Jejak Selat Muria: Bagaimana Sejarah Alam Mempengaruhi Banjir Serentak di Pati, Kudus dan Demak serta Grobogan

AKURAT.CO, Wilayah pantura Demak, Kudus, Pati merupakan area yang menjadi langganan banjir setiap tahun. Bahkan tiga wilayah tersebut bisa terjadi bencana banjir hampir dalam waktu yang dekat atau seara bersamaan.
Berikut sejarah area tersebut dihimpun dari berbagai sumber.
Selat Muria adalah wilayah laut yg pernah memisahkan antara daratan Jawa dgn Gunung Muria. Kota-kota pantura yg sekarang bernama Jepara, Kudus, dan Pati pernah terpisah di luar daratan Pulau Jawa.
Pada masa glasial, Gunung Muria beserta pegunungan kecil Patiayam dulunya bergabung dengan daratan utama Pulau Jawa.
Perluasan pembekuan es di kutub menyebabkan air laut surut hingga 120 meter dari kondisi permukaan saat itu.
Baca Juga: Pengelolaan Keuangan KONI Jateng Sesuai Indeks Pergub
Pada masa inter glasial, kejadiannya berbalik. Suhu bumi menghangat sehingga menyebabkan terjadinya pencairan es, volume air laut pun meningkat.
Gunung Muria terisolir dari dari Pulau Jawa dan terpisahkan oleh laut dangkal yang tak terlalu lebar.
Dahulu, pusat kerajaan Demak terletak di tepi pantai Selat Muria yang memisahkan Pulau Jawa dengan Pulau Muria.
Kapal dapat berlayar dengan baik saat melewati selat yang cukup lebar. Oleh karena itu, dalam sejarah, Kerajaan Demak juga disebut dengan kerajaan maritim.
Baca Juga: Banjir Demak Meluas, Jumlah Pengungsi: 8.170 Jiwa Mengungsi di Sembilan Lokasi
Mengutip dari https://Kemendikbud.go.id, dulunya Selat Muria adalah jalur perdagangan dan transportasi yang ramai dilalui.
Selat itu menjadi jalan antara masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa dengan mereka yang tinggal di pulau-pulau lainnya.
Karena adanya selat ini, masyarakat yang ingin bepergian antara Kudus dan Demak harus menggunakan kapal. Keberadaan selat ini pulalah yang dahulu membuat Kerajaan Demak menjadi jaya karena menguasai jalur maritim.
Kejayaan Demak ini, menurut sejarawan H.J. De Graaf dan T.H.T Pigeaud dalam bukunya yang berjudul ''Kerajaan Islam Pertama di Jawa'' (1974), didukung oleh lokasinya yang dekat dengan lautan. "Letak Demak cukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan maupun pertanian.
Selat yang memisahkan Jawa Tengah dari Pulau Muria pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan leluasa, (cont) sehingga dari Semarang melalui Demak, perahu dagang dapat berlayar sampai Rembang, baru sejak abad ke-17 Selat Muria tak dapat dipakai lagi sepanjang tahun,” tulis De Graaf dan Pigeaud.
Sehingga dari Semarang melalui Demak, perahu dagang dapat berlayar sampai Rembang, baru sejak abad ke-17 Selat Muria tak dapat dipakai lagi sepanjang tahun,” tulis De Graaf dan Pigeaud.
Baca Juga: Mengurai Jam Pertama Banjir Demak: Dari Jebolnya Tanggul hingga Evakuasi
Bukti adanya Selat Muria pada zaman dahulu ini adalah dengan ditemukannya sebuah fosil kerang laut, serta banyak batuan karang yang masih berdiri di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Ada bukti lainnya, yaitu ketika membuat sumur bor dengan kedalaman 20 meter air yang keluar merupakan pasir serta rasa air yang keluar berasa asin seperti halnya air laut.
Hal lainnya adalah penemuan benda purbakala di Situs Patiayam Kudus, berupa bukti kehidupan manusia dan hewan darat.
