Jateng

Jejak Sejarah: Rumah Singgah Gerilya Jenderal Sudirman, Jadi Saksi Bisu Perjuangan Melawan Penjajah

Theo Adi Pratama | 18 Januari 2024, 11:00 WIB
Jejak Sejarah: Rumah Singgah Gerilya Jenderal Sudirman, Jadi Saksi Bisu Perjuangan Melawan Penjajah

AKURAT.CO Sejarah, Rumah milik mantan lurah Parangtritis Kapten Hadi Darsono, yang kini dikenal sebagai Rumah Singgah Gerilya Jenderal Sudirman, bukan sekadar struktur fisik.

Bangunan ini menyimpan sejarah megah perjuangan melawan penjajah, khususnya dalam rute gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Mari kita menjelajahi kebermaknaan dan keindahan warisan bersejarah ini.

Baca Juga: Perjalanan Kisah Banguan Bersejarah: Menapak Sejarah dan Kesejukan Kompleks Masjid Pathok Negoro Mlangi, Sleman Yogyakarta

Sejarah dan Pembangunan Rumah Singgah

Rumah ini dibangun sekitar tahun 1930-an oleh Jiwareja III, orangtua Kapten Hadi Darsono yang menjabat sebagai Ulu-Ulu.

Hadi Darsono, yang sebelumnya merupakan tentara PETA berpangkat Kapten, kemudian menjadi lurah Parangtritis yang pertama.

Rumah ini bukan hanya sebuah tempat tinggal; ia menjadi saksi bisu perjalanan Jenderal Sudirman dalam rute gerilya pada masa perjuangan kemerdekaan.

Peran Strategis dalam Gerilya Jenderal Sudirman

Rumah Singgah Gerilya Jenderal Sudirman memiliki peran strategis dalam perjuangan gerilya melawan tentara Belanda pada tahun 1948.

Ketika Yogyakarta diserbu oleh Belanda pada tanggal 19 Desember 1948, Jenderal Sudirman dan pasukannya memutuskan untuk meneruskan perjuangan dengan taktik gerilya.

Salah satu tempat yang menjadi markas malam Jenderal Sudirman adalah rumah Lurah Hadi Darsono di Desa Parangtritis.

Pada prasasti yang berdiri di depan rumah, tertulis kronologi peristiwa tersebut.

Pada tanggal 20 Desember 1948, Jenderal Sudirman meninggalkan Parangtritis menuju Panggang.

Selama perjalanannya, ia mengutus Kapten Suparjo dan Mayor Utoyo Kolopaking untuk mendahuluinya ke Wonosari guna menemui Kolonel Gatot Subroto.

Baca Juga: Peninggalan Sejarah: Transformasi Bangunan Eks Gedung DPRDGR Sleman Menjadi Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Arsitektur dan Komponen Bangunan

Rumah Singgah Gerilya Jenderal Sudirman memiliki arsitektur yang mencerminkan kekayaan budaya Jawa.

Bangunan ini menghadap ke selatan dan terdiri dari beberapa komponen utama, seperti pendopo, longkangan, dalem, dan pekiwan.

Setiap elemen bangunan ini memancarkan nuansa tradisional dan memperkuat atmosfer sejarah yang melekat di dalamnya.

Pelestarian dan Arti Penting

Penting untuk menjaga dan melestarikan Rumah Singgah Gerilya Jenderal Sudirman sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan sejarah Indonesia.

Bangunan ini bukan hanya sebagai objek wisata sejarah tetapi juga sebagai tempat yang mendidik, mengingatkan kita akan pengorbanan dan semangat juang para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Perjanjian Renville 76 Tahun yang Lalu, Jejak Perundingan yang Membentuk Nasib Indonesia

Rumah Singgah Gerilya Jenderal Sudirman di Parangtritis bukan sekadar bangunan bersejarah; ia adalah saksi bisu dari periode heroik perjuangan melawan penjajah.

Dengan keindahan arsitektur dan makna sejarah yang diusungnya, rumah ini menjadi tempat yang menginspirasi dan mengajak kita untuk menghargai perjalanan panjang menuju kemerdekaan Indonesia.

Melangkah ke dalamnya adalah seperti melangkah ke dalam lembaran hidup dan pengabdian para pahlawan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.