektur di Kompleks Kepatihan

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Sulthoni, sebuah gemerlap spiritual di tengah kompleks Kepatihan, menyimpan sejuta cerita dalam balutan arsitektur megahnya.

Didirikan bersamaan dengan pembangunan nDalem Kepatihan, masjid ini menjadi saksi bisu keagungan Sri Sultan Hamengku Buwana I, seorang pemimpin bijaksana pada masanya.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Kota Salatiga: Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Tamansari

Fungsi dan Peran Kompleks Kepatihan

Kompleks Kepatihan bukan semata tempat tinggal Pepatih Dalem Kanjeng Raden Arya Adipati Danureja, melainkan sebuah pusat kekuasaan yang menjadi pangkalan tata laksana pemerintahan.

Sebagai pemimpin tertinggi setingkat dengan perdana menteri, Pepatih memiliki kediaman yang luas dan megah, termasuk sebuah masjid yang disebut Masjid Sulthoni.

Keanggunan Arsitektur Masjid Sulthoni

Masjid Sulthoni memancarkan keelokan dengan atap tajug lawakan lambang teplok yang dihiasi penutup atap genting.

Konstruksi atap ini disangga oleh empat soko guru, memberikan kesan kokoh dan anggun.

Liwan, sebagai ruang utama masjid, memiliki dimensi 9 x 9 m, berbentuk bujur sangkar, lengkap dengan mihrab dan mimbar.

Tidak hanya itu, di dinding liwan sisi barat, jendela berdaun ganda (kupu tarung) menambah sentuhan artistik pada bangunan.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Gedung Papak: Jejak Peninggalan Bersejarah di Kantor Wali Kota Salatiga

Selasar yang Menyempurnakan Keindahan

Masjid Sulthoni tidak hanya membanggakan liwan dan atapnya yang megah.

Selasar tambahan di sisi utara, timur, dan selatan, berukuran lebar 7,2 m, memberikan dimensi baru pada kompleks masjid.

Selasar ini mengelilingi bangunan dengan atap limasan jebeng, ditopang oleh 32 buah kolom bata berplester.

Dengan adanya selasar ini, memberikan ruang tambahan yang memperindah dan melengkapi keutuhan arsitektur masjid.

Penambahan dan Perluasan

Bangunan Masjid Sulthoni tidak luput dari perjalanan waktu.

Terdapat inskripsi huruf Jawa yang menunjukkan tahun 1848 (1917 M) di bagian gable atap selasar, mengindikasikan penambahan pada masa itu.

Pada tahun 2013, terjadi perluasan di sisi utara, timur, dan selatan dengan atap kanopi jalusi logam ringan.

Inilah bukti bahwa Masjid Sulthoni terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Baca Juga: Perjalanan Stasiun Solo Kota: Jejak Sejarah dan Keaslian Arsitektur di Kota Solo

Warisan Kejayaan Sultan Hamengku Buwana I

Masjid Sulthoni, bersama kompleks Kepatihan, adalah warisan kejayaan Sultan Hamengku Buwana I.

Didirikan pada masa pembangunan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, masjid ini menjadi simbol perluasan dan kebesaran.

Keindahan arsitektur yang masih dapat dinikmati hingga saat ini menjadi bukti nyata betapa berharganya warisan budaya ini bagi masyarakat Yogyakarta.

Masjid Sulthoni, dengan segala keelokan dan sejarahnya, tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh para pemimpin hebat di masa lalu.

Kunjungan ke kompleks Kepatihan, khususnya Masjid Sulthoni, adalah langkah melintasi ruang dan waktu untuk merasakan keagungan masa lampau yang masih hidup dalam keanggunan arsitektur yang terjaga dengan baik.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.