Jateng

“Kurang Sosialisasi” Itu Bukan Alasan, Tapi Jarak: Potret PKK yang Ditinggal Generasi Muda

Theo Adi Pratama | 1 November 2026, 19:09 WIB
“Kurang Sosialisasi” Itu Bukan Alasan, Tapi Jarak: Potret PKK yang Ditinggal Generasi Muda
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Kalimat “kurang sosialisasi” dari ibu-ibu senior PKK di Semarang jadi pemicu perang batin antar generasi: milenial menjawab dengan cicilan, deadline kantor, dan tagihan kos yang tidak bisa ditawar dengan arisan bulanan.

Di grup WhatsApp RT, sebuah undangan rapat PKK beredar. Isinya lengkap: hari, tanggal, jam, tempat, dan kalimat penutup yang sudah akrab di telinga: “Mohon kehadirannya, ini juga bagian dari sosialisasi.”

Beberapa jam kemudian, grup itu sunyi. Yang membaca tidak membalas. Yang membalas cuma stiker jempol.

Dan di rapat berikutnya, kursi milenial kembali kosong. Ibu-ibu senior pun menghela napas, lalu berkata: “Anak-anak muda ini kurang sosialisasi.”

Kalimat itu bukan tuduhan. Ia lebih mirip diagnosis yang ditulis dari sisi meja yang berbeda. Bagi ibu-ibu senior, PKK adalah ruang bertemu, saling kenal, dan menjaga kampung.

Bagi milenial, PKK sering kali terasa seperti rapat tambahan yang tidak dibayar, di tengah jadwal kerja yang sudah penuh dan cicilan yang tidak pernah tidur.

“Kurang Sosialisasi” Itu Bukan Alasan, Tapi Jarak

Farrah Diba membuka petisi di Change.org pada 14 Oktober 2026. Isinya bukan penolakan terhadap PKK.

Isinya keluhan tentang jadwal yang bentrok dengan jam kerja, administrasi berlapis, dan kegiatan yang digelar di hari produktif.

Dalam hitungan hari, tanda tangannya menembus 4.711 dukungan pada 24 Oktober.

Yeni Irawan, ibu pekerja yang juga ketua PKK, menulis di Threads: “Aku seorang ibu pekerja plus sebagai ketua PKK jujur lelah dg tuntutan program kegiatannya. Rasanya Armggggghhhhhhh.” Kalimat itu bukan drama. Itu pengakuan bahwa rapat bukan cuma soal hadir, tapi soal waktu yang dirampas.

Sumiati, warga Pedurungan, lebih spesifik. “Pilah sampah dan taman TOGA memang bagus. Tapi kalau dilakukan seminggu sekali, susah bagi yang bekerja. Kami juga butuh waktu untuk istirahat,” katanya, dikutip RMOL Jateng.

Bagi milenial, “kurang sosialisasi” terdengar seperti kode untuk “kamu tidak prioritaskan kampung”. Padahal, prioritas mereka sudah habis dipakai untuk hal-hal yang tidak terlihat di balik meja rapat: deadline kantor, target penjualan, cicilan motor, uang kos, dan kiriman untuk orang tua.

Sisi Senior: Bukan Sekadar Arisan, Tapi Rasa Memiliki

Ibu-ibu senior tidak salah sepenuhnya. PKK dan Dasawisma memang punya akar sosial yang kuat. Di banyak kampung, organisasi ini yang mengurus posyandu, membantu warga sakit, dan menjaga tradisi gotong royong. Ketika milenial tidak datang, mereka melihatnya sebagai hilangnya penerus.

Ketua TP PKK Kota Semarang, Lies Iswar Aminuddin, menegaskan bahwa keikutsertaan dalam PKK bukan kewajiban. “Tidak ada ketentuan bahwa setiap warga atau setiap ibu-ibu harus ikut PKK. Organisasi ini lebih banyak berorientasi pada kegiatan sosial,” tegasnya.

