Jateng

Peninggalan Bangunan Bersejarah: Kepatihan Danurejan, Warisan Sejarah dan Pusat Pemerintahan Yogyakarta

Theo Adi Pratama | 21 Januari 2024, 12:00 WIB
Peninggalan Bangunan Bersejarah: Kepatihan Danurejan, Warisan Sejarah dan Pusat Pemerintahan Yogyakarta

AKURAT.CO Sejarah, Kepatihan Danurejan, sebuah kompleks gedung megah yang menjadi tempat tinggal Pepatih Dalem atau Rijksbestuurder, menandakan keagungan sejarah Kraton Yogyakarta.

Patih, sebagai jabatan tertinggi dalam tata laksana pemerintahan, menduduki posisi setara dengan perdana menteri pada masa lalu.

Kompleks ini, terletak di Jalan Malioboro Kelurahan Suryatmajan, dikenal juga dengan nama Kepatihan Danurejan, mengambil nama dari seorang Patih bernama Kanjeng Raden Aiya Adipati Danureja.

Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, kompleks Kepatihan ini menjadi bagian integral dari pembangunan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dengan corak arsitektur tradisional Jawa yang memukau, termasuk bangunan joglo, limasan, dan unsur arsitektur Indis, kompleks ini memancarkan keindahan dan keagungan warisan budaya Jawa.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah 20 Januari: Sebuah Kombinasi Peristiwa Bersejarah Penting yang Diperingati

Struktur dan Bangunan di Kepatihan

Kompleks Kepatihan memiliki susunan ruang yang menggambarkan kehidupan istana pada masa lalu. Beberapa unit bangunan yang mencakup Kepatihan antara lain:

  1. nDalem Kepatihan (Bangsal Kepatihan dan Dalem Ageng): Berfungsi sebagai ruang kerja dan tempat tinggal Pepatih Dalem.

  2. Gedhong Wilis: Salah satu bangunan bersejarah dengan fungsi yang belum dapat dipastikan.

  3. Gedhong Pacar: Bangunan yang menjadi saksi bisu peristiwa dan kisah masa lalu.

  4. Bale Cepoko: Ruang penting dengan makna sejarah yang mendalam.

  5. nDalem Wiyatapraja: Tempat untuk kegiatan pendidikan pada masa lampau.

  6. Bale Wara, Bale Mangu: Bangunan yang mencerminkan kemegahan dan kebesaran keraton.

  7. Masjid Sulthoni: Tempat beribadah yang melengkapi kehidupan istana.

  8. Bale Tanjung utara dan selatan: Bangunan dengan keunikan masing-masing.

  9. Gedhong Indis: Mencerminkan pengaruh arsitektur Indis pada masa itu.

  10. Gapura dan pagar di jalur Gledhegan: Menunjukkan batas wilayah kompleks.

  11. Pagar tembok sisi selatan: Menyempurnakan struktur dan keamanan kompleks.

Beberapa bangunan baru juga turut menambah keberagaman arsitektur di Kepatihan.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Sejarah di Yogyakarta: SMP Negeri 1 Sleman, Menyelusuri Keindahan Arsitektur Bergaya Indis dan Jejak Sejarahnya

Peran Kepatihan dalam Pemerintahan Yogyakarta

Kepatihan berperan penting dalam pemerintahan Kesultanan Yogyakarta sejak tahun 1755 hingga 1945, ketika jabatan Patih dihapuskan oleh Sultan Hamengku Buwono IX.

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, Sultan Hamengku Buwono IX memutuskan untuk mengurangi peran Pepatih Dalem, dan kompleks Kepatihan menjadi kantor yang digunakan oleh Sultan.

Seiring waktu, kompleks Kepatihan diberdayakan untuk mendukung berbagai kegiatan pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat.

Sultan Hamengku Buwono IX membentuk jawatan-jawatan seperti Sanapitra, Wiyatapraja, Rancana Pancawara, Ayahan Umum, dan Ekonomi Yayasan Umum.

Pada tanggal 1 Agustus 1945, Pangeran Aryo Adipati Danureja VIII dipensiunkan, dan sejak itu, Kraton Yogyakarta tidak lagi mengangkat patih.

Sejak tanggal 13 Juni 1946, Kepatihan menjadi Kantor Penerangan Daerah Istimewa Yogyakarta dan kemudian digunakan sebagai kantor Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta hingga saat ini.

Baca Juga: Makna Kata: Jancok, Asal-Usul dan Sejarah serta Maknanya Bagi Masyarakat Jawa Timur

Pelestarian dan Keterbukaan bagi Publik

Kompleks Kepatihan Danurejan, selain menjadi saksi bisu sejarah, juga menjadi saksi kebijakan pemerintahan modern.

Keterbukaan kompleks ini bagi publik memungkinkan masyarakat untuk menggali dan menikmati kekayaan sejarah yang terkandung di dalamnya.

Pelestarian kompleks ini juga dilakukan untuk memastikan warisan budaya ini tetap hidup dan memberikan inspirasi bagi generasi yang akan datang.

Dengan menggabungkan keindahan arsitektur tradisional dan nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, Kepatihan Danurejan tetap menjadi tempat yang memikat dan bermakna di tengah keramaian kota Yogyakarta.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.