Jateng

Pagar Nusa Nyatakan Perang terhadap Balapan Liar Usai Gugurnya Kader Muda di Fly Over Ganefo Mranggen

Theo Adi Pratama | 28 Desember 2025, 21:15 WIB
Pagar Nusa Nyatakan Perang terhadap Balapan Liar Usai Gugurnya Kader Muda di Fly Over Ganefo Mranggen

JATENG.AKURAT.CO, Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kota Semarang dan Kabupaten Demak.

Seorang kader muda mereka, Mohammad Bimo Saputra (17), gugur secara tragis setelah menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sekelompok geng balapan liar pada Jumat dini hari, 26 Desember 2025.

Bimo, remaja asal Dukuh Blancir, Kelurahan Plamongansari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang itu, menghembuskan napas terakhirnya setelah mengalami kekerasan berlapis yang terjadi di kawasan Fly Over Ganefo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.

Menurut Ketua Pagar Nusa Kota Semarang, Ahmad Ghozali, almarhum dikenal sebagai pribadi santun, aktif dalam kegiatan organisasi, serta tekun menapaki jalan pencak silat sebagai sarana pembinaan akhlak dan kedisiplinan.

“Bimo adalah kader yang istiqamah. Ia mewakili generasi muda NU yang memilih jalan persaudaraan, adab, dan perjuangan melalui pencak silat,” tutur Ahmad Ghozali.

Kronologi Kejadian

Peristiwa bermula pada Kamis malam, 25 Desember 2025, ketika Bimo menghadiri kegiatan kopi darat (kopdar) lintas daerah anggota Pagar Nusa di Lapangan Pucang Gading, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Acara tersebut berlangsung aman, hangat, dan penuh suasana persaudaraan.

Sekitar pukul 24.00 WIB, kegiatan selesai. Bimo kemudian ikut mengantar beberapa rekannya pulang ke arah Karangawen.

Rombongan kecil ini melintasi Jalan Brigjen Sudiarto, tepatnya di depan Perumahan Plamongan Indah, Semarang lokasi yang dikenal kerap menjadi arena balapan liar.

Di titik itulah rombongan diduga berpapasan dengan kelompok geng balapan liar. Mereka diteriaki dengan sebutan provokatif seperti “gangster”, lalu dikejar dan dilempari batu. Pengejaran berlangsung hingga mendekati kawasan Pasar Mranggen.

Ketegangan memuncak saat rombongan sampai di Fly Over Ganefo. Di lokasi ini, salah satu pelaku menendang sepeda motor Bimo hingga ia terjatuh. Dalam kondisi terkapar di aspal, Bimo kemudian dikeroyok oleh puluhan orang.

Ia dipukul, ditendang, diinjak-injak, bahkan dipukul menggunakan papan skateboard. Kekerasan brutal itu berlangsung hingga tubuhnya tak lagi berdaya.

Tak lama berselang, polisi tiba di lokasi dan membawa Bimo ke RS Pelita Anugerah Mranggen. Namun, luka-luka berat yang dideritanya terlalu parah. Nyawanya tidak tertolong.

Duka dan Kepergian yang Terlalu Dini

Kabar wafatnya Bimo cepat menyebar di kalangan Pagar Nusa dan warga Nahdlatul Ulama.

Suasana haru menyelimuti rumah duka. Tangis keluarga, sahabat, dan rekan seperjuangan pecah mengiringi kepergian seorang remaja yang seharusnya masih memiliki masa depan panjang.

Sore harinya, selepas salat Asar, jenazah Bimo dimakamkan.

“Satu kader NU telah gugur. Satu penerus perjuangan ulama telah menjadi korban kekejian,” ujar Jamaluddin Malik, Pimpinan Cabang PSNU Pagar Nusa Demak.

Pernyataan Sikap Pagar Nusa

Atas peristiwa ini, Pimpinan Cabang PSNU Pagar Nusa Kota Semarang dan Demak menyatakan sikap resmi yang disampaikan di Polres Demak pada Sabtu, 27 Desember 2025.

Mereka mengajukan lima tuntutan utama:

1. Mendesak kepolisian segera menangkap seluruh pelaku pengeroyokan.

2. Menuntut aparat membubarkan seluruh aktivitas balapan liar di wilayah Semarang dan Demak.

3. Mengajak masyarakat bersama-sama menyatakan perang terhadap balapan liar.

4. Memberikan tenggat waktu 1x24 jam kepada aparat untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut.

5. Menyatakan bahwa apabila tidak ada tindakan tegas, Pagar Nusa dan keluarga besar NU tidak dapat lagi membendung luapan solidaritas masyarakat terhadap balapan liar.

Lebih dari Sekadar Kasus Kriminal

Bagi Pagar Nusa, peristiwa ini bukan sekadar kasus kriminal, melainkan tragedi sosial yang lahir dari pembiaran terhadap praktik balapan liar yang selama ini dianggap sepele, padahal mematikan.

Gugurnya Mohammad Bimo Saputra menjadi peringatan keras bahwa balapan liar bukan hanya soal pelanggaran lalu lintas, tetapi ancaman nyata terhadap nyawa manusia.

Bagi Pagar Nusa, Bimo bukan sekadar korban. Ia adalah simbol generasi muda yang memilih jalan disiplin, akhlak, dan persaudaraan namun justru menjadi korban kebrutalan tanpa nurani.

Dari Semarang hingga Demak, suara itu kini bergema. Keadilan harus ditegakkan, pelaku harus ditangkap, dan balapan liar harus dihentikan sebelum korban berikutnya berjatuhan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.