Jogja Makin Ditinggal Anak Muda: Gaji Kecil, Harga Tanah Naik 20 Persen per Tahun

JATENG.AKURAT.CO, Jogja makin kehilangan alasan untuk ditinggali: UMK 2026 cuma Rp2,82 juta sementara KHL Rp4,6 juta, harga tanah naik 10–20 persen per tahun tapi upah cuma naik 1–3 persen, dan Dinsosnakertrans memprediksi angkatan kerja asli Jogja mulai menyusut pada 2030–2040.
Bayangkan Zahra, 22 tahun, lulusan diploma politeknik di Jogja. Ia bukan malas. Selama kuliah ia sudah praktik di rumah sakit dan puskesmas.
Tapi setelah lulus, ia harus rela menempuh perjalanan Yogyakarta–Jakarta demi satu hal yang seharusnya sederhana: pekerjaan.
“Ada yang sampai offering, tapi ternyata kayaknya kurang cocok karena gajinya belum cukup buat biaya kos dan kebutuhan hidup,” katanya.
Zahra bukan satu-satunya. Ia adalah potret dari pertanyaan yang makin sering muncul di grup WhatsApp angkatan: siapa yang masih mau tinggal di Jogja?
UMK Rp2,82 Juta, KHL Rp4,6 Juta: Selisih yang Tidak Pernah Selesai
Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan UMK 2026 sebesar Rp2.827.593. Angka itu memang tertinggi di DIY.
Tapi Wali Kota Hasto Wardoyo sendiri mengakui bahwa UMK tersebut masih di bawah Kebutuhan Hidup Layak (KHL) .
KHL Yogyakarta, berdasarkan data Kemnaker yang dirilis, berada di Rp4.604.982. Selisihnya Rp1,77 juta per bulan. Itu bukan angka yang bisa ditutup dengan “hemat” atau “masak sendiri”.
Komponen | Jogja 2026 |
|---|---|
UMK Kota Jogja | Rp2.827.593 |
KHL versi Kemnaker | Rp4.604.982 |
Selisih | −Rp1.777.389 |
UMP DIY | Rp2.417.495 |
Sumber: UMK Kota Jogja 2026 dan KHL Kemnaker .
Bandingkan dengan kota yang sering dijadikan “kakak” oleh warga Jogja: Surabaya. UMK Surabaya 2026 sudah Rp5.288.796. Malang Rp3.736.101.
Artinya, satu bulan kerja di Surabaya setara 1,87 bulan kerja di Jogja dengan standar upah minimum.
Bukan karena Jogja kekurangan orang pintar, tapi karena pasar kerja lokal tidak membayar sesuai dengan kepintaran itu.
Harga Tanah Terbang, Upah Merangkak
Ini bagian yang paling menyakitkan. Harian Jogja melaporkan bahwa harga tanah di DIY naik 10–20 persen setiap tahun, sementara upah buruh hanya naik 1–3 persen.
Artinya, kalau kamu menabung untuk membeli rumah di Jogja, harga tanah akan lari lebih cepat daripada kemampuanmu menabung.
Harga rumah tapak di Yogyakarta per kuartal pertama 2026 sudah menyentuh Rp11 juta per meter persegi. Apartemen Rp13,5 juta per meter persegi.
Kos di kawasan Pogung berkisar Rp600 ribu sampai Rp2 juta per bulan—angka yang sudah tidak ramah untuk pekerja bergaji UMK.
Seorang warga Condongcatur menulis di Mojok.co bahwa ibu kosnya tidak pernah menaikkan tarif sewa untuknya karena sudah dianggap “sesepuh kos”.
Tapi untuk penghuni baru, harganya sudah melonjak naik hingga Rp200 ribu lebih mahal. Artinya, yang lama diuntungkan oleh hubungan personal. Yang baru harus membayar harga pasar. Dan harga pasar di Jogja tidak pernah menoleh ke belakang.
Generasi Muda Mulai Pergi, dan Itu Bukan Isapan Jempol
Dinsosnakertrans Kota Yogyakarta memperkirakan bahwa jumlah penduduk asli yang masuk angkatan kerja akan mulai menurun pada periode 2030–2040.