Juga ditemukan bukti kehidupan hewan laut zaman dulu, tak hanya hewan darat seperti harimau, badak, babi, gajah, kerbau, banteng, dan rusa yang ditemukan.
Baca Juga: Mengurai Jam Pertama Banjir Demak: Dari Jebolnya Tanggul hingga Evakuasi
Beberapa fosil hewan laut seperti moluska, ikan hiu, penyu, dan buaya, juga ditemukan di sana.
Ini membuktikan bahwa daerah Patiayam dulu pernah menjadi pemisah antara Muria dan Pulau Jawa. Fosil hewan-hewan tersebut diperkirakan berusia di atas 800 ribu tahun.
Sementara, pada Situs Medang yang terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dalam sebuah ekskavasi yang dilakukan di sana, ditemukan jejak sebuah hunian kuno dan beberapa temuan lainnya seperti fragmen gerabah, keramik, dan perhiasan berbahan emas.
Dari adanya temuan-temuan tersebut, diduga Situs Medang dulunya merupakan hunian kuno yang letaknya berada di sisi selatan Selat Muria.
Memasuki abad ke-17, Selat Muria semakin dangkal sehingga kapal tidak dapat berlayar mengarunginya. Meski demikian, pada musim hujan perahu-perahu kecil masih bisa mengarungi selat itu dari Demak hingga Juwana.
Pada 1996, seorang peneliti bernama Lombard menjelaskan ada air laut dari Selat Muria yang masih tersisa sampai sekarang.
Air laut yang terperangkap di dataran Jawa itu kemudian dikenal dengan nama Bledug Kuwu yang berada di Kec. Kradenan, Kab. Grobogan Mengutip dari Siagabencana, Selat Muria hilang akibat adanya sedimentasi yang terjadi secara terus-menerus.
Sedimentasi tersebut terjadi akibat adanya pengangkatan pegunungan Kendeng. Bukan hanya itu, diperkirakan adanya sendimentasi tersebut akibat perubahan arah aliran Bengawan Solo purba yang dulunya mengalir ke pantai selatan Wonogiri, lalu berubah mengalir ke arah utara.
Meski belum ditemukan bukti yang spesifik bahwa sungai Bengawan Solo mengalir ke arah Selat Muria.
Tetapi, jika dilihat dari pola morfologi Pulau Jawa, maka sangat memungkinkan hal tersebut terjadi.
Namun, hilangnya Selat Muria diduga menjadi awal dari kemunduran Kerajaan Demak yang pernah berjaya di laut Nusantara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Pemuda dan Mahasiswa Jateng Didorong Perkuat Gerakan Antikorupsi, Alumni Kelas Antikorupsi Mulai Jalankan Rencana Aksi
- 2PT Pandawa LED Indonesia Buka Lowongan Admin Support di Semarang, Fresh Graduate Bisa Melamar!
- 3Infinix SMART 20e Segera Masuk Indonesia, Bawa Baterai 6.000mAh dan Layar 120Hz
- 4Kolaborasi Pegadaian dan BCA Digital Hadirkan Investasi Emas Mulai Rp10.000 via Aplikasi blu
- 5Kebakaran Lahan Balekambang Malam Hari, BAGANA Bergerak Cepat Bersama Warga dan Aparat Padamkan Api
- 6Sesa Creative Buka Lowongan Social Media Specialist, Content Creator, dan Graphic Designer di Semarang
- 7Rekomendasi Kabel Charger Pihak Ketiga Terbaik 2026: Bersertifikat, Awet, dan Terjangkau
- 8Atria Hotel Magelang Tunjukkan Kesiapan Gelar Acara Skala Besar, 1.500 Peserta Sosialisasi Jaminan Sosial Hadir
- 9Stunting Semarang Turun Jadi 4,49 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi hingga Program MBG
- 10Bocoran iPhone 20 Pro: Layar Lebih Besar dan Desain Borderless





