Jateng

Perjalanan Sejarah Keraton Kartasura: Dari Konflik Amangkurat II hingga Runtuhnya Geger Pecinan

Theo Adi Pratama | 4 Desember 2023, 07:45 WIB
Perjalanan Sejarah Keraton Kartasura: Dari Konflik Amangkurat II hingga Runtuhnya Geger Pecinan

AKURAT.CO Sejarah, Sejarah Keraton Kartasura mencakup kisah yang penuh intrik, konflik politik, dan perubahan dinasti di Kerajaan Mataram Islam.

Keraton ini, yang didirikan oleh Amangkurat II pada tahun 1680, menjadi saksi perjalanan panjang yang mengubah wajah pemerintahan di Jawa Tengah.

Baca Juga: Mengeksplorasi Sejarah Megah The Heritage Palace Solo: Dari Pabrik Gula Gembongan Menjadi Destinasi Wisata Berkelas

Latar Belakang Pendirian Keraton Kartasura

Sebagai hasil dari konflik antara Amangkurat II dan Trunojoyo, seorang bangsawan dari Madura, Keraton Kartasura diresmikan pada tahun 1680.

Sebelumnya, Amangkurat II dan Trunojoyo bersekutu untuk menggulingkan pemerintahan Amangkurat I.

Namun, aliansi ini berubah menjadi konflik ketika Amangkurat II menyadari kekuatan besar yang dimiliki Trunojoyo.

Pelarian Amangkurat II ke Plered tidak berhasil menghindar dari cengkeraman Trunojoyo, yang berhasil menguasai Plered pada 2 Juli 1677.

Amangkurat I meninggal dalam pelarian tersebut, dan sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ia menunjuk Amangkurat II sebagai penggantinya.

Kabarnya, dalam pelarian ke Tegal, Amangkurat II meracuni ayahnya untuk merebut takhta.

Baca Juga: Menelusuri Sejarah dan Keindahan The Heritage Palace Solo: Destinasi Wisata Berkarakter di Jantung Jawa Tengah

Mengatasi Pemberontakan Trunojoyo dengan Bantuan VOC

Untuk menghentikan pemberontakan Trunojoyo, Amangkurat II meminta bantuan dari VOC (Kongsi Dagang Hindia Belanda).

VOC setuju membantu dengan syarat wilayah pesisir utara Jawa diberikan kepada Belanda sebagai jaminan biaya perang.

Dengan bantuan VOC, pemberontakan berhasil dihentikan pada 26 Desember 1679, dan Trunojoyo tewas pada 2 Januari 1680.

Setelah kematian Trunojoyo, Amangkurat II memerintahkan pembangunan keraton baru di Kartasura, yang kemudian dinamakan Keraton Kartasura.

Pada 11 September 1680, Amangkurat II resmi menempati Keraton Kartasura dan menjadikannya pusat pemerintahan.

Baca Juga: Misteri Gedung Kuning Semarang: Antara Megahnya Sejarah dan Aura Mistis yang Menyelubungi

Geger Pecinan dan Runtuhnya Keraton Kartasura

Keraton Kartasura menghadapi tantangan serius pada tahun 1740-an ketika Geger Pecinan terjadi di Batavia.

Pemberontakan ini, yang dipelopori oleh etnis Tionghoa, mengakibatkan situasi sulit bagi Kerajaan Mataram Islam.

Pada saat itu, Pakubuwono II, anak Amangkurat IV, memimpin Mataram, bukan Amangkurat II.

Awalnya, Pakubuwono II berpihak kepada etnis Tionghoa, tetapi setelah kegagalan menaklukkan Semarang pada 1742, ia kembali bersekutu dengan Belanda.

Keputusan ini mengecewakan etnis Tionghoa dan masyarakat Mataram, yang mengangkat Mas Garendi (Amangkurat V) sebagai raja baru.

Mas Garendi menyerbu Keraton Kartasura pada 30 Juni 1742 dan berhasil menguasainya.

Pakubuwono II dan keluarganya terpaksa kabur ke Ponorogo.

Meskipun Pakubuwono II kembali ke Kartasura pada November 1742 setelah pemberontakan mereda, Keraton Kartasura sudah mengalami kerusakan parah.

Baca Juga: Mengungkap Misteri di Gunung Arjuno: Keindahan Alam, Sejarah Pondok Lalie-Djiwo, dan Kisah Mistis yang Menyelimuti Alas Lali Jiwo

Pemindahan Pusat Pemerintahan ke Keraton Surakarta

Dengan runtuhnya Keraton Kartasura, Pakubuwono II memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Sala.

Istana baru ini, dikenal sebagai Keraton Surakarta, dibangun pada tahun 1744 dan ditempati pada tahun 1746.

Pemindahan ini menandai akhir dari era Keraton Kartasura dan dimulainya babak baru dalam sejarah pemerintahan Mataram di Jawa Tengah.

Keraton Surakarta kemudian menjadi pewaris tradisi pemerintahan Mataram Islam dan melanjutkan warisan Keraton Kartasura, meskipun dalam konteks baru yang mencerminkan perubahan zaman dan keadaan politik yang terus berubah.

Sejarah panjang ini menjadi saksi perjalanan dinasti dan perubahan yang mengguncang pemerintahan Mataram Islam pada abad ke-17 hingga abad ke-18.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.