Jateng

Sejarah Gemilang Jepara: Kisah Kejayaan Negeri Niaga dan Patriotisme Anti Penjajah

Theo Adi Pratama | 16 Februari 2024, 11:10 WIB
Sejarah Gemilang Jepara: Kisah Kejayaan Negeri Niaga dan Patriotisme Anti Penjajah

AKURAT.CO Sejarah, Jepara, sebuah kota di bagian utara provinsi Jawa Tengah, memiliki sejarah yang kaya dan berakar sebelum zaman kebesaran kerajaan-kerajaan di tanah Jawa.

Sejak zaman prasejarah, Jepara telah menjadi tempat tinggal bagi penduduk yang bermigrasi dari Yunan Selatan, melalui jalur migrasi ke arah selatan.

Pada masa itu, Jepara masih terpisah oleh Selat Juwana.

Wilayah Jepara berbatasan dengan Laut Jawa di bagian barat dan utara, serta berbatasan dengan Kabupaten Pati dan Kudus di bagian timur, serta Kabupaten Demak di bagian selatan.

Baca Juga: Sejarah Perjalanan Masjid Muamar Qaddafy: Simbol Spiritualitas dan Arsitektur Modern di Bukit Az-Zikra

Nama "Jepara" sendiri berasal dari Ujung Para, Ujung Mara, dan Jumpara, yang kemudian menjadi nama yang kita kenal saat ini, menandakan tempat pemukiman para pedagang dari berbagai daerah.

Menurut catatan sejarah, seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga pada tahun 674 M, yang kemungkinan besar terletak di kawasan timur Jepara saat ini.

Wilayah ini dipimpin oleh seorang ratu tegas bernama Ratu Shima.

Namun, Jepara baru dikenal pada abad ke-15 sebagai bandar perdagangan kecil yang dihuni oleh sekitar 90-100 orang pada tahun 1470 M, di bawah pemerintahan Demak.

Di bawah kepemimpinan Aryo Timur, Jepara mencoba dibangun menjadi kota niaga.

Pada masa Pati Unus (1507-1521), Jepara mulai menunjukkan peranannya sebagai pangkalan angkatan laut dan pusat perdagangan.

Baca Juga: Sejarah Keagungan Masjid Raya Bandung: Landmark Bersejarah yang Menjadi Penyeimbang Kehidupan Sosial Warga Ibukota Jawa Barat

Pati Unus, yang gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka, berusaha memperkuat posisinya.

Setelah wafatnya Pati Unus, Jepara dipimpin oleh Faletehan/Fatahilah (1521-1536), iparnya yang melanjutkan usaha pembangunan kota niaga tersebut.

Pada tahun 1536, Jepara diserahkan kepada Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadirin oleh Sultan Trenggono dari Demak.

Namun, setelah wafatnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada 1549, terjadi perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Arya Penangsang pada tahun yang sama.

Kematian Pangeran Hadiri membuat Ratu Retno Kencono meninggalkan istana untuk bertapa di bukit Danaraja.

Namun, setelah Arya Penangsang tewas oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono kembali dan menjadi penguasa Jepara dengan gelar Nimas Ratu Kalinyamat.

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Malang: Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Malang, Sebuah Sejarah yang Menginspirasi

Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat sebagai bandar niaga utama di Pulau Jawa dan pangkalan angkatan laut yang kuat.

Ratu Kalinyamat dikenal karena semangat patriotisme dan perlawanan terhadap penjajah.

Pada tahun 1551 dan 1574, Ratu Kalinyamat mengirim armada perangnya ke Malaka untuk menggempur Portugis, meskipun usahanya tidak berhasil.

Namun, semangat perlawanannya membuat Portugis gentar dan menjauh dari Jawa.

Ratu Kalinyamat juga berjasa dalam memajukan seni ukir yang menjadi kebanggaan Jepara hingga saat ini.

Wafatnya Ratu Kalinyamat pada tahun 1579 meninggalkan legenda kepahlawanan dan kebesaran bagi kota Jepara.

Sebagai penghormatan atas kemakmurannya, penetapan Hari Jadi Jepara diambil dari saat Ratu Kalinyamat dinobatkan sebagai penguasa pada 10 April 1549.

Jepara terus menjaga tradisi dan sejarahnya sebagai salah satu kota bersejarah di Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.