Jateng

Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Masjid Agung Puro Pakualaman, Perpaduan Sejarah dan Keindahan Arsitektur

Theo Adi Pratama | 21 Januari 2024, 13:00 WIB
Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Masjid Agung Puro Pakualaman, Perpaduan Sejarah dan Keindahan Arsitektur

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Agung Puro Pakualaman, sebuah monumen keagungan arsitektur dan spiritualitas, dibangun pada masa pemerintahan Sri Paku Alam II (1829-1858 M) pada tahun 1850 M.

Dalam perjalanannya, masjid ini mengalami beberapa perbaikan, dan peninggalan sejarah tersebut tercermin dalam batu tulis yang menghiasi dinding serambi masjid.

Pendirian masjid ini tidak hanya sebuah tanda kebesaran Sri Paku Alam II, tetapi juga mencerminkan pentingnya keberagaman budaya dan nilai-nilai spiritual dalam masyarakat Pura Pakualaman.

Empat buah prasasti, dua dalam huruf Arab dan dua dalam huruf Jawa, menjadi saksi bisu akan nilai-nilai keagamaan dan kultural pada masa itu.

Baca Juga: Makna Kata: Jancok, Asal-Usul dan Sejarah serta Maknanya Bagi Masyarakat Jawa Timur

Arsitektur Masjid Agung Puro Pakualaman

Masjid Agung Puro Pakualaman terdiri dari tiga bagian utama: bagian utama untuk pelaksanaan salat, serambi, dan teras.

Pada awal pembangunan, diperkirakan masjid ini berbentuk segi empat dengan luas yang belum sebesar saat ini, hanya mencakup ruang salat dan serambi.

Di dalam ruang salat, terdapat Ma’surah, tempat salat raja, yang terletak di saf paling depan sebelah selatan pengimaman.

Ma’surah ini, yang terbuat dari kayu dengan hiasan ceplok bunga dan stilisasi huruf Arab (mirong), memiliki lantai yang lebih tinggi daripada lantai bangunan induk, memberikan kesan kemuliaan.

Atap masjid, atau mustaka, tetap mempertahankan bentuk mahkota yang menjadi ciri khas.

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Pasar Ngenep, Jejak Sejarah dan Transformasi Pasar Tradisional di Semanu

Ketika masjid ini pertama kali dibangun, area di depan dan sampingnya dialiri blumbangan air yang melimpah.

Namun, saat ini, blumbangan telah digantikan oleh teras di depan, sedangkan di sisi selatan dibangun tempat wudu, dan di sebelah utara didirikan rumah untuk pengurus masjid.

Pentingnya Pelestarian Sebagai Cagar Budaya

Dengan kebijaksanaan Pemerintah Republik Indonesia yang menetapkan Masjid Agung Puro Pakualaman sebagai cagar budaya melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia No. PM.89/PW.007/MKP/2011, masjid ini mendapatkan perlindungan khusus sebagai warisan berharga yang harus dijaga dan dilestarikan.

Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga suatu pusat nilai-nilai sejarah dan budaya yang tak ternilai.

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Candi Kimpulan, Keindahan dan Sejarah Masa Lalu yang Mulai Terungkap

Keberadaannya mengingatkan kita akan kebesaran dan keindahan masa lalu, menjadikannya destinasi wisata religi dan kultural yang menarik.

Letaknya yang berada di Kauman, Gunungketur, Yogyakarta, menjadikannya mudah diakses oleh para pengunjung yang ingin menyaksikan keajaiban dan kedalaman sejarah yang tersimpan dalam dinding-dinding Masjid Agung Puro Pakualaman.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.