Peninggalan Bangunan Kuno di Yogyakarta: Perjalanan Sejarah Sekolah di Semanu, dari Sekolah Rakyat hingga Sekolah Dasar Negeri

AKURAT.CO Sejarah, Sejarah pendidikan di Indonesia, terutama setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, mencerminkan perjalanan panjang bangsa ini dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan merata.
Di tengah-tengah dinamika ini, daerah Yogyakarta, termasuk Semanu, memiliki peran penting dalam mengembangkan sistem pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat setempat.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Jawatan Pengajaran di Yogyakarta, yang dipimpin oleh seorang Bupati Paniradya Pati, memainkan peran kunci dalam mengatur pendidikan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Keindahan dan Sejarah Omah Demit: Rumah Peninggalan Belanda di Bukit Patrum Photorium, Klaten
Tercatat bahwa pada tahun 1946, terjadi perubahan signifikan dalam bentuk dan struktur sekolah di Semanu.
Semua SR V berubah menjadi SR VI, dan SR III diubah menjadi SR IV, mencerminkan upaya reorganisasi untuk meningkatkan efisiensi dan pemerataan pendidikan.
Perubahan besar terjadi pada tahun 1949 dengan pemindahan Ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta dan Clash ke-II.
Ini memicu perubahan lebih lanjut dalam lapangan pendidikan, termasuk reorganisasi sekolah rendah menjadi SR VI dan SR III.
Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan reorganisasi, memindahkan kelas IV dari SR IV ke SR VI, membesarkan SR IV menjadi SR VI, dan menggabungkan SR IV dengan SR VI untuk membentuk SR VI lengkap.
Pada tahun 1952, perkembangan pendidikan di Semanu semakin pesat.
Jumlah SR VI meningkat, dan banyak yang pecah menjadi dua, membuka cabang dan memisahkan SR yang dapat berdiri sendiri.
Pada saat itu, sekitar 300.000 anak usia 6-15 tahun telah bersekolah di berbagai SR di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penting untuk mencatat bahwa perkembangan pendidikan tidak hanya terjadi di tingkat nasional tetapi juga di tingkat lokal, seperti di Semanu.
Sekolah Rakyat Negeri Semanu, didirikan setelah Clash ke-II Belanda pada tahun 1949, menjadi pusat pendidikan untuk anak-anak di daerah Semanu dan sekitarnya.
Dalam perkembangannya, sekolah ini mengalami pemecahan menjadi dua sekolah untuk menampung jumlah siswa yang terus meningkat.
Berdasarkan kesaksian Bapak Tugiyo, alumni Sekolah Rakyat Negeri Semanu tahun 1951, sekolah ini awalnya disebut Sekolah Rakyat Semanu Kelas VI.
Didirikan untuk menampung lulusan SR IV, menjadi sekolah sambungan kelas V dan VI menjadi SR VI lengkap.
Dalam perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia, istilah "Sekolah Rakyat" kemudian mengalami perubahan menjadi "Sekolah Dasar."
Meskipun waktu pasti perubahan ini di Semanu belum dapat dipastikan, catatan dari buku induk siswa tahun 1952 yang masih disimpan di Sekolah Dasar Negeri Semanu menunjukkan bahwa perubahan nama kemungkinan terjadi sekitar tahun 1965.
Buku induk tersebut menjadi saksi bisu perkembangan sistem pendidikan pada masa itu.
Beberapa catatan menarik melibatkan fakta bahwa Sekolah Rakyat Negeri Semanu 1 pada masa tersebut tidak menyelenggarakan pelajaran Agama.
Adanya kolom imunisasi untuk siswa yang telah atau belum menerima imunisasi Campak juga mencerminkan perhatian terhadap kesehatan siswa.
Pada tahun 2002, dalam upaya regrouping sekolah yang mengalami kekurangan siswa, Sekolah Dasar Negeri Semanu 1, 2, dan 5 digabung menjadi Sekolah Dasar Negeri Semanu.
Namun, eksisting bangunan dari zaman Sekolah Rakyat Negeri Semanu tetap terjaga.
Bangunan ini, meski telah melalui beberapa perubahan, tetap menjadi saksi bisu perjalanan sejarah pendidikan di Semanu.
Dengan menyelusuri sejarah pendidikan di Semanu, kita dapat lebih memahami bagaimana perubahan dan perkembangan pendidikan mencerminkan dinamika masyarakat dan negara pada masa tersebut.
Sekolah Dasar Negeri Semanu tetap menjadi fondasi bagi pendidikan di daerah ini, mengikuti jejak panjang perjalanan sejarah pendidikan Indonesia.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Live Score PSMS Medan vs Persiraja: Ayam Kinantan Mengamuk, Javier Siverio Borong 4 Gol!
- 2Gak Perlu Modal! 10 Game di Play Store Ini Bisa Kasih Saldo DANA Tiap Hari, Ada yang Rp100 Ribu
- 3Semarang Berpuisi Bakal Merambah TBRS dan Kota Lama, Pemkot Perluas Ruang Ekspresi Seniman
- 4Tiket Kereta Api Keberangkatan 1 Desember 2026 Sudah Bisa Dipesan, KAI Minta Pelanggan Cek Jadwal Baru
- 5Review Jujur ISUL: Cair ke DANA Tanpa Deposit, Tapi Iklannya Bikin Emosi
- 6Review Jujur MaGer: Benarkah Bisa Cair ke DANA Tanpa Deposit Sepeser Pun?
- 7Ekosistem Pendidikan Sehat Wujudkan Sekolah Ramah Anak
- 8Turunan Panjang di KM 39 Bikin Lutut Nyeri? Ini 5 Cara Mencegahnya Sebelum Borobudur Marathon 2026
- 9Ijazah Asli Pak Jokowi Dikeluarkan di Ruang Sidang, Pengunjung Tepuk Tangan, Roy Suryo Malah Tertawa
- 1015 Calon Anggota KI Jateng Lolos Tes Wawancara, Lanjut Fit and Proper Test di DPRD








