Mengenal Lebih Dekat Omah Demamit di Bantul dan Omah Demit di Klaten: Saksi Bisu Sebuah Sejarah di Balik Bangunan Kuno

AKURAT.CO Sejarah, Pada desa Ngenthak Rt.01, Seloharjo, Pundong, Bantul, Yogyakarta, berdiri sebuah bangunan kuno yang menyimpan sejuta misteri.
Omah Demamit, demikian warga sekitar menyebutnya, memiliki warisan sejarah yang tak ternilai. Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang asal-usul, fungsi, dan keunikan Rumah Demamit.
Baca Juga: Keindahan dan Sejarah Omah Demit: Rumah Peninggalan Belanda di Bukit Patrum Photorium, Klaten
Profil Bangunan
Omah Demamit memiliki dimensi yang mencolok dengan Panjang 288 cm, Lebar 288 cm, dan Tinggi keseluruhan 335 cm.
Dengan Kusen Pintu berukuran Panjang 78 cm, Lebar 58 cm, dan Pintu besi berukuran Panjang 69 cm, Lebar 50 cm.
Lebar pilar mencapai 60 cm, dan Tebal dinding bangunan sekitar 33 cm.
Bangunan ini menghadap ke arah timur dan berada di pekarangan rumah Bapak Agus Subiyanto.
Sejarah dan Nama "Omah Demamit"
Omah Demamit, begitu warga sekitar menyebutnya, dahulu digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata dan bahan peledak pada era penjajahan Belanda.
Kompleks bangunan ini, yang kini hanya menyisakan beberapa struktur, awalnya merupakan bagian dari kompleks bangunan besar yang dimiliki oleh orang Belanda.
Pagar tembok setinggi orang dewasa dulunya melingkupi kompleks ini, meskipun sisa pagar kini sudah tidak terlihat di permukaan.
Baca Juga: Gedung Bersejarah: Omah Demamit, Jejak Sejarah di Pekarangan Bapak Agus Subiyanto
Perjalanan Kepemilikan yang Panjang
Menurut Ibu Sukari, bekas rumah Belanda ini pernah ditempati oleh Lurah Jagabaya bernama Sukarjo, kemudian diturunkan kepada anaknya Zainal.
Selanjutnya, rumah ini mengalami perpindahan kepemilikan hingga berada di tangan Agus Subiyanto.
Ketika dipimpin oleh orang Belanda, pekarangan sekitarnya bahkan berubah menjadi pasar setiap kali mereka menerima gaji, menandakan kemakmuran pemiliknya saat itu.
Namun, nama dan profesi orang Belanda yang pernah tinggal di sini masih menjadi misteri, dan tidak ada catatan pasti tentang kapan rumah ini dihuni atau kapan orang Belanda meninggalkan tempat tersebut.
Fondasi Bekas Bangunan Belanda
Sebagai tambahan, sekitar 10 meter sebelah timur Omah Demamit, terdapat fondasi bekas bangunan Belanda yang oleh masyarakat setempat disebut "loji".
Fondasi ini, sebagian tertutup oleh bangunan rumah penduduk saat ini, memiliki struktur bata kuno dengan undakan berplester bligon.
Ukuran struktur sisi barat panjang 18,7 m, sisi selatan 4,9 m, dan tebal 30 cm menunjukkan kekokohan bangunan Belanda pada masanya.
Omah Demit Klaten
Selain di Bantul ada juga rumah yang sejenis tetapi berlokasi di Klaten yang dikenal dengan nama Omah Demit.
Omah Demit yang berdiri kokoh di ujung bukit ini membawa kita pada jejak sejarah masa lalu.
Lokasi ini, dikenal sebagai Bukit Patrum Photorium, dahulu merupakan kawasan pertambangan kapur yang aktif pada zaman kolonial Belanda.
Bangunan ini, yang sekarang dijuluki Omah Demit, merupakan peninggalan bersejarah dari masa itu.
Meskipun bangunan ini terlihat jelas dari mata, kebanyakan warga setempat percaya bahwa memasuki rumah ini tidak sembarangan.
Faktanya, tak ada akses jalan yang menuju ke rumah tersebut, dan tempat ini tidak dapat diakses karena tidak tersambung dengan kawasan bukit di sekitarnya.
Menurut Kepala Desa Krakitan, Nurdin, dulu ada akses yang menyambungkan, tetapi karena faktor alam dan dampak dari kegiatan pertambangan, akses tersebut ambrol.
Hal ini membuat Omah Demit berdiri sendiri di atas bukit dengan dimensi tak lebih dari 2 x 2 meter.
Misteri yang Menyelimuti
Warga sekitar meyakini bahwa rumah ini dulunya digunakan untuk menyimpan dinamit, bahan peledak yang digunakan dalam kegiatan pertambangan kapur.
Sejak generasi ke generasi, nama Omah Demit atau Rumah Hantu melekat padanya.
Masyarakat setempat meyakini bahwa rumah ini bukanlah tempat tinggal biasa.
Menurut cerita warga, pada masa penjajahan Belanda, rumah ini digunakan untuk menyimpan dinamit yang digunakan dalam kegiatan penambangan.
"Bangunan bersejarah, peninggalan zaman penjajahan Belanda. Menurut kakek dan nenek kami, dulu diperuntukkan menyimpan dinamit (bahan dan peralatan peledak) pemecah batuan kapur," ujar Hardi, warga sekitar.
Omah Demamit dan Omah Demit merupakan bukti bangunan bersejarah yang sampai sekarang masih tetap bertahan dan memang perlu sekali kita jaga dan kita rawat.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 3LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 4UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 5Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 6Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 7Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 8CEK! Viral Pelari JRF 2026, Mengenal Flag-Off Time, Gun Time, dan Chip Time
- 9Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini
- 10GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital








