Jateng

Misteri dan Sejarah Gunung Tidar: Legenda dan Asal-Usul yang Menakjubkan

Theo Adi Pratama | 5 Desember 2023, 05:30 WIB
Misteri dan Sejarah Gunung Tidar: Legenda dan Asal-Usul yang Menakjubkan

AKURAT.CO Misteri, Gunung Tidar, yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, tidak hanya dikenal sebagai puncak yang menakjubkan secara alamiah tetapi juga memiliki kisah legendaris yang menarik.

Legenda ini telah disampaikan turun temurun, menceritakan asal-usul gunung yang unik dan perjalanan penuh tantangan seorang tokoh sakti dalam menyucikan pulau Jawa dari kehadiran bangsa jin dan menyebarkan ajaran Islam.

Baca Juga: Mengungkap Sejarah dan Misteri Pabrik Gula Pangkah: Menelusuri Jejak yang Tak Terlupakan

Legenda Gunung Tidar: Awal Mula Terbentuknya

Cerita dimulai pada zaman dahulu kala, ketika pulau Jawa disamakan dengan bentuk perahu yang terombang-ambing oleh gelombang laut.

Dewa khayangan yang melihat keadaan ini memutuskan untuk menancapkan paku bumi, yang kemudian bertransformasi menjadi Gunung Tidar.

Inilah awal mula keberadaan gunung yang menjadi saksi bisu legenda penuh misteri.

Nama "Gunung Tidar" sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu "mati lan moda," yang memiliki arti jika tidak mati, maka modar.

Konon, gunung ini menjadi pusat kerajaan gaib di Pulau Jawa, dihuni oleh bangsa jin yang memiliki ilmu kanuragan.

Kepercayaan akan kekuatan gaib Gunung Tidar begitu kuat sehingga menyulitkan upaya para ulama Islam untuk menyebarkan dakwah di tanah Jawa.

Baca Juga: Misteri Naga Rantensari Dayang Nyai Roro Kidul: Pesona dan Keunikan Obyek Wisata Guci Tegal

Kedatangan Syekh Subakir: Menghadapi Kerajaan Jin

Perubahan datang dengan kedatangan sosok sakti, Syekh Subakir, dari Persia.

Bersama tujuh pasang suami istri muridnya, Syekh Subakir berusaha menyucikan pulau Jawa dan menyebarkan ajaran Islam.

Mereka pertama kali mendarat di desa Trunan, sebuah desa di lereng gunung yang tinggi.

Rombongan ini memutuskan untuk menyusuri tebing menuju puncak gunung setelah melihat keadaan puncak yang sepi tanpa penghuni.

Namun, keberadaan makhluk gaib di puncak tersebut menyebabkan gangguan jiwa pada murid-murid Syekh Subakir.

Akhirnya, satu per satu, mereka meninggal, meninggalkan Syekh Subakir sendirian di puncak gunung yang menakutkan.

Baca Juga: Perjalanan Sejarah Keraton Kartasura: Dari Konflik Amangkurat II hingga Runtuhnya Geger Pecinan

Perjuangan Melawan Kerajaan Jin

Dengan tekad yang kuat, Syekh Subakir memohon petunjuk kepada Tuhan dan mengetahui bahwa ada sebuah pusaka tertanam di puncak gunung.

Tuhan memerintahkan Syekh Subakir untuk kembali ke Persia sementara waktu sebelum kembali untuk mengatasi kerajaan jin dan mencabut pusaka tersebut.

Setelah berpuasa selama 40 hari dan 40 malam, Syekh Subakir bersama 80 muridnya melawan keganasan raja jin dan anak buahnya.

Pertempuran sengit terjadi di puncak gunung, di mana akhirnya mereka berhasil menghancurkan kerajaan jin tersebut.

Raja jin dan anak buahnya melarikan diri ke berbagai gunung, sungai, dan laut.

Baca Juga: Mitos dan Keindahan Danau Beko: Mengeksplorasi Alam Mistis dan Misteri yang Menyelimuti di Jawa Tengah

Mengakhiri Legenda: Gunung Tidar dan Syekh Subakir

Dengan keberhasilan perjuangan melawan kerajaan jin, Gunung Tidar dan sekitarnya menjadi aman dari gangguan gaib.

Syekh Subakir, meski memiliki kesaktian untuk mencabut pusaka sakti itu, memutuskan untuk tidak melakukannya karena mengetahui tombak itu ditanam untuk keselamatan.

Gunung tersebut kemudian dinamai Gunung Tidar sebagai tanda kenangan akan perjuangan dan pengorbanan di tempat tersebut.

Syekh Subakir dan para muridnya kembali ke desa Trunan, menyebarkan dakwah Islam, dan meninggalkan jejak legendaris yang tak terlupakan di masyarakat sekitar.

Cerita ini terus diwariskan turun temurun, menjadi bagian dari kekayaan budaya dan sejarah Jawa yang kaya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.