Jateng

Misteri dan Sejarah Makam Gantung di Pesanggrahan Djojodigdan, Blitar: Pemilik Ilmu Pancasona

Theo Adi Pratama | 28 Januari 2024, 08:00 WIB
Misteri dan Sejarah Makam Gantung di Pesanggrahan Djojodigdan, Blitar: Pemilik Ilmu Pancasona

AKURAT.CO Misteri, Makam gantung di Pesanggrahan Djojodigdan, Jalan Melati 43, Kota Blitar, selalu menyimpan daya tarik dan misteri bagi para peziarah yang datang berkunjung.

Meski disebut sebagai makam gantung, ternyata istilah ini tidak merujuk pada posisi fisik makam tersebut.

Makam ini terkenal karena nisannya yang lebih tinggi dibandingkan dengan nisan-nisan lain di area pemakaman tersebut.

Baca Juga: Misteri dan Mitos Mak Lampir: Legenda Mistis di Gunung Merapi yang Terus Menghantui Indonesia

Makam Eyang Djojodigdo: Patih Blitar Penuh Misteri

Makam ini dikabarkan sebagai tempat peristirahatan terakhir Mas Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, seorang Patih Blitar yang dikenal mahir dalam ilmu Pancasona.

Nisan makam ini memberikan keterangan tentang sosok beliau, "Beliau lahir di Kulon Progo, Rabu Kliwon tanggal 5 Suro 1755, atau 29 Juli 1827.

Meninggalnya hari Kamis Pon, tanggal 18 Safar 1839 atau 11 Maret 1909, saat berusia 84 tahun," jelas Lasiman, juru kunci makam.

Asal Usul Sebutan "Makam Gantung"

Lasiman, yang telah delapan tahun menjadi juru kunci di makam tersebut, menjelaskan bahwa makam ini dibangun pada 11 Ruwah 1840 atau 18 Agustus 1910.

Istilah "makam gantung" berasal dari kepercayaan bahwa Eyang Djojodigdo harus "digantung" ilmu, senjata, dan baju kebesarannya agar dapat wafat dengan tenang.

"Makannya disebut makam gantung," tambah Lasiman.

Ada kepercayaan bahwa Eyang Djojodigdo tak bisa meninggal karena ilmu pancasona yang dimilikinya.

Menurut mitos tersebut, ia akan kembali hidup bila jasadnya menyentuh tanah.

Oleh karena itu, makam ini dibangun di atas lantai pondasi setinggi 50 cm, sehingga jasadnya tidak langsung menyentuh tanah.

Baca Juga: Cerita tentang Goa Jepang Lereng Merapi: Misteri Sejarah yang Terkubur dalam Rongga Bawah Tanah

Patih Djojodigdo: Keturunan Darah Biru Mataram

Sosok Patih Djojodigdo adalah kerabat dekat Pangeran Diponegoro dan masih keturunan darah biru Mataram.

Pada zamannya, banyak yang percaya bahwa dirinya tidak bisa meninggal karena ilmu pancasona yang dimilikinya.

Diceritakan bahwa dirinya akan hidup kembali jika jasadnya menyentuh tanah.

Maka dari itu, makamnya dibangun sedemikian rupa agar jasadnya tidak menyentuh tanah secara langsung.

"Jasad dari sufi ini kemudian dimasukkan dalam peti besi dan disangga empat tiang yang terbuat dari besi juga," papar Lasiman.

Kepercayaan dan Misteri di Sekitar Makam

Makam ini menjadi tempat yang sangat dihormati dan diyakini memiliki kekuatan spiritual.

Banyak peziarah yang mengkeramatkan makam ini, dan kabarnya di luar pagar sebelum masuk, terdapat dua ekor macan penjaga.

Beberapa pengunjung juga melaporkan adanya penampakan ular besar yang menghalangi jalan, sehingga peziarah tidak bisa masuk sembarangan.

Lasiman juga menceritakan tentang seorang kerabat yang mencoba mencuri barang peninggalan Eyang Djojodigdo dan akhirnya mengalami gangguan mental.

Di kompleks pemakaman ini, terdapat makam yang disebut sebagai makam menangis.

Baca Juga: Misteri di Bundaran Teknik UGM: Kisah Urban Legend di Tengah Keramaian Yogyakarta

Daya Tarik Spiritual dan Pesona Mistis

Makam Eyang Djojodigdo menjadi tujuan utama para peziarah, terutama mereka yang memiliki minat dalam hal spiritualitas.

Berbeda dengan peziarah pada umumnya, ada juga para spiritualis yang datang ke makam ini untuk mencari ilmu gaib dari Eyang Djojodigdo.

Dengan sejarah yang sarat misteri dan kepercayaan spiritual yang kuat, makam gantung di Pesanggrahan Djojodigdan, Blitar, terus menjadi destinasi yang unik dan menarik bagi mereka yang tertarik dengan kesejukan spiritual dan pesona mistis.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.