Jateng

Sebelas Tahun Jaga Kamar Jenazah, Bang Frendy Malah Ditongkrongi Sosok yang Minta Dicarikan Jasad Kerabatnya

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 00:00 WIB
Sebelas Tahun Jaga Kamar Jenazah, Bang Frendy Malah Ditongkrongi Sosok yang Minta Dicarikan Jasad Kerabatnya
Foto Ilustrasi - Kisah Horor Penjaga Jenazah

JATENG.AKURAT.CO, Di balik pintu kamar jenazah yang katanya paling angker di Jakarta, ada Bang Frendy yang sudah sebelas tahun menemani kematian, dan cerita-ceritanya justru viral bukan karena hantu, tapi karena caranya bercerita seolah kematian itu cuma tetangga sebelah.

Bang Frendy tidak pernah berniat jadi selebgram. Ia cuma petugas kamar jenazah di sebuah rumah sakit di Jakarta.

Tapi ceritanya soal mayat, ambulans mogok, dan arwah yang minta tolong, mendadak didengar ratusan ribu orang.

Podcast tempat ia bercerita dirilis 19 Oktober 2026. Dalam hitungan jam, potongannya menyebar ke TikTok dan Instagram.

Bukan karena jumpscare. Justru karena Bang Frendy bercerita tanpa drama. Santai. Seperti sedang menceritakan tetangga yang pinjam garam.

Sebelas tahun, dan satu permintaan yang tidak biasa

Bang Frendy sudah sebelas tahun bekerja di kamar jenazah. Bukan sehari dua hari. Bukan sekadar kerja sambilan.

Ia sudah melihat ribuan jasad datang dan pergi. Ia sudah menghadapi keluarga yang menangis, keluarga yang bertengkar, dan keluarga yang tidak datang sama sekali.

Dari sekian banyak pengalaman, ada satu yang paling ia ingat.

Suatu malam, ia didatangi sosok yang mengaku sebagai almarhum. Bukan untuk menakut-nakuti. Sosok itu meminta agar bagian tubuhnya yang hilang segera ditemukan.

“Dia bilang ada bagian yang belum lengkap. Minta dicarikan,” kata Bang Frendy dalam podcast tersebut.

Bagi orang biasa, cerita itu mungkin terdengar seperti bahan film horor. Tapi bagi Bang Frendy, itu cuma salah satu malam kerja.

Ia tidak lari. Ia tidak pingsan. Ia mencatat, lalu melaporkan. Karena itu bagian dari tugasnya.

Ambulans mogok, dan komunikasi yang tidak masuk akal

Pengalaman lain yang bikin merinding: mobil ambulans yang mogok secara misterius. Mesin mati.

Tidak ada masalah teknis yang jelas. Montir datang, memeriksa, mengangkat bahu.

Lalu seseorang—entah siapa, entah bagaimana—menyarankan agar “berkomunikasi” dulu dengan entitas di dalam ambulans.

Entah itu jasad atau sesuatu yang menemani jasad. Setelah itu, mesin menyala. Normal. Tanpa perbaikan berarti.

Bang Frendy tidak mengklaim ini sebagai bukti dunia gaib. Ia cuma bercerita. “Kadang kita nggak tahu. Yang penting kita hormat,” ujarnya.

Viral bukan karena hantu, tapi karena kejujuran

Yang membuat cerita Bang Frendy berbeda dari cerita horor biasa adalah caranya menghadapi kematian.

Ia tidak menakut-nakuti. Ia tidak menjual mistis. Ia bercerita seperti orang yang sudah akrab dengan hal yang paling ditakuti orang lain. Ia menyebut jasad sebagai “tamu”.

Ia menyebut kamar jenazah sebagai “rumah singgah terakhir”. Ia tidak meromantisasi kematian. Ia cuma tidak menjauhinya.

Di media sosial, reaksi netizen justru bukan ketakutan. Banyak yang berterima kasih. Banyak yang bertanya bagaimana cara bekerja di tempat seperti itu tanpa kehilangan kewarasan.

Banyak juga yang mengaku jadi lebih menghargai petugas kamar jenazah setelah mendengar ceritanya.

“Aku nggak berani masuk kamar jenazah, tapi Bang Frendy bikin aku merasa bahwa kematian itu nggak selalu seram. Kadang cuma sepi,” tulis salah satu komentar di TikTok, seperti dikutip dari unggahan yang sama.

Penjaga jenazah lain juga viral, dengan cara berbeda

Bang Frendy bukan satu-satunya penjaga jenazah yang viral tahun ini.

Pada Juni 2026, sebuah video TikTok dari akun @aan_paradiso memperlihatkan seorang penjaga bilik mayat sedang menyapu ruangan sambil memutar lagu rancak.

Bukan lagu sedih. Bukan lagu religi. Lagu dangdut ceria. Videonya menembus 485 ribu tontonan.

Alasannya sederhana: ia takut. Lagu ceria adalah caranya bertahan. “Kalau saya, kaki sudah menggigil,” kata seorang netizen. “Kalau siang tidak apa, kalau malam…,” timpal yang lain.

Dua cerita. Dua pendekatan. Satu realitas yang sama: bekerja di kamar jenazah bukan cuma soal mayat.

Ia soal mengelola rasa takut, menjaga kewarasan, dan tetap pulang sebagai manusia.

Ada juga yang resign dari kantoran demi jadi penjaga jenazah

Yang lebih mengejutkan, tahun ini juga viral seorang pria yang justru meninggalkan pekerjaan kantoran untuk menjadi penjaga jenazah.

“Gue resign kerja kantoran ber-AC yang gajinya Rp4,5 juta sebulan, dan memilih kerja ekstrem gini yang kerjanya jaga jenazah dan tidur sama jenazah tapi gajinya nembus Rp10–15 juta per bulan. Masalah hantu atau angker bodoamat, yang penting uangnya gede,” tulis akun @gustiariefalamsyah, seperti dikutip Ayo Bandung.

Kutipan itu menuai perdebatan. Sebagian menganggapnya pragmatis. Sebagian menganggapnya mengerikan.

Tapi di balik perdebatan itu, ada satu hal yang jarang dibahas: menjadi penjaga jenazah adalah pekerjaan. Ia punya jam kerja. Punya gaji. Punya risiko.

Punya cerita. Dan seperti pekerjaan lain, ia bisa dipilih karena alasan yang sangat manusiawi: uang.

Yang tidak pernah diceritakan dalam podcast horor

Podcast horor selalu berhenti di bagian yang menegangkan. Arwah datang. Ambulans mogok. Suara aneh di lorong. Lalu selesai. Penonton merinding, lalu tidur.

Tapi Bang Frendy tidak berhenti di situ. Ia masih harus membersihkan ruangan.

Mencatat administrasi. Menyerahkan jasad ke keluarga. Menjawab pertanyaan yang tidak selalu masuk akal. Dan besok, ia harus kembali.

“Kalau ditanya takut atau nggak, ya takut. Tapi kalau cuma takut, nggak akan selesai kerjaan,” katanya.

Kalimat itu mungkin bukan kutipan yang akan viral. Tapi di situlah letak cerita yang sebenarnya: bukan tentang hantu yang datang, tapi tentang orang yang tetap tinggal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.