Jangan Salah Lagi! 9 Mitos Paling Populer Tentang Stres yang Bikin Kamu Makin Tertekan, Nomor 1 Paling Sering Dianggap Benar!

JATENG.AKURAT.CO, Stres adalah bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Namun, di tengah hiruk pikuk kesibukan, banyak sekali mitos seputar stres yang beredar dan malah membuat kita semakin tertekan.
Dua ahli kesehatan mental, asisten profesor Stephanie Cook dan psikolog klinis Terry Salero, membongkar semua mitos ini biar kamu bisa mengelola stres dengan lebih cerdas dan efektif!
Mitos yang Bikin Kita Salah Langkah
1. Mitos: Semua Stres Itu Buruk.
Fakta: Ini adalah salah satu kesalahpahaman terbesar. Stres tidak selalu buruk! Stres bisa jadi motivator yang mendorong kita untuk bekerja keras mencapai tujuan.
Pikirkan deadline yang memacu kita untuk menyelesaikan tugas, atau rasa gugup sebelum presentasi yang membuat kita lebih fokus.
Kuncinya adalah membedakan antara "stres baik" yang memotivasi dan "stres buruk" yang berkepanjangan dan merusak kesehatan.
2. Mitos: Melindungi Anak dari Stres Itu Baik.
Fakta: Sebagai orang tua, wajar jika kita ingin melindungi anak dari kesulitan. Namun, menurut para ahli, terlalu melindungi anak dari semua stres justru berbahaya.
Ini menghalangi mereka untuk belajar mengelola emosi dan mengembangkan kemampuan beradaptasi.
Biarkan anak menghadapi tantangannya sendiri dengan dukungan kita di sampingnya.
Ini akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan bermental kuat.
3. Mitos: Liburan Bisa Menyembuhkan Burnout.
Fakta: Liburan memang memberikan jeda yang menyenangkan, tapi ia tidak menyembuhkan burnout.
Burnout adalah bentuk stres yang berkepanjangan dan membutuhkan penanganan pada akar masalahnya.
Setelah liburan usai, jika akar masalahnya tidak diselesaikan, burnout akan kembali lagi.
Para ahli menyarankan untuk fokus pada self-care dasar seperti tidur cukup, makan sehat, dan berolahraga.
4. Mitos: Jangan Pikirkan Hal yang Bikin Stres.
Fakta: Sering kali kita mendengar nasihat, "Ya udah, jangan dipikirin." Padahal, mencoba menghindari pikiran stres justru bisa membuatnya makin kuat.
Para ahli merekomendasikan teknik "flexible thinking" atau restrukturisasi kognitif, yaitu dengan langsung menghadapi dan menganalisis pikiran stres itu.
Tanyakan pada dirimu, "Apakah pikiran ini realistis?" atau "Apa yang bisa aku lakukan untuk mengubahnya?"
5. Mitos: Bekerja di Bawah Tekanan Itu Lebih Baik.
Fakta: Meskipun ada orang yang merasa lebih produktif saat dikejar deadline, ini adalah pengecualian.
Bekerja di bawah stres yang berkepanjangan justru bisa menyebabkan lebih banyak kesalahan.
Kualitas pekerjaan bisa menurun, dan kamu berisiko mengalami kelelahan.
Temukan kondisi kerja yang bisa mengurangi stres untuk meningkatkan kualitas dan produktivitasmu.
6. Mitos: Menggigit Kuku Hanya Kebiasaan Buruk.
Fakta: Menggigit kuku bukan sekadar kebiasaan buruk, tapi bisa jadi respons fisiologis terhadap stres atau kebosanan.
Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan menemukan dan mengurangi pemicu stres utamanya.
7. Mitos: Alkohol Bisa Mengurangi Stres.
Fakta: Meskipun alkohol bisa memberikan kelegaan sesaat, penggunaan yang konsisten justru dapat meningkatkan kecemasan dan mengganggu sistem stres tubuh.
Alih-alih mengandalkan alkohol, coba cari teknik relaksasi jangka panjang seperti meditasi, journaling, atau hobi yang menyenangkan.
8. Mitos: Stres Eating adalah Solusi Cepat.
Fakta: Makan karena stres memang memberikan kenyamanan sesaat. Tapi, ini adalah siklus negatif.
Setelah makan, kamu bisa merasa bersalah, dan rasa bersalah itu justru menciptakan stres baru.
Para ahli menyarankan untuk tidak mengandalkan makanan sebagai jalan pintas untuk mengatasi stres.
9. Mitos: PTSD Hanya Dialami Tentara.
Fakta: Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) tidak terbatas pada tentara atau orang yang berada di zona perang.
PTSD bisa terjadi akibat berbagai peristiwa traumatis, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, kecelakaan, atau bahkan pengalaman diskriminasi yang berulang.
Dengan memahami fakta-fakta ini, kamu bisa mengubah cara pandangmu tentang stres dan mulai mengelolanya dengan lebih bijak.
Ingat, mengelola stres adalah tentang pemahaman, bukan tentang menghindarinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Live Score PSMS Medan vs Persiraja: Ayam Kinantan Mengamuk, Javier Siverio Borong 4 Gol!
- 2Gak Perlu Modal! 10 Game di Play Store Ini Bisa Kasih Saldo DANA Tiap Hari, Ada yang Rp100 Ribu
- 3Semarang Berpuisi Bakal Merambah TBRS dan Kota Lama, Pemkot Perluas Ruang Ekspresi Seniman
- 4Review Jujur ISUL: Cair ke DANA Tanpa Deposit, Tapi Iklannya Bikin Emosi
- 5Tiket Kereta Api Keberangkatan 1 Desember 2026 Sudah Bisa Dipesan, KAI Minta Pelanggan Cek Jadwal Baru
- 6Ekosistem Pendidikan Sehat Wujudkan Sekolah Ramah Anak
- 7Review Jujur MaGer: Benarkah Bisa Cair ke DANA Tanpa Deposit Sepeser Pun?
- 8Turunan Panjang di KM 39 Bikin Lutut Nyeri? Ini 5 Cara Mencegahnya Sebelum Borobudur Marathon 2026
- 9Ijazah Asli Pak Jokowi Dikeluarkan di Ruang Sidang, Pengunjung Tepuk Tangan, Roy Suryo Malah Tertawa
- 1015 Calon Anggota KI Jateng Lolos Tes Wawancara, Lanjut Fit and Proper Test di DPRD