Tapi di lapangan, kalimat “kurang sosialisasi” sering muncul bukan dari pengurus, melainkan dari tekanan sosial antarwarga. Yang tidak datang dianggap sombong.

Yang tidak membawa jelantah dianggap tidak peduli lingkungan. Yang tidak memakai seragam dianggap tidak menghormati acara. Padahal, mereka mungkin baru pulang kerja dan belum sempat makan.

Tabel: Apa Kata Senior vs Apa Kata Milenial

Isu

Kata Ibu-Ibu Senior

Kata Milenial

Kehadiran rapat

“Kurang sosialisasi, kurang peduli kampung”

“Bentrok jam kerja, aku masih cari duit”

Seragam

“Supaya rapi dan kompak”

“Denda seragam bikin makin malas”

Jelantah

“Untuk lingkungan dan kebersihan”

“Wajib bawa 300 ml, kalau nggak kena denda”

Arisan

“Sarana silaturahmi”

“Waktunya bisa dipakai rebahan atau lembur”

Administrasi

“Itu sudah tugas kader”

“Buku manual dan link beranak pinak bikin pusing”

Sumber: rangkuman keluhan warga Semarang di Threads, Change.org, dan pemberitaan Oktober 2026.

Milenial Bukan Tidak Mau Sosialisasi, Tapi Sosialisasinya Berbeda

Milenial dan Gen Z tidak menolak bertemu orang. Mereka menolak format pertemuan yang tidak menghargai waktu. Mereka sudah terbiasa dengan diskusi singkat, agenda jelas, dan hasil yang bisa dieksekusi.

Ketika rapat PKK dimulai dengan tiga sambutan, dilanjutkan dengan cerita yang tidak relevan, dan diakhiri dengan “nanti kita bahas lagi”, mereka merasa waktunya diambil tanpa hasil.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengakui bahwa persoalannya bukan cuma aplikasi.

“Kalau saya tanya ke ibu-ibu PKK di kampung, memang banyak sekali link yang dibuat oleh PKK kota ini yang harus diisi. Kakean aplikasi. Saya minta itu disederhanakan,” katanya.

Ia juga menyoroti tumpang tindih tugas. Satu orang bisa merangkap kader PKK, kader Posyandu, dan petugas JKN. “Faktanya di masyarakat itu orangnya sama. Jadi, harus memilih,” ujarnya.

Milenial tidak menuntut PKK dibubarkan. Mereka menuntut PKK berhenti memperlakukan mereka seperti bawahan yang harus selalu siap sedia.

Kalau rapat selesai tepat waktu, agenda jelas, dan administrasi tidak berlapis, mungkin mereka akan datang.

Bukan karena takut dibilang “kurang sosialisasi”, tapi karena mereka melihat PKK sebagai tempat yang menghargai waktu, tenaga, dan kontribusi mereka.

Jadi, Siapa yang Salah?

Tidak ada yang sepenuhnya salah. Ibu-ibu senior benar bahwa kampung butuh kepedulian. Milenial benar bahwa hidup mereka sudah penuh tekanan.

Yang salah adalah format yang tidak pernah berubah, sementara zaman sudah berubah.

Kalimat “kurang sosialisasi” tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia hanya akan membuat milenial semakin menjauh.

Yang dibutuhkan bukan ceramah tentang pentingnya berkumpul, melainkan sistem yang ramah pada yang sibuk: jadwal fleksibel, administrasi ringkas, dan kehadiran yang tidak diukur dari absensi semata.

Milenial sudah bilang: “Aku udah sibuk cari duit buat cicilan.” Ibu-ibu senior sudah bilang: “Kampung ini butuh kamu.” Dua kalimat itu sebenarnya tidak bertentangan.

Yang membuatnya bertentangan adalah cara mereka dipertemukan—di ruang rapat yang sama, dengan jam yang sama, dan aturan yang sama, tanpa pernah bertanya: apakah cara ini masih masuk akal untuk semua orang?

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.