Di Balik Kemudi Maut, Kisah Sopir Muda yang Mengantar Pulang 16 Nyawa di Exit Tol Krapyak Semarang

JATENG.AKURAT.CO, Di balik deru mesin dan jadwal perjalanan yang panjang, ada seorang pemuda bernama Gilang yang kini menjadi pusat sorotan nasional.
Namanya mendadak dikenal bukan karena prestasi, melainkan karena sebuah kecelakaan tragis di Exit Tol Krapyak, Semarang, Senin pagi (22/12/2025), yang merenggut nyawa 16 penumpang dan melukai belasan lainnya.
Gilang bukanlah sopir utama bus PO Cahaya Trans. Ia hanyalah sopir cadangan pengganti yang baru dua kali mengemudikan bus di rute panjang Bogor–Yogyakarta.
Usianya masih muda, 22 tahun, pengalamannya terbatas, dan tanggung jawab yang dipikulnya pagi itu jauh lebih besar dari yang mungkin pernah ia bayangkan.
Perjalanan bus dimulai dari Bogor sekitar pukul 15.00 WIB dengan sopir utama di balik kemudi. Setelah menempuh perjalanan panjang dan beristirahat di kawasan Subang, giliran Gilang mengambil alih kemudi.
Pergantian sopir adalah hal lazim dalam perjalanan antarkota, sebuah mekanisme untuk menjaga stamina.
Namun bagi Gilang, itu berarti menghadapi jalan tol, kendaraan besar, dan puluhan nyawa yang mempercayakan keselamatannya pada tangan yang masih belajar.
Kecelakaan itu mengubah segalanya dalam hitungan detik. Exit Tol Krapyak yang biasanya hanya menjadi penanda akhir perjalanan, berubah menjadi titik duka.
Di satu sisi, keluarga korban harus menerima kenyataan pahit kehilangan orang tercinta. Di sisi lain, Gilang, pemuda yang berangkat bekerja seperti hari-hari biasa, harus menghadapi beban psikologis dan konsekuensi hukum dari peristiwa yang terjadi di bawah kendalinya.
Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ribut Hari Wibowo memastikan bahwa Gilang telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Proses hukum berjalan sebagaimana mestinya.
Namun di balik itu, ada potret yang lebih luas tentang dunia transportasi darat tentang sopir-sopir muda yang bekerja dengan jam panjang, tentang sistem rotasi yang kadang menempatkan pengalaman di posisi krusial, dan tentang tekanan ekonomi yang mendorong seseorang menerima tanggung jawab besar sebelum benar-benar siap.
Narasi ini bukan untuk menghapus kesalahan atau mengurangi duka para korban. Kehilangan 16 nyawa adalah tragedi yang tak tergantikan.
Namun peristiwa di Krapyak juga mengingatkan bahwa di balik setiap kecelakaan, ada manusia dengan keterbatasan, keputusan, dan sistem yang membentuknya.
Kini, Gilang menunggu proses hukum dengan status tersangka. Sementara itu, publik dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar, sejauh mana perlindungan dan pembinaan diberikan kepada sopir muda? Dan bagaimana memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang?
Di jalanan panjang yang menghubungkan kota ke kota, keselamatan bukan hanya soal rem dan kemudi, tetapi juga tentang kesiapan manusia yang mengendalikannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










