Kisah Sejarah! Gempa Yogyakarta 1867: Bencana Besar yang Hancurkan Istana dan Tewaskan Ratusan Orang!

JATENG.AKURAT.CO, Sebelum gempa dahsyat tahun 2006, Yogyakarta juga pernah dilanda gempa besar pada tahun 1867 yang menghancurkan sebagian besar bangunan milik Kesultanan Yogyakarta, termasuk Monumen Golong Gilik yang terbelah menjadi dua.
Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu bencana alam terparah yang pernah melanda Yogyakarta. Yuk, simak kisah lengkapnya!
Gempa Besar Yogyakarta 1867: Kehancuran yang Mengguncang
Pada pagi hari tanggal 10 Juni 1867, wilayah Yogyakarta dan sekitarnya diguncang gempa besar berkekuatan 7-9 MMI.
Gempa besar ini terjadi dua kali, dengan guncangan pertama berlangsung selama 40 detik dan guncangan kedua yang lebih lama.
Dampaknya sangat besar, terutama di kawasan "Vierstandenland" (Empat Kerajaan), yang meliputi Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.
Kerusakan Bangunan Kesultanan Yogyakarta
Gempa besar ini menyebabkan kerusakan parah pada berbagai bangunan penting milik Kesultanan Yogyakarta, seperti:
- Pagelaran
- Siti Hinggil
- Gedung Srimanganti
- Masjid Gedhe Kauman
- Kompleks Taman Sari
Monumen Golong Gilik, yang menjadi simbol persatuan, bahkan terbelah menjadi tiga bagian dan akhirnya direnovasi menjadi bentuk yang kita kenal sekarang.
Dampak Gempa Besar di Luar Yogyakarta
Tidak hanya Yogyakarta, gempa besar ini juga dirasakan di berbagai kota lain seperti Semarang, Madiun, Surabaya, hingga Banyuwangi.
Laporan dari pemerintah Hindia Belanda menyebutkan bahwa sekitar 1.169 rumah rusak dan korban jiwa mencapai lebih dari 500 orang.
Korban terbanyak ditemukan di sekitar Pasar Besar dan permukiman warga Tionghoa.
Penyebab Gempa Besar dan Mitos Masyarakat
Sebelum gempa terjadi, Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada tahun 1865.
Hal ini membuat masyarakat mengaitkan gempa dengan pertanda buruk dari gunung tersebut.
Namun, berdasarkan penelitian, episentrum gempa berada di Sesar Opak, di selatan Yogyakarta, yang juga menjadi penyebab gempa tahun 2006.
Candra Sengkala: Peringatan dalam Budaya Jawa
Gempa tahun 1867 diabadikan dalam candra sengkala (penanda tahun dalam budaya Jawa) yang berbunyi "Obah Trus Pitung Bumi", yang berarti "Bumi Bergoyang Terus Tujuh Kali".
Ini merujuk pada tahun 1796 dalam penanggalan Jawa.
Pelajaran dari Sejarah
Gempa Yogyakarta 1867 mengingatkan kita akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana alam.
Meskipun teknologi dan pengetahuan tentang gempa telah berkembang, sejarah ini menjadi pengingat bahwa Yogyakarta berada di wilayah rawan gempa.
Jadi, apakah kamu tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah gempa di Yogyakarta?
Kunjungi situs-situs bersejarah dan pelajari bagaimana masyarakat masa lalu menghadapi bencana alam.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?










