Jateng

Jejak Peninggalan Sejarah Kota Salatiga: Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Tamansari

Theo Adi Pratama | 14 Januari 2024, 13:00 WIB
Jejak Peninggalan Sejarah Kota Salatiga: Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Tamansari

AKURAT.CO Sejarah, Kota Salatiga, yang terkenal dengan keindahan alamnya, juga merupakan saksi bisu dari peristiwa-peristiwa sejarah penting, terutama pada masa penjajahan Hindia Belanda.

Bangunan-bangunan peninggalan masa lalu ini menciptakan nuansa khas kolonial di sekitar Jalan Diponegoro, menghubungkan Kota Salatiga dengan Kecamatan Tuntang di Kabupaten Semarang.

Baca Juga: Perjalanan Stasiun Solo Kota: Jejak Sejarah dan Keaslian Arsitektur di Kota Solo

Peninggalan Kolonial di Jalan Diponegoro

Gapura besar bertuliskan "Selamat Datang Di Kota Salatiga" menjadi pintu gerbang yang menyambut perjalanan dari Tuntang menuju Salatiga.

Di sepanjang Jalan Diponegoro, pemandangan kota yang kental dengan arsitektur kolonial Belanda terhampar.

Bangunan-bangunan seperti Istana Djoen Eng, SMP Stela, dan GPIB Salatiga menjadi saksi bisu masa lalu yang tak terlupakan.

Pembagian Kawasan di Kota Salatiga pada Masa Lalu

Salatiga pada masa lalu memang terbagi menjadi tiga kawasan besar.

Kawasan untuk orang Eropa terletak di sekitar Jalan Diponegoro yang dulunya dikenal sebagai Toentangscheweg.

Orang China tinggal di Kalicacing atau Soloscheweg, sementara orang pribumi menempati kampung-kampung di luar kawasan tersebut.

Baca Juga: Perjalanan Kisah Pura Mangkunegaran: Keindahan Arsitektur dan Sejarah Kerajaan Surakarta

GPIB Tamansari: Peninggalan Sejarah yang Eksotis

GPIB Tamansari, sebuah bangunan bersejarah peninggalan Hindia Belanda, menjadi salah satu destinasi unik di pusat kota Salatiga.

Terletak di samping mall Ramayana, gereja ini didirikan pada tahun 1823 dan awalnya berfungsi sebagai gudang mesiu.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengubahnya menjadi Indische Kerk, yang sekarang dikenal sebagai GPIB Tamansari.

Renovasi dan Unsur Arsitektur

GPIB Tamansari memiliki nuansa kolonial yang kuat.

Bangunan ini memiliki luas 12 x 10 meter dengan dua lantai, teras seluas 3 x 3 meter, atap melengkung, jendela bergaya gotik yang meruncing ke atas, dan sebuah menara kecil dengan lonceng yang dibuat pada tahun 1928.

Renovasi kecil dilakukan pada tahun 1867, termasuk pergantian atap dari seng menjadi sirap kayu.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Benteng Vastenburg: Jejak Benteng Bersejarah Kolonial Belanda di Pusat Surakarta

Kutipan Ayat di Atas Pintu

Ketika memasuki GPIB Tamansari, pengunjung akan disambut oleh kutipan ayat dari Kitab Kejadian Pasal 28 Ayat 17 B yang tertulis di atas pintu.

Ayat ini dalam Bahasa Belanda menyatakan bahwa bangunan ini adalah "Rumah Allah dan pintu gerbang sorga."

Kutipan ini menjadi peringatan dan menegaskan bahwa bangunan ini didesain sejak awal sebagai gereja.

Peran GPIB Tamansari sebagai Bangunan Cagar Budaya

Penting untuk diingat bahwa GPIB Tamansari telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah Kota Salatiga.

Keterbatasan perawatan yang disebabkan oleh kepemilikan perorangan menjadi tantangan, namun GPIB Tamansari tetap menjadi saksi bisu peristiwa masa lalu yang harus dilestarikan.

Baca Juga: Gedung Lawas Bank Indonesia Solo: Jejak Sejarah yang Terwujud dalam Arsitektur Modern

GPIB Tamansari, dengan segala keunikan arsitekturnya dan sejarah yang terkandung di dalamnya, tetap menjadi tempat ibadah bagi komunitas Protestan.

Dalam menjaga dan melestarikan bangunan bersejarah seperti GPIB Tamansari, kita tidak hanya merawat benda mati, tetapi juga menyimpan dan menghormati cerita hidup yang telah terukir di dinding-dindingnya selama bertahun-tahun.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.