Perjalanan Sejarah: Water Toren Magelang: Megahnya Peninggalan Belanda yang Terus Berfungsi

AKURAT.CO Sejarah, Di kota Magelang, Jawa Tengah, terdapat sejumlah bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri hingga saat ini.
Salah satu yang menonjol adalah Water Toren, sebuah menara air yang telah menjadi ikon heritage di Kota Magelang.
Terletak di sisi barat Alun-Alun Kota Magelang, bangunan ini menjadi saksi bisu perkembangan kota sejak 2 Mei 1920 hingga kini.
Sebuah Simbol Heritage
Water Toren di Kota Magelang bukan hanya sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan dan kehandalan.
Dengan ketinggian total mencapai 26,140 meter, menara ini mampu menampung sekitar 1.750 meter kubik air.
Dengan diameter bak menara air mencapai 22,46 meter, bangunan ini terdiri dari 32 tiang penyangga dan 16 ruangan di bawahnya yang dulunya digunakan sebagai laboratorium dan ruang pelayanan.
Fungsi Utama Sebagai Penampung Air
Water Toren memiliki fungsi utama sebagai penampung air untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Kota Magelang.
Pembangunannya dilakukan oleh Genie Officier dan mulai beroperasi sejak tahun 1920.
Pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, menjelaskan bahwa pembangunan ini melibatkan tenaga pribumi dari Magelang dan bahkan ada kontribusi dari Sulawesi.
Meski identitas perancangnya belum diketahui, bangunan ini dianggap sebagai karya Genie Officier, bagian dari militer Belanda.
Kondisi Megah yang Tetap Sempurna
Meskipun terdapat bangunan serupa di beberapa kota lain seperti Tegal, Grobogan, Palembang, Medan, dan Jawa Timur, Water Toren di Kota Magelang dianggap istimewa.
Bagus Priyana menekankan bahwa kondisi bangunan ini sempurna dari segala sisi.
Dibandingkan dengan bangunan serupa di kota lain, Water Toren Magelang terlihat lebih megah dan memiliki daya tahan yang luar biasa.
Usia 100 Tahun dan Sejarahnya
Water Toren Magelang merayakan usianya yang ke-100 pada Mei 2020.
Bagus Priyana mencatat bahwa saat Indonesia berjuang memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1945-1949, menara ini menjadi saksi bisu peristiwa sejarah.
Salah satu tentara Jepang yang membelot, Tanaka Mitsuyuki alias Sutoro, bahkan menembaki dua pesawat Belanda dari atas menara ini.
Fungsi Sentral Sirine dan Peran pada Masa Lalu
Selain sebagai penampung air, menara ini juga memiliki fungsi sebagai pusat sentral sirine pada masa lalu.
Pemerintah Kota Magelang menggunakan sirine untuk memberi tanda dalam situasi darurat atau bencana, memastikan keamanan masyarakat.
Sayangnya, meskipun telah kehilangan fungsi tertentu, Water Toren tetap menjadi simbol sejarah yang tak tergantikan.
Sumber Mata Air dan Peran PDAM Kota Magelang
Air bersih yang disimpan dalam Water Toren diambil dari sumber mata air Kalegen dan Wulung, Bandongan, wilayah Kabupaten Magelang.
Menara air ini menjadi penyuplai kebutuhan air bersih bagi sekitar 10.000 pelanggan PDAM Kota Magelang, terutama di wilayah Kecamatan Magelang Tengah.
Dengan total pelanggan mencapai sekitar 30.000, menara ini terus berperan dalam memastikan pasokan air yang memadai.
Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Kota Salatiga: Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Tamansari
Perawatan Berkala untuk Peninggalan Berharga
Direktur PDAM Kota Magelang, Moch Haryo Nugroho, menjelaskan bahwa baik bangunan menara maupun pipanya merupakan peninggalan Belanda.
Oleh karena itu, perawatan berkala dilakukan dengan sangat hati-hati.
Dengan menggunakan gaya gravitasi, menara ini telah melayani masyarakat Magelang dengan baik selama 100 tahun.
Menuju Masa Depan: Dari Ruang Bawah ke Museum
Ruang bawah menara yang dulunya digunakan sebagai perkantoran dan laboratorium saat ini sudah tidak berfungsi lagi.
Rencananya, ruang ini akan diubah menjadi museum untuk menjaga warisan sejarah yang dimiliki oleh Water Toren Magelang.
Jika Anda mengunjungi Magelang, jangan lewatkan untuk melihat megahnya Water Toren, sebuah ikon wisata bersejarah yang terus berdiri tegak dan berfungsi hingga hari ini.
Dengan segala keunikan dan sejarahnya, Water Toren Magelang adalah bukti nyata ketangguhan arsitektur dan keberlanjutan fungsionalitas sebuah peninggalan berharga.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 3LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 4UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 5Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 6Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 7Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 8CEK! Viral Pelari JRF 2026, Mengenal Flag-Off Time, Gun Time, dan Chip Time
- 9Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini
- 10Mengenal Sel Energi Prana untuk Keseimbangan Hidup Holistik