Kepala Bidang Pengembangan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Erna Nur Setyaningsih, menjelaskan bahwa lulusan berpendidikan tinggi cenderung mencari pekerjaan yang sesuai dengan ekspektasi, terutama dari sisi gaji.
Masalahnya bukan hanya soal gaji. Sektor yang menopang lapangan kerja di Jogja—pariwisata, kuliner, perdagangan, dan jasa—sering kali tidak sesuai dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi.
“Ketersediaan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi dan harapan lulusan menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
Jogja punya 400 ribu mahasiswa di 135 perguruan tinggi. Tapi setelah lulus, banyak dari mereka memilih membangun karier di kota lain yang menawarkan gaji dan jenjang karier lebih menjanjikan.
Kota ini hebat dalam mendidik orang. Tapi tidak selalu hebat dalam mempekerjakan mereka setelah lulus.
“Jogja Itu Untuk Dihabiskan Uangnya, Bukan Dicari”
Kalimat itu bukan sinisme. Itu ringkasan dari sebuah artikel Mojok.co berjudul “Foya-foya enak di Jogja, kalau kerja di Malang dan Surabaya aja”.
Premisnya sederhana: Jogja punya magis yang mengikat jiwa. Tapi kalau kamu benar-benar ingin mencari uang dan mencari hidup, pindah ke Malang atau Surabaya lebih masuk akal.
Bagi warga lokal yang bertahan, pilihan itu terasa seperti pengkhianatan. Tapi apa lagi pilihannya? Kalau gaji tidak cukup untuk kos dan makan, kalau harga tanah naik lebih cepat daripada tabungan, dan kalau lowongan yang tersedia lebih banyak untuk magang daripada kerja tetap—bertahan di Jogja bukan lagi soal cinta. Itu soal kemampuan finansial yang tidak semua orang punya.
Jadi, Siapa yang Masih Mau Tinggal di Jogja?
Jawabannya: mereka yang mampu membeli kenyamanan dengan harga yang tidak masuk akal, atau mereka yang sudah pasrah hidup dalam ketidakpastian.
Jogja masih punya pesona. Udaranya masih sejuk di pagi hari. Kopinya masih enak. Budayanya masih kuat. Tapi pesona tidak bisa dipakai untuk membayar kos.
Dan selama UMK Jogja masih Rp1,7 juta di bawah KHL, selama harga tanah naik 10–20 persen per tahun sementara upah naik 1–3 persen, dan selama lulusan terbaiknya memilih Jakarta atau Surabaya, pertanyaan “siapa yang masih mau tinggal di Jogja?” akan dijawab oleh statistik, bukan oleh romansa.
Jogja tidak kehilangan daya tarik. Ia kehilangan daya tahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Agenda Bulan Bahasa, Tadris Bahasa Indonesia UIN SATU, Gelar Lomba Presenter se-Jawa Timur
- 2Prediksi UMK Cilacap 2027: Naik Rp208–263 Ribu, Cukup Buat Apa di Kota Industri?
- 3PMII Jateng Soroti Penggeledahan Pesantren Putri di Sukoharjo, Polisi Dinilai Abaikan Aspek Humanis
- 433 Negara Ramai-Ramai Minta Rakyatnya Timbun Makanan, Ada Apa Sebenarnya?
- 5APSI Matangkan Strategi Tingkatkan Kompetensi dan Martabat Profesi Satpam
- 6Miris! Silatnas BEM Muhammadiyah dan Aisyiyah di UMS Ternoda Kericuhan hingga Baku Hantam
- 7Taekwondo Semarang Koleksi Tiga Emas Porprov XVII Jateng, Ariqfallah Tambah Pundi Medali
- 8Prediksi UMK Boyolali 2027: Naik Rp190–241 Ribu, Gap ke KHL Hampir Rp800 Ribu
- 9Laga Amal Jurnalis FC Bersama Ansor dan Alfamart, Tebar Kepedulian untuk Panti Asuhan Rumah Anak Surga
- 10PPP Kota Semarang Mulai Panaskan Mesin Politik, Bidik Kebangkitan pada Pemilu 2029



